Patahkan Teori Kuantum Einstein, Tiga Ilmuwan Ini Dapat Nobel Prize

Albert Einstein hanyalah manusia biasa. Tak seluruh teorinya lekang di setiap zaman.

Fauzan Jamaludin
Oleh Fauzan Jamaludin - Reporter
Patahkan Teori Kuantum Einstein, Tiga Ilmuwan Ini Dapat Nobel Prize
Patahkan Teori Kuantum Einstein, Tiga Ilmuwan Ini Dapat Nobel Prize (Merdeka.com)

Kehebatan Einstein dalam ilmu Fisika tak perlu diragukan lagi. Namanya sudah dikenal di seluruh penjuru, bahkan hingga kini masih disebut-sebut. Namun, perlu diketahui bahwa hasil temuannya lekang di setiap zaman atau bahkan relevan ketika diuji beberapa tahun kemudian. Alain Aspect dari Université Paris-Saclay dari Perancis, John Clauser dari J.F. Clauser & Asosiasi di Amerika Serikat (AS), serta Anton Zeilinger dari University of Vienna dari Austria membuktikannya.

Dok. Istimewa
Dok. Istimewa

Mereka adalah trio ilmuwan yang berhasil memenangkan penghargaan Nobel Prize 2022 dengan jumlah hadiah sebesar 10 juta krona Swedia (USD915.000) atau Rp 14 miliar.

Penghargaan tersebut diraih atas keberhasilannya dalam melakukan eksperimen mekanika kuantum dan menjelaskan titik lemah dari Teori Kuantum temuan Einstein. Perjalanan mengenai keberadaan Teori Kuantum ini sebenarnya sempat menjadi perhatian sebab pada tahun 1964  John Bell, fisikawan dari Irlandia Utara sempat menentangnya. Mengutip dari laman ScienceAlert, Jumat, (18/08), kala itu John Bell melakukan uji teoritis terhadap teori quantum hasil pemikiran Einstein yang menjelaskan bahwa di dalamnya terdapat variabel tersembunyi yang sulit dipecahkan.

Dok. Istimewa
Dok. Istimewa

Karena hal tersebut, Bell menentangnya sebab menurutnya variabel tersembunyi seperti apa yang dipikirkan oleh Einstein itu tidak ada. Berdasarkan hasil ujinya, mekanika kuantum itu saling terhubung satu sama lain dan saling terhubung dengan cara yang misterius.

Bell juga berpendapat bahwa partikel-partikel dalam Teori Kuantum menurutnya akan saling berkomunikasi dan memerlukan komunikasi yang lebih cepat dari cahaya.

Bell juga berpendapat bahwa partikel-partikel dalam Teori Kuantum menurutnya akan saling berkomunikasi dan memerlukan komunikasi yang lebih cepat dari cahaya.
Dok. Istimewa

Keterikatan quantum menurutnya juga merupakan konsep yang sulit dipahami sebab pada dasarnya terdapat partikel yang akan menghubungkan satu sama lain meskipun terpisah jarak yang jauh.

Karena ketidakjelasan dari perkembangan teori quantum akhirnya ketiga ilmuwan Aspect, Clauser, dan Zeilinger menguji teori tersebut.  Clauser menerapkan teori Bell saat akan melakukan eksperimen menggunakan partikel cahaya (foton) yang menunjukkan bahwa cahaya memang menjadi salah satu yang terlibat dalam Teori Kuantum. Aspect akhirnya melakukan eksperimen untuk mencari celah dari teori ciptaan Bell. Hasil dari eksperimen tersebut menunjukkan bahwa foton dalam mekanika quantum sebenarnya tidak saling berkomunikasi satu sama lain melalui variabel tersembunyi.

Dok. Istimewa
Dok. Istimewa

Dari sini juga Zeilinger terlibat dalam perkembangan Teori Kuantum yang dimana kemudian dapat dimanfaatkan untuk kemajuan teknologi di masa mendatang. Mekanika kuantum yang sempat menjadi pembahasan bukan hanya sekedar fiksi ilmiah melainkan perkembangan yang cukup signifikan dalam dunia sains.

Dok. Istimewa
Dok. Istimewa

Bahkan, sekarang ini sudah ada komputer kuantum pertama yang digunakan Satelit Micius untuk mengaktifkan jalur komunikasi yang aman di seluruh dunia. Adapun kegunaan lainnya seperti untuk pencitraan medis hingga mendeteksi kapal selam.

Oleh karena itu, berkat usahanya dalam menguji Teori Kuantum dan berhasil mengembangkan teori tersebut agar bermanfaat bagi perkembangan teknologi di masa depan mereka berhasil memboyong Nobel Prize 2022.

Oleh karena itu, berkat usahanya dalam menguji Teori Kuantum dan berhasil mengembangkan teori tersebut agar bermanfaat bagi perkembangan teknologi di masa depan mereka berhasil memboyong Nobel Prize 2022.
Dok. Istimewa
Rekomendasi