Perjalanan Adik Asuh Kasad Dudung, Mayor Ahmad Bin Muhammad Assegaf Sampai Masuk TNI

Mayor Infanteri Sayyid Ahmad Assegaf merupakan adik asuh Kepala Staf TNI Angkatan Darat (Kasad) Jenderal TNI Dudung Abdurachman. Semenjak dirinya masih berada di tingkat satu Taruna Akademi Militer, Magelang, Jawa Tengah hingga saat ini. Mayor Ahmad menceritakan alasan kenapa dia bergelut dan berkarier di militer.

Kurnia Azizah
Oleh Kurnia Azizah - Reporter
Perjalanan Adik Asuh Kasad Dudung, Mayor Ahmad Bin Muhammad Assegaf Sampai Masuk TNI
Mayor Inf Ahmad Assegaf Adik Asuh Kasad Jenderal Dudung. kanal YouTube Status Channel ©2022 Merdeka.com

Mayor Infanteri Sayyid Ahmad Assegaf merupakan adik asuh Kepala Staf TNI Angkatan Darat (Kasad) Jenderal TNI Dudung Abdurachman.

Saat ini, Ahmad mengemban jabatan sebagai Wakil Komandan Batalyon Infanteri 753 (Wadanyon) 753/Arga Vira Tama atau Yonif 756/AVT, Manokwari, Papua.

Sudah 16 tahun Mayor Ahmad mengabdi sebagai tentara. Dalam perbincangannya bersama Habib Husein bin Hasyim bin Toha Baagil, Mayor Ahmad menceritakan alasan kenapa dia berkarier di militer.

Berikut kisah adik asuh Kasad Dudung, Mayor Ahmad sampai bisa masuk TNI, seperti dihimpun dari kanal YouTube Arridwan Tuban Official, Kamis (14/7).

Dikode Ayah Daftar Taruna Akmil

Mayor Inf Ahmad Bin Muhammad Assegaf merupakan putra dari Muhammad bin Hamid Assegaf asal Pekalongan, Jawa Tengah.

Rupanya kecintaan terhadap TNI, sudah dipendam sejak lama oleh sang ayah. Semasa muda, ia tak diizinkan keluarga untuk menjadi tentara.

"Kebetulan keluarga kami ini tak ada yang militer bib. Sama sekali tidak ada. Cuma saya punya abah ini kebetulan beliau dulu pernah daftar TNI saat muda. Abah memang dari dulu sangat cinta TNI bib, ingin masuk. Tapi anak enggak pernah dikasih tahu," papar Ahmad.

Seakan sebuah kode yang disampaikan sang ayah. Ahmad diberi brosur mengenai pendaftaran Akmil.

"Tapi pada saat itu, tiba-tiba abah pulang dari kantor membawa brosur Akmil bib, ngasih ke saya, terus saya lihat, apa ini bah?," imbuhnya.

Meneruskan Cita-Cita Ayah

Cita-cita ayahnya tersebut lantas pupus. Alhasil ditanamkan kepada Ahmad sebagai anak laki-laki semata wayangnya agar mau jadi prajurit TNI.

Kala itu, ayah Mayor Ahmad dilarang mendaftar karena anak laki-laki sendiri di rumah.

"Ini pendaftaran Akademi Militer, dulu abah pengen masuk sini, tapi enggak bisa. Karena dulu alasannya anak tunggal, kemudian anak laki satu-satunya itu tidak boleh," cerita Ahmad menirukan ayahnya.

Akhirnya, Ahmad yang ingin bisa menjadi anak berbakti mencoba mengikuti perintah sang ayah untuk mendaftar.

"Zaman dulu mungkin peraturannya seperti itu kata abah. Akhirnya abah memerintahkan saya untuk ikut. Namanya kita ini akan berbakti sama orangtua, harus manut apa kata abah," tuturnya.

Awal Daftar

Mayor Ahmad muda memberanikan diri pergi sendiri ke markas TNI di Cijantung, Pasar Rebo, Jakarta Timur, untuk mendaftar ke Akmil.

"Kita ikut daftar. Kebetulan kita daftar dulu di Cijantung bib. Pendaftaran pada saat tahun 2005. Saya mendaftar, di situ saya bingung ini harus menghadap kemana, terus siapa saya temui, bingung bib," ujar Ahmad.

Lantaran paras dan posturnya yang besar, Ahmad pun disangka orang Arab. Tapi ia membalas bahwa dirinya berdarah Indonesia.

"Akhirnya bertemu sama Provost, Kopral Kepala. 'Mau kemana dik?' Saya mau daftar pak, saya bilang. 'Kamu asli mana? Kamu Arab ya?'. Iya pak, saya Indonesia. Akhirnya beliau arahkan kami ke dalam bertemu staffnya," sambungnya.

Dibuatkan Tempat Latihan Pribadi

Sang ayah begitu memotivasi Ahmad agar bisa lolos ke Akmil. Baik dari semangat kata-kata, doa hingga ditemani latihan bersama.

"Alhamdulillah seiring berjalannya waktu, kami lolos mengikuti tes, mulai dari administrasi kemudian jasmani, kemudian mental, psikologi, ideologi, luar biasa berat. Tapi itu semua berkat doa orangtua juga," ungkap Ahmad.

Selain itu, Ahmad sampai dibuatkan tempat latihan khusus di rumahnya.

"Yang luar biasa dari abah saya, setiap subuh membangunkan, diajak jogging, lari pagi pada saat mau tes kesegaran jasmani. Kami diajak keliling. Kemudian dibuatkan tempat latihan di rumah," tambahnya.

Kaget dengan Pendidikan Militer

Begitu besar dukungan yang dicurahkan sang ayah. Hal itu lantas membuat Ahmad juga kian bersemangat. Karena ia mengaku takut, jika kelak menyakiti hati orangtua dengan kegagalannya.

"Abah sangat bersemangat sekali. Jadi dalam hati kecil saya, sangat tidak tega jika tidak masuk (Akmil). Jadi kita harus berusaha maksimal, mempersiapkan, tidak mau menyakiti hati orangtua," katanya.

Bahkan uniknya lagi, Ahmad sempat mengaku terkejut dengan sistem pendidikan militer. Apalagi selama ini dirinya tak pernah pisah dengan orangtua.

"Mungkin karena doa orangtua akhirnya lulus masuk Akademi Militer tahun 2005. Terus terang kami kaget pada saat pendidikan. Karena tidak pernah jauh dari orangtua dan tidak pernah ada bayangan dengan militer," pungkas Ahmad.

Rekomendasi