Begini Adab dan Kerendahan Hati Einstein ketika Menolak Tawaran Menjadi Presiden Israel

Albert Einstein seorang fisikawan ternama punya adab ketika ditawari menduduki kekuasaan di Israel.

Fauzan Jamaludin
Oleh Fauzan Jamaludin - Reporter
Begini Adab dan Kerendahan Hati Einstein ketika Menolak Tawaran Menjadi Presiden Israel
Albert Einstein seorang fisikawan ternama punya adab ketika ditawari menduduki kekuasaan di Israel. (merdeka.com)

Saking hebatnya Albert Einstein dalam menemukan rumus fisika, ia hampir saja ditarik menjadi presiden kedua Israel.


Ia bahkan dijuluki sebagai “orang Yahudi terhebat yang pernah ada” oleh Chaim Weizmann, Presiden pertama Israel.  

Pada 5 November 1952, setelah meninggalnya Chaim Weizmann, Presiden Pertama Israel, kala itu dianggap hanya ada satu penerus yang cocok, yaitu Einstein.  

Kehebatannya mendapatkan Nobel Prize pada temuan hukum efek fotolistrik ciptaannya tahun 1921, menjadikan Einstein terkenal dan dihormati bagi kaum Yahudi.  
Dok. Istimewa
merdeka.com

Setelah 12 hari kepergian Weizmann, pada 17 November 1952, Kedutaan Besar (Kedubes) Israel mengirimkan surat kepada Einstein. Isi surat itu adalah menawarkan kesediaan Einstein menjadi Presiden kedua negara itu.

Pada saat diberikan tawaran tersebut usia Einstein sudah memasuki lansia, yakni 73 tahun. Dengan segala pencapaian dan juga penemuan yang berhasil ia temukan sudah pasti menarik perhatian pemerintah Israel. 

Pada saat diberikan tawaran tersebut usia Einstein sudah memasuki lansia, yakni 73 tahun. Dengan segala pencapaian dan juga penemuan yang berhasil ia temukan sudah pasti menarik perhatian pemerintah Israel. 
merdeka.com

Kemampuannya dalam dunia fisika dan matematis pun dianggap mampu untuk memberikan solusi terkait perekonomian Israel sebagai negara berkembang. 

Dok. Istimewa
merdeka.com

Terlebih, Einstein bukan hanya “jago” dalam dunia sains saja, ia juga menjadi motivasi dan pendukung bagi orang-orang Yahudi yang kala itu masih terjebak dalam kekuasaan Hitler untuk terus semangat dan mencari perlindungan agar bebas dari penganiayaan. 

Dok. Istimewa
merdeka.com

Melansir dari Medium, Rabu, (23/08), sepanjang hidupnya Einstein mengabdi kepada tujuan Zionis, hingga makalah ciptaannya disimpan di Hebrew University of Jerusalem dan tergabung ke dalam Komite Penyelamatan Internasional pada tahun 1933.

Menolak dengan Santun

Akan tetapi, dengan segala kelebihan dan kebiasaan yang ia miliki, Einstein menolak untuk maju dalam kursi kepresidenan Israel.  


Ketika Abba Eban, Kedubes Israel mengunjungi kediamannya dan menyatakan niat baiknya secara langsung untuk menggandeng dalam kursi kepresidenan, Einstein tetap menolak. 

Walau begitu, dirinya mengatakan bahwa sebenarnya tawaran untuk menjadi Presiden Israel sangat menyentuh baginya.
Dok. Istimewa
merdeka.com

Namun, bagi Einstein kepintaran dan kelebihan yang ia miliki ternyata tidak cukup untuk menjadikannya sebagai untuk memimpin rakyat serta harus berurusan dengan politik. Selain itu, Einstein menganggap bukanlah orang yang hebat dalam pemerintahan.  

Melansir dari laman All That Interesting, Rabu, (23/08) Einstein juga mengungkapkan beberapa alasan ia menolak untuk naik menjadi Presiden kedua Israel.


Ia menganggap dirinya tidak memiliki pengalaman yang banyak, berusia tua, serta tidak begitu baik dalam bersosialisasi dengan orang lain.

Menanggapi hal tersebut, kemudian Kedubes Israel memberikan penawaran yang menggiurkan kepada Einstein dengan akan membiayai seluruh uji coba dan penelitian Einstein asalkan ia mau untuk mengisi kursi kepresidenan. 

Tetapi Einstein tetap kuat pada pendiriannya. Ia merasa bahwa tawaran tersebut adalah ide yang brilian, akan tetapi ia juga menyadari bahwa tidak semua ide yang brilian itu bagus dan berdampak baik.  

Tetapi Einstein tetap kuat pada pendiriannya. Ia merasa bahwa tawaran tersebut adalah ide yang brilian, akan tetapi ia juga menyadari bahwa tidak semua ide yang brilian itu bagus dan berdampak baik.  
merdeka.com
Rekomendasi