Bocah ini Sering Dipukuli Teman-temannya hingga Pingsan sampai Dibawa ke RS, Kini Takdir Membawanya Jadi Orang Terkaya di Dunia

Tidak ada yang tahu nasib orang di masa depan. Ini terjadi nyata pada seorang anak laki-laki yang kini menjadi orang kaya raya.

Fauzan Jamaludin
Oleh Fauzan Jamaludin - Reporter
Bocah ini Sering Dipukuli Teman-temannya hingga Pingsan sampai Dibawa ke RS, Kini Takdir Membawanya Jadi Orang Terkaya di Dunia
Bocah ini Sering Dipukuli Teman-temannya hingga Pingsan sampai Dibawa ke RS, Sekarang Takdir Membawanya Jadi Orang Terkaya di Dunia (Pinterest)

Sewaktu kecil, tampilannya begitu kurus. Karena fisiknya yang dianggap lemah, ia kerap menjadi bahan bully teman-temannya di sekolah. Lantas, siapa dia? Dia adalah Elon Musk. Miliarder kaya raya yang punya ambisi membawa manusia ke Mars.

Dalam buku biografi Elon Musk yang ditulis oleh Walter Isaacson dan dirilis pada September 2023 lalu, mengungkap sisi lain dari kehidupan miliarder visioner ini.

Buku bertajuk Elon Musk, yang dikutip dari NDTV, Selasa (21/1), menggambarkan perjalanan Musk yang penuh tantangan sejak masa kecil hingga menjadi salah satu tokoh paling berpengaruh di dunia teknologi.

Dipukul hingga Pingsan dan Dimarahi Sang Ayah

Dalam sebuah wawancara di The Diary of a CEO dengan Steven Bartlett, Isaacson mengungkap bagaimana pengalaman masa kecil di Afrika Selatan membentuk karakter Musk. Dikatakan bahwa Musk kecil adalah anak kurus yang berada di spektrum autisme, sering menjadi korban bullying, dan tidak memiliki banyak teman.

"Dia tidak memiliki keterampilan sosial dan sering dipukuli. Namun, luka fisik itu tidak seberapa dibandingkan dengan apa yang dia alami di rumah," kata Isaacson.

Salah satu kejadian yang menjadi titik balik terjadi setelah Musk dirawat di rumah sakit selama empat hari akibat dipukuli hingga pingsan oleh teman sekolahnya. Bukannya mendapatkan empati, Musk justru dimarahi oleh ayahnya yang menyebutnya "pecundang" dan menyalahkan Musk atas insiden tersebut.

"Dia dipaksa berdiri selama dua jam, mendengarkan ayahnya memarahinya dan mengatakan bahwa semua itu adalah salahnya," ungkap Isaacson.

Errol Musk, yang tidak menunjukkan empati terhadap anaknya, bahkan disebut berpihak pada pelaku bullying. Pengalaman ini meninggalkan luka mendalam pada Musk dan memengaruhi cara pandangnya terhadap dunia, termasuk ambisinya untuk membawa umat manusia ke Mars.

Saat ini, Elon Musk tidak lagi memiliki kontak dengan sang ayah. Hubungan mereka telah lama memburuk, dan hal ini menjadi salah satu tema penting dalam biografi tersebut.

Rekomendasi