Fisikawan teoretis asal Amerika Serikat, Ronald Mallett, punya keinginan membangun mesin waktu. Ia disebut-sebut telah mendedikasikan seluruh hidupnya untuk hal itu. Hasratnya tersebut terpantik dari tragedi yang mendalam dalam hidupnya.
Ia ingin kembali ke masa lalu demi bertemu ayahnya, meninggal mendadak saat dirinya masih kecil karena serangan jantung.
Mallett, yang merupakan profesor emeritus dari University of Connecticut, mulai terobsesi pada konsep perjalanan waktu sejak usia 10 tahun. Gara-garanya usai membaca adaptasi bergambar dari The Time Machine karya H.G. Wells.
Karya itu menjadikannya bahan bakar riset yang membawanya mendalami teori relativitas Einstein hingga merancang model teoretis mesin waktu berbasis cahaya.
“Kalau aku bisa membuat mesin waktu, mungkin aku bisa bertemu ayah lagi,” kata Mallett dalam berbagai wawancara dikutip Popular Mechanic, Selasa (1/7).
Selepas masa remaja yang berat dan tugas militer di Vietnam, Mallett menempuh pendidikan tinggi lewat G.I. Bill hingga meraih gelar doktor fisika. Namun di awal karier akademiknya, ia memilih menyimpan mimpi mesin waktu rapat-rapat karena khawatir dianggap tak serius atau bahkan “aneh” oleh komunitas ilmiah.
Ketertarikannya pada waktu membawanya mendalami relativitas umum, khususnya studi lubang hitam. Einstein telah menunjukkan bahwa waktu bukan absolut dan bisa dipengaruhi kecepatan atau gravitasi. Konsep inilah yang membuat jam GPS di satelit harus dikalibrasi untuk kompensasi time dilation.
Ia mempublikasikan idenya pada jurnal Physics Letters A awal 2000-an. Dalam modelnya, laser yang disusun membentuk cincin (ring-laser) dapat memutar ruang-waktu di dalamnya seperti sendok yang mengaduk kopi, berpotensi membentuk closed timelike curves (CTC)—jalur yang melengkung kembali ke masa lalu.
Namun secara teoritis, mesin waktu itu hanya bisa membawa seseorang ke waktu sejak mesin pertama kali dihidupkan.
“Matematikanya memungkinkan, tapi energinya setara galaksi,” kata Mallett.
Ia menilai teknologi masa kini belum mampu, tetapi riset ini membuka peluang untuk fisika masa depan.
Advertisement
Kritik Tajam dan Tantangan Energi
Sejumlah fisikawan memuji keberaniannya mengangkat topik yang kerap dianggap fiksi ilmiah, namun juga mengkritik keterbatasannya. Dua peneliti Tufts University pada 2005 menilai model Mallett menghasilkan CTC yang berada di luar jangkauan alam semesta teramati. Kip Thorne, penerima Nobel yang meneliti lubang cacing, juga skeptis terhadap penerapan praktis ide tersebut.
Mallett sendiri mengakui keterbatasan itu. Ia menilai penggabungan teori relativitas umum dengan teori kuantum mungkin membuka celah di masa depan untuk mewujudkan mesin waktu.
Meski dianggap kontroversial, Mallett disebut berhasil memecah tabu penelitian soal perjalanan waktu. Ia mendorong fisikawan mendiskusikan ide-ide “imajinatif” tanpa malu dikaitkan dengan fiksi ilmiah.
“Seperti kata Einstein: Imagination is more important than knowledge,” ujarnya.
Bagi Mallett, riset mesin waktu bukan hanya tentang fisika ekstrem atau eksperimen teoritis. Itu adalah warisan cinta seorang anak yang tak pernah sempat mengucapkan selamat tinggal pada ayahnya.