Di balik keheningan alam kubur, terdapat cerita-cerita menyedihkan yang menggugah perasaan dan mendorong kita untuk merenungkan makna pentingnya hubungan antara orang tua dan anak. Salah satu kisah yang menarik perhatian adalah mengenai ahli kubur yang terus menerus menerima hadiah bacaan Al-Qur'an dari anaknya.
Cerita ini mengingatkan kita akan pentingnya berdoa dan menjaga silaturahmi kepada orang tua yang telah berpulang, serta menunjukkan betapa besar dampak tindakan anak terhadap kondisi orang tua di alam kubur.
Ketika anak-anak terlalu terfokus pada kesibukan duniawi dan melupakan tanggung jawab untuk mendoakan orang tua yang telah meninggal, ahli kubur tersebut harus menanggung kesedihan dan kepedihan yang mendalam.
Berikut ulasannya dirangkum dari laman NU Online, Kamis (20/6/2025).
Advertisement
Dalam bukunya yang berjudul Irsyad al-'Ibad (hal. 33), Syekh Zainuddin al-Malaibari menceritakan tentang seorang pria yang bermimpi melihat beberapa ahli kubur yang keluar dari tempat peristirahatan mereka. Mereka tampak sibuk mengumpulkan sesuatu, meskipun tidak diketahui apa yang mereka ambil. Sang pria merasa heran dengan pemandangan tersebut, dan ketika keheranannya belum sirna, ia melihat seorang ahli kubur yang duduk dan tidak ikut mengumpulkan barang bersama yang lainnya. Ia pun menghampiri dan bertanya, "Apa yang sedang dipunguti mereka?"
Ahli kubur yang duduk itu menjawab, "Kebaikan yang berasal dari bacaan Al-Qur'an, sedekah, dan doa yang dihadiahkan kaum Muslimin untuk mereka."
Pria itu kembali bertanya, "Lantas mengapa engkau tak ikut memungutinya?" Ahli kubur itu menjawab, "Aku sudah cukup."
Ia penasaran dan bertanya lagi, "Karena apa engkau tidak memerlukannya?" Ahli kubur tersebut menjelaskan, "Dengan khatam Al-Qur'an yang dilakukan dan dihadiahkan oleh anakku setiap hari. Anakku ada di pasar ini dan berjualan zalabiyah (sejenis makanan ringan berbahan tepung dan telur)."
Keesokan paginya, setelah terbangun, ia langsung menuju pasar yang disebutkan oleh ahli kubur dalam mimpinya semalam. Benar saja, di sana ia menemukan seorang pemuda yang menjajakan zalabiyah sambil terus-menerus menggerakkan bibirnya. Ia pun bertanya kepada pemuda itu, "Mengapa engkau tak henti menggerakkan kedua bibirmu?"
Pemuda itu menjawab, "Aku sedang membaca Al-Qur'an lalu menghadiahkannya kepada ayahku yang sudah di alam kubur."
Beberapa waktu kemudian, pria itu bermimpi lagi melihat beberapa ahli kubur keluar dari kuburnya, mirip dengan mimpinya yang sebelumnya. Namun, kali ini ia merasa heran karena ahli kubur yang sebelumnya tidak ikut mengumpulkan, kini turut serta bersama yang lainnya. Begitu terbangun, ia segera pergi ke pasar untuk mencari tahu tentang pemuda yang biasanya berdagang zalabiyah sambil membaca Al-Qur'an. Sayangnya, ia mendapati bahwa pemuda tersebut kini telah meninggal.
Advertisement
Dari kisah yang telah diceritakan, kita dapat mengambil beberapa pelajaran penting. Pertama, kebaikan yang diberikan oleh umat Muslim kepada para ahli kubur, baik itu melalui bacaan Al-Qur'an, doa, maupun sedekah, ternyata dapat sampai kepada mereka. Selain itu, kebaikan yang diberikan seorang anak kepada orang tuanya yang telah meninggal juga memiliki dampak yang serupa.
Misalnya, bacaan Al-Qur'an yang dilakukan oleh anak muda dalam cerita tersebut menjadi contoh nyata. Kebaikan yang diberikan oleh seorang anak, kerabat, atau siapa pun kepada orang yang sudah tiada dapat membantu meringankan beban mereka yang telah meninggal. Hal ini sejalan dengan apa yang disampaikan oleh Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam, bahwa salah satu kebaikan yang terus mengalir meskipun seseorang telah berpulang adalah doa dari anak yang saleh. Jika tidak ada lagi yang mendoakan, maka aliran kebaikan itu pun akan terhenti, seperti halnya berhentinya kebaikan dari si anak muda yang membaca Al-Qur'an karena ia telah meninggal. Wallahu a'lam.
Penulis: Khazim Mahrur / Madrasah Diniyah Miftahul Huda 1 Cingebul
Advertisement