Pabrik ini Bisa Hasilkan 1 HP Per Detik tanpa Bantuan Manusia Semua Bikinan Robot, Begini Penampakannya

Disebut “dark factory”, fasilitas ini adalah simbol era baru industri yang sepenuhnya dikendalikan oleh kecerdasan buatan (AI) dan robotika.

Fauzan Jamaludin
Oleh Fauzan Jamaludin - Reporter
Pabrik ini Bisa Hasilkan 1 HP Per Detik tanpa Bantuan Manusia Semua Bikinan Robot, Begini Penampakannya
Pabrik ini Bisa Hasilkan 1 HP Per Detik tanpa Bantuan Manusia, Semua Bikinan Robot (Ilustrasi dibuat dengan Grok AI)

China kembali membuat gebrakan di dunia industri dengan memperkenalkan pabrik generasi baru yang sepenuhnya otomatis—tanpa cahaya, tanpa manusia. Disebut “dark factory”, fasilitas ini adalah simbol era baru industri yang sepenuhnya dikendalikan oleh kecerdasan buatan (AI) dan robotika. Xiaomi, raksasa elektronik konsumen, menjadi pelopor langkah ini lewat pabrik pintar barunya di distrik Changping, Beijing.

Sebagai gambaran, dark factory secara harfiah berarti pabrik yang beroperasi dalam kegelapan total. Karena robot tidak memerlukan cahaya untuk bekerja, kebutuhan akan penerangan, jam istirahat, atau bahkan aturan ketenagakerjaan manusia menjadi tidak relevan. Seluruh proses produksi berjalan 24 jam tanpa henti—dari pengolahan material hingga perakitan akhir—semuanya dilakukan oleh mesin yang saling terhubung, dikendalikan oleh sistem AI dan big data.

Di sinilah Xiaomi mengambil langkah revolusioner. Mengutip The420.in, Rabu (7/5), pabrik ini diklaim mampu memproduksi satu unit smartphone setiap detiknya, berkat integrasi sistem otomatisasi canggih yang dapat menyesuaikan parameter produksi secara real-time untuk menghindari kesalahan dan mempercepat efisiensi.

Tak hanya itu, pabrik ini juga dilengkapi sistem pembersihan otomatis dengan teknologi penyedotan debu berskala mikron. Artinya, tidak hanya lini produksi yang bebas dari manusia, bahkan urusan kebersihan pun sudah diambil alih sepenuhnya oleh mesin. Lingkungan produksi menjadi steril dan konsisten, memenuhi standar tinggi untuk merakit komponen elektronik sensitif.

Investasi yang digelontorkan untuk membangun fasilitas ini pun tidak main-main. Xiaomi merogoh kocek sebesar 2,4 miliar yuan—sekitar Rp2,75 triliun—untuk membangun pabrik seluas 81.000 meter persegi ini. Target produksinya sangat ambisius: 10 juta unit smartphone setiap tahun, dengan fokus pada model flagship lipat terbaru seperti Xiaomi MIX Fold 4 dan MIX Flip.

Bagaimana dengan Manusianya?

Robot dalam industri memang bukan hal baru. Selama beberapa dekade, robot telah membantu mempercepat produksi, terutama dalam sektor otomotif dan elektronik. Tapi pabrik gelap menandai tahap yang sangat berbeda: manusia tak lagi dibutuhkan. Ini bukan lagi soal membantu pekerjaan manusia, tapi menggantikannya sepenuhnya.

Laporan dari World Economic Forum dalam Future of Jobs Report memperkuat kekhawatiran ini. Disebutkan bahwa 23% jenis pekerjaan global akan terdampak signifikan oleh otomatisasi AI dalam lima tahun ke depan. Bahkan, 42% dari seluruh tugas bisnis diprediksi akan terotomatisasi sebelum tahun 2027, memaksa banyak perusahaan untuk beralih ke solusi berbasis AI.

Xiaomi memang bukan satu-satunya perusahaan yang menempuh jalur ini. Beberapa produsen besar di Tiongkok juga tengah berlomba membangun fasilitas serupa. Mereka melihat otomatisasi sebagai kunci daya saing global—lebih efisien, lebih cepat, dan tentu saja lebih murah dalam jangka panjang. Tapi konsekuensinya jelas: gelombang pengurangan tenaga kerja di sektor manufaktur massal.

Di satu sisi, pabrik gelap menawarkan masa depan industri yang sangat efisien. Namun di sisi lain, ia juga menciptakan masa depan tenaga kerja yang tidak pasti. Negara-negara dengan populasi besar dan bergantung pada sektor manufaktur berbiaya rendah bisa menjadi pihak yang paling dirugikan jika otomatisasi skala penuh ini menyebar ke seluruh dunia.

Isu ini pun mengundang perdebatan luas di kalangan pembuat kebijakan, serikat pekerja, dan pengamat ekonomi. Banyak yang menyamakan situasi ini dengan Revolusi Industri pada abad ke-18—di mana mesin-mesin menggantikan pekerjaan manual dan menciptakan ketimpangan sosial baru sebelum regulasi dan pendidikan menyusul.

Kekhawatiran ini juga disuarakan oleh para ilmuwan AI. Salah satu tokoh paling disegani di bidang ini, Geoffrey Hinton—yang dijuluki "Bapak AI"—secara mengejutkan mengundurkan diri dari Google pada 2023 sebagai bentuk protes atas laju pengembangan AI yang menurutnya sudah "di luar kendali". Ia memperingatkan bahwa dunia sedang “melangkah menuju mimpi buruk yang digerakkan AI”, tanpa perlindungan atau etika yang memadai.

Rekomendasi