Kesaksian Anak Jenderal Ahmad Yani atas Tragedi G30S/PKI, Ayah Dibantai & Diseret

Penjelasan lengkap anak Jenderal Ahmad Yani atas tragedi G30S/PKI yang merenggut nyawa sang ayah.

Tantiya Nimas Nuraini
Oleh Tantiya Nimas Nuraini - Reporter
Kesaksian Anak Jenderal Ahmad Yani atas Tragedi G30S/PKI, Ayah Dibantai & Diseret
Kesaksian Lengkap Anak Jenderal Ahmad Yani. Instagram @jejaksoeharto ©2020 Merdeka.com

Tragedi G30S/PKI akan selalu dikenang oleh masyarakat Indonesia. Penyiksaan dan pembantaian para pahlawan revolusi memberikan luka mendalam bagi Tanah Air. Begitu pula yang dirasakan oleh keluarga terdekat, terlebih mereka juga menyaksikan dan mengalami langsung tragedi tersebut.

Salah satu korban kekejaman Partai Komunis Indonesia yakni Jenderal Ahmad Yani. Memperingati G30S/PKI, anak jenderal Ahmad Yani memberikan kesaksian lengkap atas tragedi yang merenggut nyawa sang ayah.

Penasaran dengan kesaksian lengkap anak Jenderal Ahmad Yani atas tragedi G30S/PKI? Melansir dari akun Instagram jejaksoeharto, Rabu (30/9/2020), simak ulasan informasinya berikut ini.

Melihat Langsung Tragedi G30S/PKI

Menjelang peringatan G30S/PKI, sebagian besar media kembali mengenang tragedi mematikan tersebut. Banyak tayangan-tayangan terkait G30S/PKI disiarkan di layar kaca. Melihat hal tersebut, anak Jenderal Ahmad Yani merasa berbeda sebab dia melihat langsung tragedi yang merenggut nyawa sang ayah.

"Saya lihat ILC ya kemarin, tidak ada penyiksaan apa segala macam. Di sini saja sudah kaya gitu Mas, iya kan? Loh saya (anak Jenderal Ahmad Yani) lihat langsung iya kan? Eddy lihat langsung, kakak-kakak saya yang perempuan juga lihat langsung," kata Untung Mufreni Yani, anak Jenderal Ahmad Yani.

"Cuma waktu penembakan memang saya sama Eddy, setelah penembakan itu karena suaranya keras bangun kakak saya semua. Saya masuk ke kamar mau bangunin tetapi yang keluar ibu Juwi duluan, kami kejar mas dari belakang," sambungnya.

Diseret Seperti Binatang

Anak-anak Jenderal Ahmad Yani juga merasakan adanya perbedaan di antara film dengan kenyataan yang ada. Sebab, saat itu sang ayah benar-benar diseret oleh PKI. Bahkan mereka menyebutnya diseret seperti binatang. "Kalau di film pun itu masih lebih bagus mas gitu ya. Diangkat, kaki diseret tangan diseret. Kalau waktu itu Mas, enggak ada yang mengangkat tangannya. Siapa? Orang diseret kaya seret binatang, enggak ada mas," jelasnya.

"Diseret sampai luar, dilemparkan sampai ke dalam bis kalau enggak salah. Almarhum itu dilempar ke dalam bis, setelah itu berangkat mereka. Sudah, kami tunggu. Nah waktu kamu kejar sampai di luar di belakang situ, mohon maaf mas saya agak," ungkap Untung, anak Jenderal Ahmad Yani yang tak bisa menyelesaikan ceritanya karena menahan emosi dan air mata.

Sakit Hati Melihatnya

Eddy, anak Jenderal Ahmad Yani lainnya menerangkan lebih dalam bila sang ayah dalam posisi terlentang saat diseret. Jika mengingat kejadian itu, rasa sedih, maran dan benci masih sangat dirasakan."Jadi setelah kita mengikuti Almarhum bapak yang diseret gitu, kaki di atas ya tangan itu semua (ke atas). Bapak itu dalam keadaan terlentang begitu, ditarik," sambung Eddy, anak Jenderal Ahmad Yani lainnya.

"Saya enggak suka mas lihatnya. Ada orang bilang, tidak ada penyiksaan, tidak ada apa gitu. Tetapi itu bohong semua Mas, kami yang lihat di sini. Kami yang alami ya, kami yang alami. Jadi gimana kita enggak sakit hati, timbul lagi sakit hati kalau lihat orang ngomong nya kaya gitu. Karena kami yang mengalami," ucapnya sambil berurai air mata.

September Selalu Kelam

Tragedi yang mengambil sosok ayah bagi mereka itu tentu memberikan luka mendalam. Bahkan, mereka pun masih memiliki trauma akan tragedi tersebut. Parahnya, di setiap bulan Seperti datang, mereka akan selalu mengingat dan merasa sedih."Orangtua kami, ayah kami yang kami sangat cintai itu diseret-seret ke luar. Enggak bisa Mas, saya enggak bisa terima. Mohon maaf, saya setiap kali diwawancara memang gini mas. Setiap September, kami punya perasaan sendiri mas, kami tidak bisa terus lupa gitu. Enggak mungkin mas, karena ini yang kita alami. Coba tanya sama kakak saya, setiap September kita tidak merasa senang. Enggak ada, enggak ada, selalu dalam keadaan yang sedih karena kita akan ingat terus, ingat terus," ungkapnya.

"Kami kejar ayah kami ke luar situ sampai pintu belakang. Itu satu orang sudah siap di depan, di depan kami, kami buka pintu dia bilang, 'Siapa yang keluar, kami tembak'. Masih kecil-kecil mas, kami," tandasnya.

Rekomendasi