Peristiwa itu merupakan fenomena 1 dari 2.000 tahun sekali.
Di tahun 2023, lautan es Antartika menyusut ke tingkat paling rendah dalam sejarah. Jika dibandingkan dengan saat musim dingin, terdapat lebih dari 2 juta km persegi es laut yang menyusut.
Jumlah dari es laut yang hilang tersebut sama dengan 10 kali lipat luas dari wilayah Inggris. Hasilnya, para ilmuwan menyebut bahwa peristiwa tersebut merupakan peristiwa 1 dari 2.000 tahun sekali.
Mengutip Indy100 dan Survei Antartika Britania, Rabu (12/6), peristiwa ini membuat bingung para ilmuwan karena es laut sebenarnya terus meningkat hingga tahun 2015 lalu.
Peneliti dari Survei Antartika Britania (BAS) menggunakan set data iklim CMIP6 untuk memeriksa hilangnya es laut secara besar-besaran yang terjadi di Antartika.
Dengan set data tersebut, para peneliti menganalisis data dari 18 model iklim yang berbeda untuk memahami probabilitas penurunan es laut yang begitu tajam.
Peneliti utama studi ini, Rachel Diamond, mengatakan bahwa meskipun es laut yang sangat rendah pada tahun 2023 lebih mungkin terjadi akibat adanya perubahan iklim, hal tersebut masih dianggap sangat jarang terjadi menurut model.
Advertisement
“Ini merupakan kali pertama serangkaian model iklim yang besar ini digunakan untuk mengetahui seberapa besar kemungkinan rendahnya es laut pada tahun 2023,”
Peneliti utama studi ini, Rachel Diamond.
Diamond mengatakan bahwa model iklim berperan penting dalam analisis karena hingga saat ini, satelit baru mengukur es laut selama 45 tahun sehingga pengevaluasian luas es laut sangat sulit untuk dilakukan.
“Menurut model-model tersebut, luas es laut minimum yang memecahkan rekor ini hanya akan terjadi satu kali dalam 2.000 tahun tanpa adanya perubahan iklim. Hal ini menunjukkan kepada kita bahwa kejadian tersebut sangat ekstrem—sesuatu yang kurang dari satu banding 100 dianggap sangat tidak mungkin terjadi,” tambah Diamond.
Advertisement
Penulis lain dalam studi ini, Caroline Holmes, mengatakan bahwa titik terendah pada tahun 2023 lalu lebih mungkin terjadi karena perubahan iklim.
Hal itu terlihat dari perubahan iklim yang kuat dalam model-model membuat dunia empat kali lebih mungkin untuk melihat penurunan es yang begitu besar.
Para ilmuwan juga menggunakan model-model tersebut untuk memeriksa berapa lama waktu yang dibutuhkan agar es laut bisa pulih. Mereka menemukan bahwa bahkan, setelah 20 tahun, tidak semua es laut di sekitar Antartika akan kembali.
Menghilangnya es laut Antartika juga dapat berdampak buruk pada cuaca lokal dan global serta pada ekosistem Samudra Selatan yang unik.
Terdapat berbagai hal yang bisa menyebabkan perubahan pada luas es laut, seperti proses-proses lautan, panas yang tersimpan di bawah permukaan, variasi yang kuat pada angin ke selatan, sistem-sistem badai, hingga suhu permukaan laut yang hangat selama paruh pertama tahun 2023.
Reporter magang: Laurensius Katon Kandela