Donald Trump Putuskan Batal Perang dengan Iran, Ini Alasannya

Donald Trump memutuskan untuk mundur dari konfrontasi militer lebih lanjut dengan Iran.

Tantiya Nimas Nuraini
Oleh Tantiya Nimas Nuraini - Reporter
Donald Trump Putuskan Batal Perang dengan Iran, Ini Alasannya
Pidato Donald Trump. theguardian.com ©2020 Merdeka.com

Hubungan Iran dan Amerika Serikat belakangan ini kembali memanas. Ketegangan terus meningkat kala Amerika Serikat membunuh Jenderal Qassem Soleimani dengan serangan pesawat tanpa awaknya. Mengetahui hal itu, Iran mengibarkan bendera merah yang berarti seruan balas dendam kepada Amerika Serikat khususnya Donald Trump.

Setelah pemakaman sang jenderal, Iran langsung meluncurkan serangan balik ke pangkalan militer Amerika Serikat di Irak. Adanya serangan balik yang dilakukan oleh Iran membuat pihak Amerika Serikat khususnya Donald Trump menjadi berpikir mengenai ancaman perang.

Lantas bagaimana tanggapan Donald Trump mengenai ancaman perang yang tengah digemborkan oleh seluruh dunia? Berikut ulasan informasi yang dihimpun dari The Guardian di bawah ini.

Setelah beberapa hari meningkatkan ketegangan, Donald Trump memutuskan untuk mundur dari konfrontasi militer lebih lanjut dengan Iran.

Pernyataan itu disampaikannya langsung pada Rabu (8/1) di Grand Foyer of the White House. Diapit oleh wakil presiden, Mike Pence dan pejabat militer lainnya, Donald Trump menyampaikan pidatonya beberapa jam setelah Iran membalas serangan AS.

Salah satu alasan Trump atas keputusannya itu karena Iran telah terlebih dahulu menunjukkan sikap mundur."Iran tampaknya akan mundur, yang merupakan hal baik untuk semua pihak terkait dan hal yang sangat baik bagi dunia," ungkap Trump sembari membaca isi pidatonya dari teleprompters. Lebih lanjut Presiden Amerika Serikat ini mengatakan, tidak ada nyawa orang Amerika dan Irak yang hilang lagi karena tindakan pencegahan yang diambilnya. Tak hanya itu, Trump juga meyakini bila Amerika Serikat memiliki sistem penyebaran pasukan dan sistem peringatan dini yang sangat baik.

Kendati begitu, Jenderal Mark Milley, ketua kepala staf gabungan mengatakan, serangan rudal yang terjadi di pangkalan militer dimaksudkan untuk merenggut nyawa personel Amerika dan sekutu. Terlebih gambar satelit menunjukkan rudal balistik Iran menghancurkan bangunan di pangkalan al-Asad di Provinsi Anbar.

"Saya percaya, berdasarkan apa yang saya lihat dan yang saya tahu, mereka dimaksudkan untuk menyebabkan kerusakan struktural, menghancurkan kendaraan, peralatan, pesawat terbang dan membunuh personel. Itu penilaian pribadi saya sendiri," kata Milley seperti yang dikutip dari The Guardian, Rabu (9/1).

Pangkalan udara Al-Asad di Provinsi Anbar mendapatkan setidaknya 17 kali serangan dari Iran, pada Rabu (8/1). Menurut pemerintah Irak, angka tersebut sudah termasuk dua rudal balistik yang gagal meledak. Sementara, lima rudal lainnya menyerang pangkalan di kota utara Erbil. Serangan ini berlangsung mulai pukul 01.30 pagi waktu setempat."Pangkalan udara Al-Asad di Provinsi Anbar, Irak dipukul 17 kali (serangan), termasuk oleh dua rudal balistik yang gagal meledak," ungkap pemerintah Irak yang dikutip dari The Guardian.Menanggapi hal itu, Duta Besar Iran untuk PBB, Majid Takht Ravanchi menggambarkan serang tersebut sebagai upaya pertahanan diri yang terukur dan proporsional. Tindakan pertahanan diri ini juga berdasarkan Piagam PBB. Ravanchi juga menambahkan, tindakan tersebut tidak mengartikan Iran mencari eskalasi atau perang dengan Amerika Serikat.

Terlepas dari itu semua, masyarakat justru menyoroti isi pidato Donald Trump. Mereka merasa pidato Presiden Amerika Serikat ini lebih bijaksana dibanding dengan cuitannya di Twitter. Ya, Donald Trump memang diketahui menuliskan beberapa cuitan kasar di Twitter setelah terbunuhnya Soleimani.

Salah satunya, Trump mengancam hendak meluncurkan serangan bom di situs budaya Iran. Ini merupakan salah satu wujud adanya potensi kejahatan perang. "Amerika Serikat akan terus mengevaluasi opsi (menanggapi agresi Iran) dan sanksi tambahan terhadap rezim Iran akan dijatuhkan," papar Donald Trump dalam pidatonya.

Presiden Donald Trump juga menekankan kekuatan militer Amerika Serikat yang begitu besar. Meski begitu, Trump mengatakan jika pemerintahannya tidak mencari konflik. "Rudal kami besar, kuat, akurat, mematikan dan cepat. Dalam pembangunan, banyak rudal hipersonik. Fakta bahwa kita memiliki peralatan dan militer yang hebat itu, bagaimanapun, itu tidak berarti kita harus menggunakannya. Kami tidak ingin menggunakannya," sambung Presiden Amerika Serikat ini.

Hassan Rouhani selaku Presiden Iran mengungkapkan jawaban terakhirnya atas pembunuhan Jendral Qassem Soleimani. Presiden Iran ini mengatakan akan mengusir semua pasukan Amerika Serikat untuk keluar dari wilayahnya.

Sementara, Pemimpin tertinggi Iran, Ali Khamenei, lebih menggambarkan serangan balik itu sebagai 'tamparan di wajah' bagi Amerika Serikat. Khamenei juga memperingatkan, Teheran masih mempunyai tujuan yang lebih luas dalam mengusir musuh dari wilayah tersebut.

Masih dalam pidatonya, Donald Trump, Presiden Amerika Serikat bersumpah untuk tidak mengizinkan Iran memperoleh senjata nuklir. Tak hanya itu, Donald Trump juga mendesak negara-negara dunia untuk berhenti dari perjanjian nuklir 2015 dengan Iran."Sudah tiba waktunya bagi Inggris, Jerman, Prancis, Rusia, dan China untuk mengakui kenyataan ini. Mereka sekarang harus melepaskan diri dari sisa-sisa kesepakatan Iran atau JCPOA." papar Donald Trump dalam pidatonya kemarin.

Setelah lepas dari perjanjian lama, Trump ingin membuat sebuah kesepakatan baru yang disetujui oleh negara-negara tersebut. Kesepakatan baru ini nantinya diharapkan bisa membuat dunia menjadi lebih damai dan aman.

"Dan kita semua harus bekerja sama untuk mencapai kesepakatan dengan Iran, yang membuat dunia menjadi tempat yang lebih aman dan damai," pungkas Donald Trump.

Rekomendasi