Cara Baru Amankan Manuskrip Rapuh Usia Ratusan Tahun tanpa Disentuh, Dulu Susah Bikin Pustakawan Stres
Teknologi robotik berperan penting dalam melestarikan literatur kuno.
Kemajuan dalam teknologi robotik kembali menarik perhatian di kalangan akademisi, kali ini berkat inovasi di sektor pelestarian literatur. Di Universitas Tulsa, Amerika Serikat, sebuah perpustakaan telah memanfaatkan mesin pemindai otomatis yang canggih, yaitu Treventus ScanRobot 2.0, untuk mendigitalkan buku-buku langka dan manuskrip yang berusia puluhan hingga ratusan tahun.
Menurut Popular Science pada Sabtu (26/7), robot yang dikembangkan di Austria ini mampu memindai hingga 2.500 halaman dalam satu jam. Proses pemindaian dilakukan dengan teknik yang hampir tidak menyentuh kertas secara langsung.
Sistem yang digunakan terdiri dari kamera berbentuk prisma, alat vakum kecil, dan semburan udara yang bekerja sama untuk membuka dan memindai halaman dengan tingkat ketelitian yang sangat tinggi, tanpa merusak struktur asli buku tersebut.
Inovasi ini dianggap sangat efisien dan aman, terutama dalam pengarsipan ribuan buku yang telah menjadi domain publik. Selama beberapa dekade, digitalisasi buku-buku kuno dilakukan secara manual, di mana pustakawan harus memotret setiap halaman dengan hati-hati agar tidak merusak buku yang berharga tersebut.
Teknologi vakum dan sensor sensitif
Meskipun teknologi pemindaian dari atas (top-down scanner) telah memberikan bantuan yang signifikan, proses ini tetap memerlukan waktu dan dapat menguras tenaga. Oleh karena itu, Universitas Tulsa melalui McFarlin Library memutuskan untuk memanfaatkan robot pemindai dalam pengelolaan koleksi langka mereka.
ScanRobot 2.0 beroperasi dengan mekanisme yang unik dan hampir tanpa kontak langsung. Kamera canggih yang dimilikinya terletak dalam wadah berbentuk segitiga dan akan turun ke pusat buku, tepat pada bagian margin atau "gutter".
Pelat segitiga ini dilengkapi dengan lubang-lubang kecil yang menghasilkan vakum ringan untuk membuka halaman ke kiri dan kanan. Setelah kamera berhasil memindai dua halaman sekaligus, sistem vakum akan berhenti, dan peniup udara halus akan membalik halaman ke halaman berikutnya.
Proses ini berlangsung secara otomatis hingga seluruh buku selesai didigitalkan. Menariknya, semua langkah ini dilakukan dengan tekanan fisik yang minimal terhadap halaman, sehingga menjaga keselamatan naskah kuno tetap terjamin.
Tetap butuh bantuan manusia
Meskipun sepenuhnya beroperasi secara otomatis, robot ini tetap memerlukan kehadiran manusia untuk berfungsi. Dua pustakawan dari McFarlin Library telah mengikuti pelatihan intensif selama seminggu agar dapat menjadi operator bersertifikat.
Setiap kali robot beroperasi, minimal satu operator harus berada di depan panel kontrol untuk memantau kinerja mesin, mengatasi halaman yang sulit, atau menghentikan proses jika terdapat gangguan yang berpotensi merugikan.
64.000 Buku Siap Dipindai dan Dibagikan ke Publik
Menurut Michael Kunz, direktur departemen pustaka langka di Universitas Tulsa, banyak buku dalam koleksi mereka kini sudah tidak terikat hak cipta dan dapat dipublikasikan secara sah.
"Penilaian kami menunjukkan sekitar 64.000 buku kami berada di domain publik dan siap untuk dipindai dan diunggah. Dan setiap tahun, akan selalu ada tambahan," ujar Kunz dalam profil resmi universitas. Ia menekankan bahwa proses digitalisasi ini sangat krusial untuk meningkatkan akses pelajar dan peneliti terhadap literatur langka tanpa mengancam keutuhan dokumen fisik aslinya.
Memudahkan pencarian naskah
Kehadiran teknologi robotik seperti ScanRobot 2.0 diperkirakan akan menjadi elemen penting dalam masa depan perpustakaan dan lembaga arsip di seluruh dunia.
Proses digitalisasi yang sebelumnya dianggap rumit dan memakan waktu kini dapat dilakukan dengan lebih cepat, aman, dan efisien, sambil tetap menjaga keutuhan fisik buku-buku tua yang sering kali sudah sangat rapuh.
Inovasi ini lebih dari sekadar meningkatkan efisiensi; ia juga berperan dalam pelestarian warisan intelektual umat manusia. Dengan adanya teknologi semacam ini, perpustakaan mampu memberikan akses kepada ribuan naskah klasik dan literatur penting kepada masyarakat luas, termasuk mahasiswa, peneliti, dan masyarakat umum.
Akses terhadap pengetahuan menjadi lebih inklusif dan tidak lagi terbatas pada rak-rak fisik. Buku-buku langka kini dapat diakses oleh siapa saja, kapan saja, dan dari mana saja.