7 Teknologi yang Tak Diharapkan Muncul Lagi di 2019

Jumat, 4 Januari 2019 00:01 Reporter : Indra Cahya
7 Teknologi yang Tak Diharapkan Muncul Lagi di 2019 lengkungan hitam iPhone X. ©2017 Merdeka.com

Merdeka.com - Tahun 2018 adalah tahunnya berbagai inovasi di dunia teknologi lahir. Mulai dari lahirnya MacBook, Apple iPhone, GoPro, hingga flagship Huawei yang kesemuanya bisa disebut terbaik yang pernah ada.

Namun tidak bisa dibilang tahun 2018 kemarin tidak ada hal yang harusnya dieliminasi. Banyak teknologi yang bisa dibilang gagal, yang sebaiknya tidak kita temui lagi di tahun ini.

Berikut deretan teknologi yang diharapkan tak muncul lagi di 2019.

1 dari 7 halaman

RED Hydrogen One Phone

RED Hydrogen One. ©2017 Merdeka.com

Ekspektasi tinggi disematkan kepada sang produsen kamera video profesional terbaik dunia yakni RED, ketika mereka ingin membuat smartphone. Terlebih lagi terdapat fitur yang diunggulkan dari smartphone ini yakni layar holographic.

Nah ketika smartphone ini rilis di beberapa bulan lalu (yang harusnya dirilis 2017 yang membuat dapur pacunya tertinggal satu tahun), para pecinta teknologi dibuat kecewa oleh smartphone yang diberi nama Hydrogen One ini. Layar holographic yang diusungnya tidak sesuai ekspektasi dan terlebih lagi, tidak seberapa berguna. Perekaman 3D nya pun masih tak sesempurna yang disebut.

Aspek paling gagal dari smartphone ini adalah kualitas kameranya yang biasa saja, berkebalikan dengan kualitas produk RED yang tersohor di tiap variannya. Bahkan sensor kamera yang dipakainya diperkirakan hanya sensor Sony atau Samsung yang memang lazim terpasang di smartphone.

Terlebih lagi, harganya dibanderol luar biasa, yakni 1.300 USD, yang membuatnya lebih mahal ketimbang lini iPhone dan lini Samsung Note terbaru.

2 dari 7 halaman

Palm Phone

Palm Phone. ©2019 androidauthority.com

Dulu para pecinta teknologi pasti tahu sebuah gadget mungil berbentuk sliding bernama Palm Pre yang berjalan di atas sistem operasi WebOS. Nah, tahun 2018, Palm, perusahaan yang sama yang memproduksi Palm Pre, merilis Palm Phone. Ini adalah smartphone mungil dengan harga murah.

Masalahnya, Palm Phone ini bukan benar-benar smartphone. Ini adalah sebuah gadget yang bisa menggantikan perangkat utama Anda, layaknya fungsi yang dilakukan oleh smartwatch sebagai pengganti arloji Anda.

Masalahnya, terasa absurd untuk menerima gagasan bahwa untuk mengurangi waktu dengan gadget kita, kita harus beli gadget lain. Terlebih lagi, performanya buruk dan baterainya cepat habis.

3 dari 7 halaman

Seri Papan Tengah Samsung yang Mahal

Samsung Galaxy A8s. ©2018 Merdeka.com

Sudah bukan rahasia umum kalau Samsung memasang banderol tinggi ke perangkatnya. Permasalahannya adalah di segmen papan tengah, Samsung keok oleh deretan smartphone asal China yang menawarkan tak cuma performa papan menengah ke atas atau flagship, bahkan juga fitur unggulan lain seperti kamera dan biometrikasi, dengan harga murah.

Meski sebenarnya Samsung memiliki andalan di sektor papan tengah yakni Samsung Seri A atau A series, ternyata persaingan di sektor ini cukup ketat. Banyak vendor smartphone dengan produk andalannya seperti OnePlus, Xiaomi, Honor, dan masih banyak lainnya yang menawarkan nilai lebih ketimbang Samsung.

Samsung Galaxy A sendiri cukup menghebohkan dengan rilisnya Galaxy A9 2018 dengan empat kamera. Namun ada beberapa nama yang tak ingin memperbanyak fitur, namun justru menebalkan dapur pacu dan melabelinya dengan harga papan tengah.

Ambil contoh OnePlus 6T dan juga Xiaomi Pocophone yang keduanya mengusung Snapdragon 845 dengan RAM 6GB namun memasang banderol lebih murah. Dan masyarakat harus memilih antara dua smartphone tersebut melawan Galaxy A9 yang sekedar mengusung dapur pacu asli Samsung di kelas papan tengah namun harganya lebih mahal.

Hal ini diperkeras dengan kenyataan bahwa smartphone entry-level sekalipun, kini menawarkan fitur nyata yang bisa jadi nilai lebih di mata konsumen. Banyak smartphone murah yang tak mengandalkan dapur pacu, namun daya tahan baterai, atak sekedar kamera depan yang jernih. Hal ini makin membuat konsumen akan berpikir ulang menghabiskan banyak uang di smartphone bermerek.

4 dari 7 halaman

Essential Phone

Essential Phone. ©2017 Merdeka.com

Essential Phone pernah menyandang gelar sebagai smartphone pertama yang mengusung notch. Desain ini akhirnya tren di 2017 dan 2018. Namun Essential Phone nampak tidak terurus dengan baik dan benar, dan di 2018 skip merilis ponsel baru.

Dulu di 2017 terdapat fitur modular yang ditawarkan untuk smartphone ini, namun tidak ada kejelasan dan kapan perilisan dari perangkat modularnya. Belum lagi, rumor simpang siur antara lini Essential Phone ini akan dilanjutkan atau tidak, dan nampaknya tidak.

Terlebih lagi, sang founder yakni Andy Rubin yang juga dijuluki sebagai bapak Android, tersandung kasus yang cukup pelik.

Hal ini ramai karena laporan The New York Times soal Andy Rubin yang disebut telah menerima paket pesangon senilai USD 90 juta ketika meninggalkan perusahaan tersebut, setelah seorang karyawan Google menuduhnya melakukan pelanggaran seksual.

5 dari 7 halaman

Notch

lengkungan hitam iPhone X. ©2017 Merdeka.com

Desain notch menjadi tren di 2017, setelah iPhone X merilis desain tersebut dengan menghiraukan segala keanehan yang muncul. Hal ini ada untuk mengakomodir sensor yang biasanya terletak di bagian atas layar.

Kini, inovasi telah muncul demi tidak adanya notch namun layar tetap lebar. Seperti yang dilakukan Oppo Find X yakni mekanisme sliding yang membuat kamera depannya tersembunyi, serta yang kini sedang naik menjadi tren yakni desain lubang layar yang disebut Samsung adalah Infinity O.

Akhirnya kita bisa mengucapkan selamat tinggal ke Notch, mengingat banyak yang menyebut lengkungan hitam ini mengganggu. Terakhir, Google Pixel 3 XL mengaplikasikan desain semacam ini ke perangkatnya, dan mendapat kritik pedas atas desain yang tidak indah.

6 dari 7 halaman

Tablet yang cuma Smartphone Raksasa

Pixel Slate. ©2018 9to5google.com

Ada dua tablet papan atas yang rilis tahun ini: Pixel Slate dan iPad Pro 2018. Keduanya adalah tablet dengan performa dan fitur luar biasa. Permasalahannya hanyalah tablet ini masih merupakan gadget mobile yang masih tidak bisa menggantikan fungsi komputer atau laptop.

Soal Pixel Slate sendiri, ada beberapa hal yang membuatnya menuai kritik pedas. Mulai dari software yang membuat beberapa hardware yang berlabel papan atas jadi tak berfungsi, serta tak berhasilnya Pixel Slate menjembatani tablet Android dengan Chromebook karena fungsi yang masih mobile.

7 dari 7 halaman

Facebook

Facebook. © Ideasevolved.com

Facebook mengalami tahun yang buruk di 2018. Tak cukup soal banyaknya berita palsu, pemasaran tertarget yang seringkali mengganggu, bahkan teman-teman lawas kita yang ternyata membuat pos yang tak lagi cocok dengan preferensi kita. Hal ini diperparah dengan kebocoran data di Facebook.

Di AS, data privasi pengguna Facebook dibocorkan dan disalahgunakan untuk mempengaruhi suara politik dari masyarakat, dan akan berimbas besar ke hasil pemungutan suara di Pemilu Presiden 2016 lalu. Tentu ini adalah sesuatu yang mencoreng nilai demokrasi.

Parahnya, Facebook menyatakan ada 10 negara yang disinyalir datanya disalahgunakan oleh Cambridge Analytica, dan di antara daftar tersebut ada Indonesia.

Tentu sangat bisa dipahami jika banyak di antara kita yang tak ingin lagi bermedia sosial di Facebook. Karena selain Facebook sudah jadi tempat yang tak 'asyik' lagi untuk online, risiko kebocoran data bisa berpengaruh besar pada keputusan politik masa depan Tanah Air kita. [idc]

Baca juga:
Laju Sony Xperia di 2019, Smartphone Jagoan AnTuTu dan Fitur Biometrikasi Baru!
Apple Surati Investor, Kabarkan Turunnya Ekspektasi Pemasukan Untuk Awal 2019
Kisah Pilu Remaja yang Pernah Tukar Ginjal dengan iPhone
Trump Akan Keluarkan kebijakan untuk Larang Huawei dan ZTE di AS
Honor View 20 Jadi Smartphone Pertama Dengan Teknologi 'Nanolithography', Apa Itu?
Huawei Mate 20 dan Mate 20 Pro Diklaim Ludes Dalam Waktu Seminggu

Berikan Komentar
Komentar Pembaca

Be Smart, Read More

Indeks Berita Hari Ini