Menguak Isi Perjanjian Kemitraan Strategis Rusia-Iran, akankah Kremlin Bantu Teheran Lawan AS-Israel?

Rusia dan Iran ternyata memiliki perjanjian kemitraan yang ditandatangani sejak Januari 2025, apa isinya?

Khulafa Pinta Winastya
Oleh Khulafa Pinta Winastya - Reporter
Menguak Isi Perjanjian Kemitraan Strategis Rusia-Iran, akankah Kremlin Bantu Teheran Lawan AS-Israel?
Vladimir Putin dan Masoud Pezeshkian (merdeka.com)

Keterlibatan Amerika Serikat (AS) dalam pusaran konflik antara Iran vs Israel dinilai bisa menyeret Rusia untuk ikut berperang. Sebab, Iran dan Rusia merupakan dua negara yang sudah lama bersekutu.

Menteri Luar Negeri Iran, Abbas Aragachi, bahkan melakukan kunjungan mendesak ke Moskow untuk bertemu langsung dengan Presiden Rusia Vladimir Putin pada Minggu, 22 Juni 2025 kemarin di tengah situasi yang tengah memanas di negaranya.

Diketahui, jika Iran dan Rusia sebenarnya memiliki perjanjian kemitraan yang sudah ditandatangani oleh kedua negara tersebut sejak bulan Januari lalu. Lalu, apa saja sebenarnya isi perjanjian tersebut? Akankah Rusia membantu Iran melawan Israel-As? Simak ulasan selengkapnya:

Sebelumnya, Presiden Rusia Vladimir Putin dan Presiden Iran Masoud Pezeshkian pernah menandatangani Perjanjian Kemitraan Strategis Komprehensif Rusia-Iran pada 17 Januari 2025.

Perjanjian tersebut membahas berbagai masalah yang mencakup peningkatan kerja sama pertahanan, pembagian intelijen, penggunaan dan kerja sama energi nuklir, serta dukungan transportasi sekaligus pengembangan Koridor Transportasi Utara-Selatan Internasional (INSTC).

Dalam klausul tersebut juga menetapkan bahwa tidak diperbolehkan mengizinkan pihak ketiga menggunakan wilayah mereka untuk mengancam keamanan pihak lain di antara bidang-bidang ekonomi dan sosial kemitraan lainnya.

Perjanjian bilateral itu dapat menjadi dasar bagi Rusia untuk membangun pusat pengisian bahan bakar pesawat dan kehadiran angkatan laut di Iran. Terutama karena jatuhnya rezim sekutu Rusia di Suriah yakni Bashar al-Assad dan memudarnya pengaruh Rusia secara keseluruhan di Timur Tengah mengancam keberadaan pangkalan dan aset utama Rusia di Suriah.

Hanya saja, dalam perjanjian Iran-Rusia ternyata tidak memuat klausul pertahanan bersama seperti yang disepakati oleh Rusia-Korea Utara pada tahun 2024. Namun, isi dalam perjanjian mengatakan jika satu negara diserang, negara lain tidak boleh memberikan bantuan militer atau bantuan lainnya kepada penyerang.

Sebagai informasi, jika Putin dan pemimpin Korea Utara Kim Jong Un menandatangani perjanjian kemitraan strategis komprehensif di Pyongyang pada 19 Juni 2024. Di dalam isi perjanjian tersebut secara jelas memuat klausul pertahanan bersama jika terjadi agresi terhadap salah satu negara.

Kim menyatakan "dukungan tanpa syarat" untuk semua kebijakan Rusia, termasuk dukungan penuh dan aliansi yang kuat untuk perang Rusia di Ukraina. Putin mengatakan Rusia akan membantu Korea Utara membangun satelit.

Tidak adanya klausul soal pernyataan 'bantuan serangan' dalam perjanjian Rusia-Iran kemudian memunculkan pertanyaan apakah Kremlin akan membantu Teheran melawan Israel-AS?

Sebab, secara tertulis Rusia sebenarnya tidak memiliki kewajiban untuk membantu Iran saat mendapat serangan musuh seperti saat ini.

Melansir dari laman bcfausa, disebutkan jika tidak dimuatnya klausul soal pertahanan dalam perjanjian karena Rusia kemungkinan tidak memiliki kapasitas militer dan industri pertahanan untuk mendukung operasi militer yang signifikan.

Putin kemungkinan waspada terhadap keterlibatan Rusia yang intensif di Timur Tengah setelah kekalahan politik strategis Rusia di Suriah menyusul runtuhnya rezim Assad. Rusia sendiri telah memanfaatkan hubungan militer-teknisnya dengan Iran sejak 2022 tanpa perjanjian kemitraan strategis.

Seperti diketahui, keterlibatan AS dalam perang Israel vs Iran membuat situasi di Timur Tengah semakin memanas. Iran langsung melancarkan serangan balas dendam usai militer Amerika Serikat (AS) membombardir 3 pusat nuklir: Fordow, Natanz, dan Isfahan.

Menurut laporan, roket dan pecahan peluru Iran jatuh di 10 lokasi di Israel. Lokasi tersebut termasuk Carmel, Haifa, wilayah Tel Aviv, dan dataran pantai utara, dikutip dari Aljazeera, Minggu (22/6/2025).

Kerusakan parah terjadi utamanya di Tel Aviv dan Haifa. Militer Israel mengatakan Iran meluncurkan dua serangan dengan total 27 rudal: 22 rudal pada serangan pertama dan 5 rudal pada serangan kedua.

Rekomendasi