Ini Bahaya jika Manusia Terlena dengan Kekuatan AI

Penggunaan AI sah-sah saja, asalkan tahu batasannya dan mampu berpikir kritis. Jika tidak, kesalahan fatal akan terjadi.

Fauzan Jamaludin
Oleh Fauzan Jamaludin - Reporter
Ini Bahaya jika Manusia Terlena dengan Kekuatan AI
Ini Bahaya jika Manusia Terlena dengan Kekuatan AI (Merdeka.com)

Senior Advisor Digital Business Telkom Indonesia, Henri Setiawan, mengingatkan pentingnya memahami dasar berpikir dalam menggunakan kecerdasan buatan (AI). Mengapa begitu? 

Karena, menurut Henri, tantangan terbesar saat ini bukanlah pada teknologinya, melainkan pada sikap manusia.

Harus diakui, pelan-pelan perilaku manusia saat ini begitu tergantung pada kemampuan AI. Sayangnya, banyak tidak memahami logika di baliknya.

“Tanya sama AI, topiknya apa, isinya apa, fine. Enggak masalah. Tapi apa kita tahu? Basic thinking, kalau yang diingatkan oleh Elon Musk adalah fundamental thinking. Itu yang paling penting,” ujarnya saat sesi diskusi IdeaFest 2025 bertajuk Beyond Boundaries: Optimizing Human & AI potential di Jakarta Convention Center (JCC), Jakarta, Jumat (31/10).

Mengapa Penting?

Artificial Intelligence
Strong AI vs Weak AI. (Image by Gerd Altmann from Pixabay)

Ia menegaskan bahwa pemahaman mendasar menjadi hal krusial.

Tujuannya agar manusia tidak hanya mampu mengerjakan sesuatu dengan bantuan AI, tetapi juga memahami benar atau tidaknya hasil tersebut.

“Jangan sampai kita bisa mengerjakan, tapi kita enggak tahu itu betul atau salah. Itu yang paling bahaya di dalam AI,” kata Henri.

Merasa Super Power Lalu Sombong

Artificial Intelligence.
Ilustrasi artificial intelligence. (Foto: Shutterstock) @ 2023 merdeka.com

Henri pun mengingatkan bahaya lain dari penggunaan AI yang berlebihan. Munculnya perasaan seolah manusia menjadi serba bisa tanpa perlu mendengarkan pandangan orang lain.

“Paling berbahaya di sini dengan AI adalah kita merasa diri kita itu super power. Enggak mau dengerin orang lain. Udah ada chatbot kok, nanti saya bisa lihat pakai chatbot. Saya bisa tahu, saya bisa belajar, saya bisa apa saja. Bikin iklan, bikin apapun yang kita mau,” jelasnya.

Menurutnya, kondisi tersebut dikhawatir berpotensi hilangnya kehati-hatian dalam berkarya atau mengambil keputusan.

“Akibatnya apa? Ada kesombongan diri yang muncul di situ. Yang menyebabkan ketidakhati-hatian terhadap apa yang kita lakukan. Karena itu bukan kompetensi kita. Ini yang perlu diwaspadai,” tegasnya.

Rekomendasi