Seorang pria melakukan uji coba mengubah suara melalui gas helium dan sulfur hexafluoride. Ia menghirup dua gas itu satu per satu.
Perlu diketahui, gas helium ini biasanya digunakan untuk mengisi balon hias atau bahkan balon udara.
Sifatnya ringan sehingga membuat balon dapat melayang terbang ke udara.
Sementara gas sulfur heksafluorida adalah gas buatan manusia yang tidak beracun, lembam, dan lebih padat dari udara.
Lantas apakah ada perubahan setelah pria itu menelan kedua gas tersebut? Dalam video itu terlihat ada perubahan yang signifikan terhadap suara yang terjadi ketika dirinya menghirupnya. Ia menggunakan balon berwarna hijau tua untuk mengambil udara dari gas helium.
Advertisement
Setelah ia menghirupnyaa, terjadi perubahan pitch suara pada lelaki itu. Suaranya tiba-tiba menjadi tinggi. Bila diumpamakan seperti film, suaranya mirip film kartun Donald Bebek.
Kemudian, pria itu mencoba menelan gas sulfur hexafluoride. Hasilnya pitch suaranya menjadi lebih berat. Suara berat ini teringat ciri khas Optimus Prime pada film Transformers.
Advertisement
Benarkah gas tersebut bisa mengubah suara?
Jawabannya, iya. Dikutip dari IndiaToday, Jumat (25/8), udara yang dihirup merupakan faktor utama dalam cara seseorang bersuara.
Perbedaan antara helium dan udara yang dihirup membantu menjelaskan mengapa suara berubah seiring dengan asupan helium.
Udara biasa yang dihirup terutama terdiri dari nitrogen dan oksigen.
Tapi Helium jauh lebih ringan dibandingkan kedua gas tersebut, itulah sebabnya berimbas terhadap suara bila menghirup helium.
Advertisement
Efek suara yang melengking hanya berlangsung selama ada helium di sekitar pita suara.
Suara akan kembali normal manakala helium sudah tak lagi di sekitar pita suara. Hal senada juga bila dilakukan dengan menghirup gas sulfur hexafluoride.
Advertisement
Apakah menghirup helium berbahaya?
Bila hanya beberapa hirup, tak masalah. Namun jika berlebihan, asupan helium akan berbahaya. Terlebih jika menghirup helium langsung dari tangki bertekanan.
Kekuatan tersebut dapat merusak paru-paru atau mengirim sejumlah helium terkonsentrasi ke dalam darah yang nantinya dapat menempel di otak, menyebabkan stroke, kejang, atau bahkan kematian.