Sebuah laboratorium AI yang berasal dari Tiongkok dan kurang dikenal telah menyebabkan kepanikan di Silicon Valley, yang merupakan pusat teknologi di Amerika Serikat. Hal ini terjadi karena laboratorium tersebut meluncurkan model AI baru yang diklaim mampu mengalahkan model AI yang diciptakan oleh berbagai perusahaan di AS.
Menariknya, model AI Tiongkok yang dinamakan DeepSeek ini dikembangkan dengan biaya yang jauh lebih rendah dan menggunakan chip yang tidak sekuat yang biasa digunakan. Bagaimana bisa demikian?
Mengutip dari laporan CNBC pada Selasa, (28/1), lab DeepSeek AI meluncurkan model bahasa besar open source secara gratis pada awal bulan Desember yang lalu.
Dari informasi yang beredar, DeepSeek hanya memerlukan waktu dua bulan dan biaya kurang dari USD 6 juta untuk mengembangkan model AI tersebut.
Selain itu, DeepSeek juga memanfaatkan chip berkapasitas rendah dari Nvidia, yakni chip H800, untuk membangun model AI yang diperkirakan mampu menandingi model AI dari perusahaan-perusahaan terkemuka di dunia saat ini.
Situasi ini menimbulkan kekhawatiran di Amerika mengenai kemungkinan kalah dari Tiongkok dalam pengembangan teknologi kecerdasan buatan.
Selain itu, perusahaan-perusahaan di Amerika Serikat selama ini bersaing untuk menginvestasikan dana yang sangat besar guna menciptakan kecerdasan buatan (AI) yang terbaik, lengkap dengan pusat data yang memadai.
Sebagai informasi tambahan, dalam serangkaian tes benchmark yang dilakukan oleh pihak ketiga, model AI bernama DeepSeek berhasil menunjukkan performa yang lebih baik dibandingkan model AI lainnya, seperti Llama 3.1 dari Meta, GPT-4o milik OpenAI, dan Claude Sonnet 3.5 dari Anthropic.
Keunggulan ini terlihat dalam hal akurasi saat menyelesaikan masalah kompleks, termasuk matematika dan pengkodean.
Sebelumnya, DeepSeek juga telah meluncurkan DeepSeek r1, yang merupakan model penalaran yang berhasil mengungguli model penalaran o1 milik OpenAI dalam berbagai pengujian yang dilakukan oleh pihak ketiga.
Advertisement
Ancaman Perusahaan AI Amerika
CEO Microsoft, Satya Nadella, memberikan pernyataan di Forum Ekonomi Dunia yang berlangsung di Davos, Swiss, pada Rabu lalu mengenai inovasi DeepSeek. Ia menyatakan,
"Melihat model AI baru DeepSeek, sangat mengesankan dalam hal bagaimana mereka membuat open source yang melakukan komputasi secara efektif dan efisien," ujar dia.
Nadella juga menekankan pentingnya bagi perusahaan teknologi asal Amerika Serikat untuk menghadapi perkembangan AI yang ada di Tiongkok dengan sikap serius.
Walaupun DeepSeek memiliki potensi yang diyakini dapat melampaui kemampuan perusahaan-perusahaan AS, mereka tetap harus menghadapi tantangan terkait pembatasan semikonduktor dan chip yang diterapkan oleh AS terhadap Tiongkok.
Pembatasan ini telah menghalangi akses Tiongkok terhadap chip canggih, seperti H100 dari Nvidia. Namun, kemajuan terbaru dari DeepSeek AI di Tiongkok menunjukkan bahwa mereka mulai menemukan cara untuk mengatasi aturan tersebut, membuktikan bahwa pembatasan ekspor bukanlah penghalang yang tidak dapat dilalui.
Menurut laporan dari media setempat, laboratorium DeepSeek AI didirikan oleh Liang WenFeng. DeepSeek muncul berkat pendanaan dari High Flyer Quant, yang mengelola aset senilai USD 8 miliar.
Namun, DeepSeek bukanlah satu-satunya perusahaan asal Tiongkok yang berupaya mengembangkan teknologi kecerdasan buatan. Peneliti AI terkemuka di Tiongkok, Kai-Fu Lee, baru-baru ini mengungkapkan bahwa startup mereka, 01.ai, berhasil melatih model AI dengan dana yang hanya mencapai USD 3 juta.
Selain itu, perusahaan induk TikTok, ByteDance, juga telah merilis pembaruan model AI terbarunya yang mengklaim mampu mengungguli performa 01 milik OpenAI dalam sebuah tes benchmark.
Menanggapi kemunculan laboratorium dan startup AI di Tiongkok, CEO Perplexity, Aravind Srinivas, menyatakan, "kebutuhan menjadi induk dari segala penemuan." Ia menambahkan, "Karena mereka harus mencari jalan keluar, pada akhirnya mereka berhasil membangun sesuatu yang jauh lebih efisien."
Pernyataan ini menunjukkan bahwa tantangan yang dihadapi dapat memicu inovasi dan efisiensi dalam pengembangan teknologi AI, yang menjadi fokus utama berbagai perusahaan di Tiongkok saat ini.