Ular Trimeresurus Insularis, Si Biru Cantik Berbahaya

Rabu, 14 April 2021 13:00 Reporter : Tyas Titi Kinapti
Ular Trimeresurus Insularis, Si Biru Cantik Berbahaya Trimeresurus Insularis. ©2021 Merdeka.com/Arinardi Fajeri

Merdeka.com - Berwarna biru dengan tatapan mata yang tajam, hewan melata ini terlihat begitu cantik saat dipandang. Berkat kecantikannya, tak sedikit orang yang rasanya ingin mengulas dengan lembut hewan bersisik ini. Tetapi kamu wajib waspada, di balik pesonanya jenis ular Trimeresurus Insularis ini memiliki bisa yang berbahaya bagi manusia.

Trimeresurus Insularis adalah subspesies pit viper asli Indonesia. Hewan kecil yang saat dewasa panjangnya mencapai 93 cm ini tersebar di beberapa pulau di Indonesia. Tepatnya di Jawa Timur, Bali, Lombok, Sumbawa, Komodo, Rinca, Flores, Alor, Wetar. Namun, selain di Indonesia, ular ini juga bisa ditemukan di Timor Leste.

Ular berwarna biru ini merupakan arboreal yang kerap menghabiskan banyak waktunya bertengger pada ranting-ranting pohon. Menyergap mencari mangsa dari atas ketinggian 900 sampai 1.200 meter.

trimeresurus insularis
©2021 Merdeka.com/Arinardi Fajeri

Ular yang dijuluki berbibir putih ini masuk dalam keluarga ular beludak. Para pemangsa yang cukup agresif. Melalui sepasang taring melengkung yang beralur di tengahnya, si biru cantik ini menyuntikkan bisa di tubuh korban.

Tak main-main, Trimeresurus Insularis masuk kedalam salah satu ular berbisa tinggi yang memiliki kandungan bisa Hemotoxin. Kandungan bisa yang sangat kuat dan menyerang sel darah.

trimeresurus insularis
©2021 Merdeka.com/Arinardi Fajeri

Jika tergigit ular ini, korban biasanya akan mengalami rasa sakit yang hebat. Pembengkakan, terasa panas di area gigitan, melepuh, bahkan kerusakan jaringan pada area gigitan.

Rasa kaku dan nyeri yang meluas perlahan-lahan ke seluruh bagian anggota yang tergigit. Kendati punya bisa yang cukup berbahaya, namun jarang hingga menyebabkan kematian.

trimeresurus insularis
©2021 Merdeka.com/Arinardi Fajeri

Kendati demikian, tidak semua gigitan ular disertai dengan pengeluaran bisa. Gigitan ‘kering’, yang bersifat refleks atau peringatan. Biasanya tidak disertai bisa dan tidak membahayakan.

Gigitan ‘kering’ ular ini tidak menimbulkan gejala-gejala keracunan seperti di atas. Walaupun begitu tetap waspada, pasalnya untuk SABU (Serum Anti Bisa Ular) Trimeresurus Insularis ini belum tersedia di Indonesia.

trimeresurus insularis
©2021 Merdeka.com/Arinardi Fajeri

Warna biru yang memukau pada T. Insularis ini tak akan luntur. Ia bersifat pemanen, selamanya. Uniknya, meski sama-sama berwarna biru dan satu jenis. Namun T. Insularis dari Sumbawa dan Pulau Komodo memiliki warna yang berbeda.

Pada T. Insularis dari Pulau Komodo warnanya lebih pekat, sedangkan dari Sumbawa berwarna biru langit. Bola mata dan ekor T. Insularis biasanya berwarna silver. Ada berbagai macam faktor yang membuat keduanya memiliki warna yang berbeda. Salah satunya faktor kelembapan dan suhu udara sekitar.

[Tys]

Komentar Pembaca

Ingatlah untuk menjaga komentar tetap hormat dan mengikuti pedoman komunitas kami

Be Smart, Read More

Indeks Berita Hari Ini

Opini