Prajurit Provost Istana Langit dikenal dengan keakrabannya satu sama lain. Meski berbeda pangkat hingga usia, kehangatan mereka justru begitu tampak ketika sedang berkumpul bersama.
Seperti dalam video yang diunggah kanal YouTube AL VIGEST belum lama ini saat para jajaran Provost tengah bersantai di malam hari sembari bersenda gurau bersama.
Dalam video tersebut, seorang prajurit Provost yang akrab disapa Mas Opan baru saja menangkap seekor satwa endemik Indonesia Timur yaitu Kuskus. Prajurit itu memasukkan kuskus ke dalam tas selempangnya dan memperlihatkan kepada rekan-rekannya yang lain.
Alhasil temuannya itu menjadi perhatian prajurit lainnya yang heran dengan tingkah Mas Opan.
Advertisement
Mas Opan membawa seekor kuskus di dalam tasnya untuk diperlihatkan kepada rekan-rekannya. Menurut penuturannya, satwa itu masih berusia anak-anak.
"Coba buka (tas), mati tuh kalau kau tutup mati itu. Coba lihat oh masih anak-anakan," kata prajuri lain.
Bentuk hewan tersebut menyerupai tikus, namun memiliki ukuran yang jauh lebih besar dan bertubuh bulat.
"Astaga mana lihat apa ini kuskus namanya. Ini sejenis kuskus kalau di Amerika tuh itu dia punya buntut," ucap Mas Opan.
Saat dimasukkan ke dalam tas, hewan itu tengah dalam posisi tertidur. Ukurannya juga terbilang besar meski masih anakan.
"Coba angkat dulu dia gigit kah takut juga ini tidur apa ya. Ini bisa ditaruh dalam tas itu," kata prajurit lainnya.
Advertisement
Menurut informasi, Kuskus merupakan satwa langka yang dilindungi oleh pemerintah. Satwa ini diatur dalam UU. No 7 Tahun 1999 dan dilarang diperjualbelikan.
Meski begitu, para prajurit TNI tersebut sempat-sempatnya bercanda bak negosiasi harga barang. Bahkan Mas Opan sampai menyebut angka kuskus jika tertarik untuk membelinya.
"Nego nego berapa harga orang yang mau beli berapa? Berapa orang mau beli di kapal maksudnya kalau orang mau beli," kata prajurit lain.
"Tidak dijual!" balas Opan.
"Dijual berapa?" sambung prajurit Istana Langit.
"Bisa itu 500," balas Mas Opan dengan nada candaan.
Adapun Kuskus sendiri boleh dimanfaatkan jika berasal dari penangkaran dan hasil keturunan generasi ketiga serta tidak berasal dari tangkapan alam.