Kerasnya Kehidupan di Kampung Kolong Tol Dupak 'Kampung 1001 Malam'
Merdeka.com - Geliat pembangunan kota Surabaya beberapa tahun terakhir memang cukup massif. Mulai dari jalan, trotoar, gorong-gorong, beberapa tempat wisata hingga taman-taman kota membuat Kota Pahlawan di pandang dunia.
Kota Surabaya nampak asri dengan hijaunya pepohonan. Saat malam jalanan Kota Surabaya terlihat gemerlap dengan gedung tingkat tinggi. Kelap-kelip lampu menemani sepanjang perjalanan. Namun, di tengah keindahan ibu Kota Provinsi Jawa Timur, masih banyak warga yang sama sekali belum merasakan kenyamanan hidup di kota ini.
Salah satunya di Kampung 1001 Malam, kampung bawah tol Dupak-Gresik. Mereka bertahan hidup di gubuk-gubuk kecil. Beristirahat dari kerasnya kehidupan di bawah kolong tol.
©2021 Merdeka.com/Al-Kindi
Pencahayaan yang kurang di kolong tol membuat kampung yang terletak di Kelurahan Dupak, Kecamatan Krembangan, kawasan Surabaya Utara ini disebut Kampung 1001 malam. Tak peduli pagi atau malam, nuansanya akan terasa gelap.
Dari bawah kolong tol terdapat kamar yang bersekat-sekat. Ditemani lampu yang temaram dan udara yang pengap. Di samping kamar dengan cat yang memudar, ada kompor kecil untuk memasak makanan. Piring dan peralatan dapur lainnya dibuat seadanya di samping kamar.
Dari kamar beralas tikar dan kasur kecil, para warga Kampung 1001 malam ini bercengkrama dengan keluarga. Seolah menjadi teman, kebisingan jalan tak mempengaruhi kehangatan mereka. Mereka butuh tempat melepas penat usai bekerja keras.
©2021 Merdeka.com/Al-Kindi
Berada persis di pinggiran bibir sungai yang bermuara di Bozem Morokrembangan, para warga harus menyebrang untuk menuju kampung yang terletak di Kelurahan Dupak, Kecamatan Krembangan, kawasan Surabaya Utara . Sekali menyeberang dikenakan tarif Rp2 ribu.
Selain menggunakan perahu, bisa menggunakan kendaraan bermotor melewati Jl. Lasem. Melalui pintu masuk Terowongan Mina, gerbang pintu masuk yang tak sampai 2 meter karena berada di bawah jalan tol. Para warga harus menuntun motornya untuk melewati terowongan sepanjang kira-kira 50 meter.
Terdapat alasan mengapa bernama Terowongan Mina. Menurut warga, karena seseorang yang melintasinya harus sopan dengan menundukkan kepala, kalau tidak kepala akan terbentur beton.
©2021 Merdeka.com/Al-Kindi
Kampung 1001 Malam ini dihuni sekitar 250 kepala keluarga. Daniel Lukas Rorong, warga Tambak Asri sekaligus Ketua Komunitas Tolong Menolong ini mengatakan hunian itu pun sudah ada sebelum jembatan tol Dupak-Gresik dibangun.
Kesan buruk sempat menempel pada kampung ini. Pasalnya, kampung ini dikenal sebagai tempat 'bajing loncat'.Aksi pencurian yang mengincar truk di jalan. Para bajing loncat biasanya menyembunyikan hasil curiannya di bawah kolong jembatan.
"Hunian itu sudah ada sebelum jembatan tol Dupak-Gresik dibangun. Dulu, merupakan kawasan "bajing loncat" dan "penjahat" ujar Daniel Lukas Rorong, warga Tambak Asri.
©2021 Merdeka.com/Al-Kindi
Namun seiring berjalannya waktu, kesan buruk itu menghilang. Kini, rata-rata mata pencahariannya sehari-hari warga Kampung 1001 malam sebagai pemulung, pengemis, pengamen, kuli bangunan, tukang becak, dan buruh kasar.
Hidup di tengah keterbatasan, warga di Kampung 1001 malam dikenal ramah. Kebersamaan, kehangatan terasa kental di kampung bawah Tol Dupak ini.
(mdk/Tys)
Cobain For You Page (FYP) Yang kamu suka ada di sini,
lihat isinya