Seorang wanita yang diketahui berasal dari Yogyakarta membagikan pengalamannya selama menjadi transmigran di Kalimantan.
Dalam unggahan video milik kanal YouTube Putri Tunggal84, wanita tersebut menjelaskan tantangan berat yang sering dijumpai terutama yang berhubungan dengan alam.
Berada disekeliling sungai membuat rumahnya sangat rawan diterjang banjir hingga tak jarang diancam hewan buas seperti buaya.
Alasan itu yang membuatnya takut untuk memelihara hewan ternaka lantaran pengalaman ternaknya sering habis akibat buaya. Seperti apa kisah selengkapnya? Simak ulasan berikut ini.
Advertisement
Dalam penuturannya, ia sudah 8 tahun melakukan transmigrasi sejak 2016 lalu. Beragam pengalaman telah banyak dilaluinya selama tinggal di Kalimantan.
Salah satunya keberadaan hewan buas seperti buaya hingga biawak yang tak jarang memangsa hewan ternaknya seperti ayam.
"Dulu aku miara ayam. Habis itu ayamnya hilang satu persatu. Nah, alhamdulillahnya sekarang enggak miara lagi," jelasnya.
Ia menceritakan bahwa dahulu ia memelihara hewan ternak untuk dimanfaatkan saat kebutuhan pangan menipis. Alih-alih dimanfaatkan, ia justru harus berbagi dengan buaya.
"Jadi pertama dulu datang ke sini miara lumayan kan kalau ada piaraan enggak ada lauk bisa entah ayam itu bisa diambil telurnya. Kalau mendadak enggak ada apa-apa bisa dipotong gitu kan. Semenjak ada pengalaman masuk-masuk terus buayanya makani terus," sambungnya.
Karena merasa rugi, ia akhirnya berhenti memlihara ayam karena selalu rebutan dengan buaya.
"Kita yang kalah kita yang miara tapi buayanya yang kenyang jadi berhenti sudah."
"Iya buaya, biawak. Salah satu kendala warga trans di sini yang sangat sulit sekali untuk menghadapinya," tandasnya.
Advertisement
Selain hewan buas, ia mengatakan tak jarang bencana banjir juga menenggelamkan rumahnya. Terlebih tanggul sungai di depan rumahnya tak terlalu tinggi.
"Kalau pas lagi puncaknya sampai tanggul ini tenggelam," ucapnya.
"Ini masih tenggelam ya?" kata perekam video.
"Iya, masih tenggelam. Belum pas lagi puncaknya puncaknya," balasnya.
Akibat banjir yang melanda, tak jarang aktivitasnya dan keluarganya menjadi lumpuh. Bahkan sang anak harus libur sekolah lantaran tak bisa keluar rumah.
"Menunggu surut dulu. Enggak keluar-keluar sebelum pasang. Makanya kadang kadang anak mau sekolah pun kan dari sini sampai ke sana jauh tuh."
"Lumayan rimbun juga yang rumah-rumahnya kosong. Jadi takutnya ada hewan atau apa kan. Ya sudah belajar di rumah saja gak usah sekolah begitu aja," tandasnya.
Anaknya harus rela belajar sendiri di rumah karena kondisi jalanan yang terendam banjir sehingga sulit untuk dilewati.
"Sudah jamnya berangkat tapi air belum surut. Ya udah belajar di rumah aja bocil-bocil gitu karena jalan masih terendam," jelasnya.
Advertisement
Wanita tersebut mengaku kesulitan dalam bertani. Bahkan ia hanya bisa menanam padi sekali dalam setahun karena kondisi lahan yang tidak memungkinkan.
"Alhamdulillah hanya bisa padi sekali setahun. Hm. Heeh. Menanam sayur, menanam cabai enggak bisa. Terkecuali ada tanggul khusus yang baguslah. Heeh," ucapnya
Lebih lanjut, ia pernah mencoba membuat tanggul secara manual namun tidak berhasil karena kekurangan sumber daya.
"Pernah uji coba tanggul karena kan di sana juga dulu ditutup. Ada kemajuan sedikit tapi gara-gara hanya tenaga manual (manusia) jadi ya begitulah enggak bertahan lama."
"Jadi setiap ada gotong-royong lama-lama capek juga. Jadi ujung-ujungnya berhenti," sambugnnya.
Masalah terbesarnya tiba saat air sedang pasang sehingga merusak tanggul yang perlahan terkikis. Alhasil tanggulnya tetap putus dan harus diperbaiki secara rutin.
"Pasang tinggi terkikis, habis lagi, tanggul lagi, habis lagi jadinya akhirnya tidak tidak di apa tidak ditanggul berhenti tapi tidak putus. Artinya tetap putus walaupun bagaimana dikerjakan tapi tetap tidak mampu karena debit air terlalu banyak," jelasnya.
Karena kondisi air yang sering meluap, tak jarang banyak hewan buas muncul seperti ular dan buaya.
Bahkan mereka sering naik ke permukaan dan memberikan ancaman kepada ternak.
"Karena posisinya di sini kan dekat sungai besar juga kan banyak apa ya? Semak. Semak seperti ini ya."
"Ya, kita kan enggak tahu hewan tersebut sembunyi atau menginap di mana mengintai. Ular sama buaya. Apalagi kalau kondisi air pasang seperti ini," sambungnya.
Kondisi semak rimbun juga semakin membuka peluang buaya muncul ke permukaan dan mengancam rumahnya.
"Contohnya seperti ini. Nah, kita enggak tahu kan rimbun seperti ini. Kalau di sini ada ada binatangnya kita enggak tahu seperti itu. Makanya binatang buas," jelasnya.