Better experience in portrait mode.
Iklan - Geser ke atas untuk melanjutkan

Jatuh cinta sama dengan efek kecanduan obat terlarang

Jatuh cinta sama dengan efek kecanduan obat terlarang Ilustrasi pasangan © Hawaiianbeachrentals.com

Merdeka.com - Setiap manusia pasti memiliki perasaan cinta. Menurut penelitian, ternyata cinta dapat dijelaskan dengan mengambil sudut pandang sains.

Cinta adalah suatu perasaan yang timbul dari dalam diri manusia ketika dia merasa suka dan cocok terhadap sesuatu entah itu obyek atau juga manusia lainnya. Apabila disangkutkan dengan sains ternyata ada beberapa fakta menarik mengenai cinta yang dapat dibuktikan secara ilmiah.

Berikut adalah trivia mengenai cinta dari sudut pandang sains.

  • Dalam penelitian yang pernah dipublikasikan pada tahun 2012 menyatakan bahwa seseorang hanya membutuhkan seperlima detik untuk dapat jatuh cinta
  • Apabila dilihat dari aktivitas otaknya, jatuh cinta memiliki kemiripan dengan perasaan ketika seseorang ketagihan atau kecanduan obat-obatan terlarang
  • Ketika seseorang jatuh cinta, otak akan melepaskan dopamin yang berfungsi untuk menciptakan perasaan senang atau euforia, adrenalin dan norepinefrin yang menyebabkan jantung berdebar dan gelisah
  • Hormon paling dominan ketika seseorang jatuh cinta adalah oxytocin. Hormon ini dipunyai setiap manusia dan mamalia lain. Oxytocin juga keluar ketika seorang wanita mengandung atau melahirkan, ketika seseorang berpelukan atau juga ketika sedang melakukan hubungan intim
  • Oxytocin tidak hanya menjadi pembangkit rasa cinta saja, namun juga dapat memunculkan sisi negatif seperti cemburu, iri, marah. kecewa dan lain-lain
  • Menurut penelitian seorang ilmuwan bernama Dr Helen Fisher, aktivitas otak manusia akan 'menyala' ketika mereka sedang menyukai atau mencintai sesuatu atau seseorang
  • Ketika seseorang jatuh cinta pertama kali, maka segala organ dalam tubuhnya akan melonjak pesat dan lebih termotivasi akan segala hal, namun setelah 1 tahun terlewati maka perasaan dan semuanya akan kembali ke posisi awal
  • Memang tidak semua orang dapat depresi ketika mempunyai masalah dengan cinta, namun depresi yang ditimbulkan merupakan efek rendahnya serotonin. Apabila serotonin sudah semakin rendah maka akan tidak jarang seseorang akan terkena OCD (Obsessive Compulsive Disorder) atau perasaan tertekan, depresi dan galau yang sangat dalam
  • Selain OCD, apabila serotonin sudah pada titik terendah, maka seseorang mudah sekali memunculkan sifat posesif yang berlebihan
  • Tidak hanya itu, ketika serotonin mencapai tingkat rendah maka hormon cortisol akan terganggu. Dengan terganggunya hormon cortisol ini maka dapat menyebabkan tekanan darah meningkat dan susah tidur
  • Menurut penelitian, ketika orang patah hati, maka ada bagian dalam otak yang secara cepat merespon dan aktif. Ketika bagian tersebut aktif maka seseorang seperti terdorong secara alami untuk mencari pelampiasan dengan cara mencari interaksi sosial dan pembenaran
  • Cinta adalah gabungan dari komponen biochemical dan psychological dalam tubuh manusia. Namun tidak seperti perasaan lainnya seperti lapar, bahagia, mengantuk dan lainnya, cinta tidak dapat berdiri sendiri. Cinta membutuhkan obyek atau manusia lainnya.

    "If you love somebody, let them go, for if they return, they were always yours. If they don't, they never were," Kahlil Gibran.

    Sumber: Express.co.uk, Positscience.com, Fastcodesign.com, Theatlantic.com, Love 2.0: How Our Supreme Emotion Affects Everything We Feel, Think, Do, and Become, Lovequoteslibrary.com

    Berita tentang TeknoLove lainnya

    Relakan setengah identitas hilang demi sang idola

    Ketika kadar cinta diukur dari SMS berbayar

    Galaunya Timeline Twitter di malam minggu

    Curhat asmara via internet dianggap lebih nyaman

    LDR is nothing!

    Filsuf dadakan di Twitter, ajang cari popularitas?

    Ketika emoticon dipakai sebagai pengganti ekspresi wajah manusia

    (mdk/das)

    Geser ke atas Berita Selanjutnya

    Cobain For You Page (FYP) Yang kamu suka ada di sini,
    lihat isinya

    Buka FYP