Aplikasi mobile Tulwe membuka kesempatan bagi siapa pun di mana pun di belahan dunia ini menunjukkan bakat bernyanyinya. Lewat kontes mencari bakat di dunia musik pada 4 November lalu, Tulwe terbuka bagi siapa saja yang memiliki bakat bernyanyi, tidak peduli dari Bali, Papua, Bangkok, Bangalore, atau bahkan dusun terpencil di Kenya, bisa berpartisipasi dengan merekam dan mengunggah video saat sedang bernyanyi ke platform Tulwe.com.
Video yang terunggah kemudian akan melewati proses pemungutan suara dari penonton seluruh dunia. Secara keseluruhan, bisa dikatakan bahwa Tulwe berusaha untuk membawa proses audisi dan pencarian bakat musik ke pintu depan setiap orang yang memiliki smartphone. Ini bertolak belakang dengan proses yang ada saat ini.
Hingga 1 Februari 2017, Tulwe Inc fokus melakukan perjalanan keliling dunia mencari penyanyi berbakat yang layak memenangkan kontrak senilai US$ 1 juta dollar AS melalui kontes musiknya.
Dr Anthony Karim Adam, CEO sekaligus perintis Tulwe Inc, merupakan fans berat tayangan kontes musik, seperti American Idol, X-Factor, dan The Voice. Terinspirasi dari apa yang ditonton, dirinya dan rekan-rekan memutuskan kalau Tulwe juga ingin memberdayakan orang-orang dengan memberikan mereka kesempatan untuk didengarkan, tanpa memedulikan tempat di mana mereka berada. Terkadang ada peserta berbakat yang perlu menempuh perjalanan yang jauh hanya untuk mengikuti audisi. Namun, tidak jarang juga yang hadir mengikuti audisi tidak memiliki bakat sama sekali.
"Jika peserta buruk saja bisa mengikuti audisi, mengapa kita tidak menyediakan kesempatan yang sama bagi orang-orang di daerah kecil yang berbakat, tapi tidak mempunyai modal untuk berangkat ke kota-kota besar," ujar Adam, dalam rilisnya pada Merdeka.com, Senin (5/12).
Menurut dia, latar belakangnya sebagai ahli ilmu komputer sangat membantu perusahaannya dalam mengidentifikasi, mendefinisikan, dan mengembangkan segala hal yang ingin dicapai saat ini. Tulwe merasa teknologi perekaman untuk ponsel pintar akan segera terintegrasi ke dalam kehidupan sehari-hari. Hal ini menjadikan proses audisi musik secara online akan hadir cepat atau lambat. Semua elemen-elemen ini memposisikan Tulwe beberapa langkah di depan pengembang teknologi lainnya yang mungkin memiliki ide serupa.
Tulwe ditegaskannya, bukan hanya aplikasi kontes musik, tapi juga sebuah 'ekosistem dalam pembangunan'. Setidaknya masih ada dua produk lagi terkait media sosial yang akan diluncurkan pada tahun depan, 2017. Hal ini sesuai dengan slogannya, yakni Brave New World atau Dunia Baru yang Berani. Tujuan akhirnya adalah mengubah cara orang berinteraksi dalam sosial media melalui aplikasi termutakhir.
Adam percaya bahwa 5 tahun mendatang, perusahaan tidak akan berlomba untuk merebut pembeli, tapi fokus kepada interaksi orang-orang di media sosial. Berbasis pemikiran ini, salah satu strategi Tulwe dalam mendorong interaksi dalam aplikasi mereka adalah pemberian beasiswa akademis.
"Jika Anda memperhatikan program akademis kami, pilihan-pilihan calon penerimanya berasal dari negara berkembang," ujar Adam.
Menurut Adam, aplikasi musik Tulwe tidak akan 'berlawanan' langsung dengan acara kontes musik televisi seperti X-factor dan American idol, karena masing-masing memiliki daya tarik tersendiri. Namun, tidak memungkiri, jika interaksi dalam aplikasi semakin ramai, maka Tulwe bisa menjadi saingan terhadap acara-acara tersebut.
Pada tiga bulan ke depan, Tulwe akan fokus terhadap beberapa hal. Pertama, melaksanakan program promosi besar-besaran di mancanegara untuk mengenalkan dan mendorong pengunduhan terhadap aplikasi Tulwe. Kedua, mengumpulkan sebanyak mungkin konten-konten berkualitas dari para penyanyi yang belum diketahui. Untuk itu, Tulwe berharap bahwa semua peserta yang berpartisipasi akan turut melibatkan teman, keluarga, dan bahkan follower untuk memberikan suara dukungan dalam audisi bakat global ini.