Suasana Badai Pasir Bromo, Fenomena Langka Bak di Gurun Sahara
Merdeka.com - Jarak pandang begitu terbatas, hamparan tanah lapang tersapu oleh angin kencang. Dari kejauhan samar hanya nampak kuda dengan jokinya. Mobil jeep berjalan perlahan, secara waspada menghindari sesama pengendara. Badai pasir di Lautan Pasir Bromo menjadi fenomena yang wajar. Nuansa dingin dan mencekam, bak berada di dunia lain. Terlepas dari itu, badai pasir Bromo menjadi fenomena yang langka, pasalnya sulit ditemukan di Indonesia.
Kibaran bendera menggambarkan seberapa kencang terpaan angin. Kencangnya angin bahkan membuat pijakan kaki saat berdiri menjadi tak stabil. Kondisi bertambah parah saat angin yang berhembus membawa kabut tebal. Keselamatan jadi prioritas utama saat melintasi badai pasir di Lautan Pasir Bromo. Saat terik mentari, panoramanya mengingatkan kita pada fenomena badai pasir di Gurun Sahara yang terkenal kedasyatannya.
Meski badai pasir tergolong buruk, namun fenomena alam ini menjadi keunikan tersendiri yang dimiliki Taman Nasional Bromo Tengger Semeru (TNBTS). Seolah menjadi bonus saat menikmati keindahan alam Gunung Bromo.

Suasana Badai Pasir Bromo©2021 Merdeka.com/Fitria Nuraini
Samar-samar para wisatawan dan joki kuda bertahan. Saat terjadi badai pasir, para wisatawan diwajibkan untuk memakai masker maupun kacamata. Begitupula para tour guide, tak ketinggalan para penyewa kuda dan mobil jeep. Meski berbahaya, beberapa wisatawan menganggapnya sebagai fenomena yang unik. Tak boleh ketinggalan untuk mengabadikannya melalui lensa kamera.
Keindahan alam Gunung Bromo memang selalu menyedot wisatawan. Kawasan ini jadi destinasi favorit wisatawan untuk menikmati keelokan alamnya. Keberadaan badai pasir di Bromo seringkali menjadi kekhawatiran wisatawan saat berkunjung ke Bromo. Selain jarak pandang yang terbatas, material pasir yang beterbangan juga dapat menyebabkan iritasi mata dan pernapasan.

Suasana Badai Pasir Bromo©2021 Merdeka.com/Fitria Nuraini
Berbeda dengan jeep yang lengkap dengan kaca mobilnya. Di dalam mobil, pengendara akan lebih terlindungi. Ancaman utamanya ialah jarak pandang yang terbatas. Jeep wisata sering kali lalu-lalang mengantarkan penumpang. Momen inilah yang harus dilalui para driver untuk melaju sangat hati-hati melaju.
Baik kuda maupun jeep, selalu bertahan saat badai pasir menerjang. Seolah mereka sudah kebal akan fenomena unik di Lautan Pasir Bromo. Lautan Pasir Bromo membentang begitu luas sekitar 10 kilometer persegi. Sejauh mata memandang hanya ada hamparan pasir hitam. Kemudian ditutup dengan barisan pegunungan yang tinggi menjulang.

Suasana Badai Pasir Bromo©2021 Merdeka.com/Fitria Nuraini
Fenomena badai pasir terjadi pada puncak musim kemarau. Suhu panas yang meningkat membuat kandungan air pada pasir abu vulkanik cepat menguap. Alhasil permukaan pasir sangat kering dan begitu mudahnya diterbangkan oleh angin kencang. Bahkan angin kencang tidak hanya terjadi di Lautan Pasir bromo, namun melanda wilayah Probolinggo.
Tipikal angin di wilayah tersebut bergerak secara sporadis. Masyarakat biasa menyebutnya angin gending. Yang bertiup saat musim kemarau tiba. Jika terjadi demikian, pengelola mengimbau wisatawan agar tidak panik. Kelengkapan masker, kacamata, jaket tebal, hingga penutup kepala harus dikenakan.

Suasana Badai Pasir Bromo©2021 Merdeka.com/Fitria Nuraini
Namun fenomena badai pasir tak bertahan lama. Hanya beberapa menit saja angin kencang berhenti berhembus. Suasana kembali normal, jarak pandang dapat memungkinkan wisatawan menikmati keindahan. Fenomena unik ini begitu langka namun wajar terjadi di Lautan Pasir Bromo.
Memang, waktu terbaik untuk menikmati keindahan alam (TNBTS) ketika musim penghujan tiba. Namun jika ingin merasakan nuansa badai pasir di Lautan Pasir Bromo harus musim kemarau. Fenomena dan keindahan alamnya begitu menawan. Tak segan, wisatawan berbondong-bondong untuk melihat dan merasakan lukisan alam Bromo. (mdk/Ibr)
Cobain For You Page (FYP) Yang kamu suka ada di sini,
lihat isinya