Letnan Jenderal (Letjen) Purn Sarwo Edhie Wibowo memiliki nama besar di lingkungan TNI Angkatan Darat (AD).
Sarwo Edhie merupakan salah satu tokoh Komando Pasukan Khusus (Kopassus) yang dahulu bernama Resimen Para Komando Angkatan Darat (RPKAD).
Sosoknya menjadi vital lantaran disebut memegang peran penting saat penumpasan pemberontakan G30S/PKI saat menjabat sebagai Panglima RPKAD.
Keberhasilannya itu yang menjadi titik balik perjalanan kariernya sebagai seorang perwira TNI AD.
Salah satu foto masa mudanya dengan baret merah Kopassus sempat diunggah di akun Instagram @arsip_indonesia beberapa waktu lalu.
Advertisement
Sosoknya disebut-sebut mirip dengan sang cucu sekaligus putra dari Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY), Agus Harimurti Yudhoyon (AHY) oleh warganet.
Seperti apa informasi selengkapnya? Simak berikut ini.
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Meski karier sang cucu di TNI AD tak sepanjang dirinya, namun paras gagahnya tetap menurun ke wajah AHY secara sekilas.
Berikut beberapa sorotan dari warganet via kolom komentar unggahan.
"Kok mirip banget sama mas AHY," tulis akun @mahbub_aulia
"Mirip banget ama AHY," komentar akun @g.taffarel
"Wah mirip banget dengan mas AHY," komentar akun @oktavi790
"Cucunya mirip banget sama almarhum," komentar akun @ilhamwm_itu_nanang
"Mirip banget sama @agusyudhoyono," komentar akun @nenglia.ishadi
Advertisement
Advertisement
Sarwo juga merupakan mertua dari Presiden ke-6 Indonesia, Susilo Bambang Yudhoyono sekaligus ayah dari mantan ibu negara Kristiani Herrawati.
Sosok purnawirawan jenderal bintang tiga itu di lingkungan TNI cukup mentereng terlebih pada periode 1960-an.
Sarwo memiliki peran besar dalam penumpasan Pemberontakan Gerakan 30 September yang pada saat itu dirinya menjabat sebagai Komandan RPKAD (Kopassus).
Advertisement
Selama menjadi perwira, Sarwo Edhie kenyang memegang jabatan penting. Selain Komandan RPKAD (1964-2967), Sarwo diangkat menjadi Pangdam II/Bukit Barisan (1967), Pangdam XVII/Cenderawasih (1968) dan Gubernur AKABRI (1970).
Selain di militer, ia juga sempat ditunjuk menjadi Duta Besar Indonesia untuk Korea Selatan pada tahun 1973 di bawah pemerintahan Presiden Soeharto.
Sarwo Edhie menghembuskan napas terakhir pada 9 November 1989 di usia 64 tahun karena sakit. Ia pun dimakamkan di tanah kelahirannya di Purworejo, Jawa Tengah.
Advertisement