Kondisi toilet umum yang kotor sering membuat orang enggan duduk langsung di kloset. Barangkali bagi sebagian orang memilih setengah jongkok di atas dudukan. Namun, menurut para ahli, kebiasaan ini justru tidak disarankan. Kok bisa?
Jadi, jongkok setengah melayang di kloset duduk justru berbahaya. Meningkatkan risiko cidera dan infeksi. Pernyataan itu kata seorang ahli mikrobiologi klinis dari Universitas Leicester, Inggris, Primrose Freestone. Menurutnya, sebaiknya selalu duduk, betapapun kotornya kloset terlihat.
"Saat jongkok, otot-otot dasar panggul, bokong, punggung, perut, dan pinggul bekerja keras untuk menahan tubuh agar tidak jatuh. Ketegangan ini membuat aliran urin terhambat," jelas dia dikutip dari DailyMail, Kamis (10/7).
Posisi setengah jongkok menyebabkan otot-otot dasar panggul (pelvic floor) tegang. Otot ini bertugas mendukung kandung kemih dan membantu mengosongkannya dengan lancar. Saat tegang, urin tak bisa keluar sempurna. Akibatnya, kita sering merasa ingin ke kamar mandi lagi tak lama kemudian.
Ia juga mengingatkan bahwa dalam kasus parah, kebiasaan ini bisa meningkatkan risiko infeksi saluran kemih (ISK). Brianne Grogan, seorang fisioterapis kesehatan perempuan, menambahkan:
"Ketegangan pada panggul membuat aliran urin sulit. Kadang kita jadi harus mengejan agar keluar cepat. Kebiasaan mengejan bisa memicu penurunan organ panggul (prolaps)."
Hal ini lebih berisiko pada perempuan, terutama yang pernah melahirkan. Meskipun jorok untuk duduk di kloset umum yang kotor, namun risiko tertular infeksi lewat kulit bokong di dudukan toilet sebenarnya sangat kecil.
"Penyakit usus biasanya menular lewat tangan ke mulut akibat kontaminasi tinja pada tangan, makanan, atau permukaan lain," jelasnya.
Selain itu, kulit kita sendiri sudah memiliki lapisan bakteri dan jamur yang berfungsi sebagai pelindung alami. Menurut penelitian, saat menyiram toilet, terjadi semburan mikro-droplet yang tak kasat mata, mengandung bakteri dan partikel tinja.
Semburan ini bisa melayang sejauh 1,5 meter. Artinya, bakteri bisa menempel di mana saja, gagang pintu, penutup kloset, tempat tisu toilet, hingga HP (kalau sambil membawa ponsel saat buang air besar).