Viral Guru Dipecat karena Kritik Ridwan Kamil, Ini Klarifikasi Pihak Sekolah
Merdeka.com - Baru-baru ini media sosial digegerkan oleh seorang guru yang dipecat karena mengkritik Ridwan Kamil. Guru tersebut berkomentar pada salah satu postingan Instagram milik Ridwan Kamil.
Komentar tersebut diberi pin oleh Ridwan Kamil sehingga akun tersebut menjadi bulan-bulanan pengikutnya. Tidak hanya itu, Ridwan Kamil pun mengirim pesan ke akun media sosial tempat guru itu bekerja.
Tak ayal, netizen menganggap hal tersebut berlebihan untuk dilakukan. Ridwan Kamil pun dinilai menjadi penyebab sang guru honorer dipecat. Tidak lama setelah itu, Ridwan Kamil mengunggah klarifikasi dan mengatakan tidak mengetahui terkait pemecatan guru tersebut.
Pada kamis kemarin, pihak sekolah memberikan klarifikasi terkait hal ini. Tujuannya, agar tidak ada kesalahpahaman yang muncul di publik. Berikut klarifikasi pihak sekolah selengkapnya.
Surat Ketiga untuk Pak Sabil

©2023 Merdeka.com/TikTok siberasi.id
Melalui akun TikTok @siberasi.id, pihak sekolah SMK Telkom Cirebon memberikan klarifikasi terkait pemecatan guru honorer yang bernama Muhammad Sabil Fadilah. Klarifikasi ini disampaikan oleh Cahya Riyadi sebagai Wakil Kepala Bidang Kurikulum dan SDM SMK Telkom Kota Cirebon.
“Jadi pada dasarnya, tidak ada sifat yang tiba-tiba. Jadi semuanya merupakan rangkaian yang kebetulan kalau secara tertulis ini adalah surat yang ketiga untuk Pak Sabil,” ungkap Pak Cahya.
Surat Peringatan Sudah Diberikan Sejak 2021Pihak sekolah juga menjelaskan bahwa surat peringatan itu sudah diberikan sejak tahun 2021. Pada tahun tersebut Pak Sabil mendapatkan dua kali surat peringatan.
“Surat pertama di bulan September 2021 itu juga ada, ya, SP 1. Intinya masih seputar etika yaitu mengeluarkan kata-kata kasar pada peserta didik dan kebetulan orang tuanya tidak terima sehingga kita melaporkan ke yayasan. Yang mengeluarkan SP itu yayasan dan yayasan mengeluarkan SP1,” terang Pak Cahya.
“Sebulan kemudian, Oktober 2021 ada kejadian lagi masih masalah etika yaitu yang bersangkutan merokok di ruang guru dan kita ada aturan internal memang jadi guru itu tidak boleh merokok. Yang paling penting sebenarnya kita ada CCTV untuk mengontrol ruang-ruang tersebut dengan sengaja dan diakui dia mematikan CCTV itu untuk menghapus atau menghilangkan bahwa dia sedang merokok," lanjut Pak Cahya.
Surat Peringatan Diberikan karena Etika Pak Sabil
Tiga surat peringatan yang diberikan kepada Pak Sabil ini berkaitan dengan masalah etikanya sebagai guru. Tidak hanya catatan secara tertulis saja, Pak Cahya mengungkap ada catatan secara lisan mengenai Pak Sabil ini.
“Secara lisan menurut catatan saya ada beberapa informasi memang ketika di kelas. Lebih kepada kalimat sebenarnya atau ucapan-ucapan yang kurang pantas diucapkan seorang guru atau pendidik,” ungkap Pak Cahya.
Pihak sekolah menilai bahwa tidak sepantasnya guru berperilaku seperti itu karena mau bagaimanapun guru akan dicontoh oleh anak didiknya. Sudah seharusnya ia mampu mengendalikan diri dan bersikap sopan santun.
Pak Sabil Ditawari Kembali ke SekolahRidwan Kamil mengaku kaget setelah mendapati Sabil dipecat. Ia kemudian menghubungi pihak sekolah yang bersangkutan agar tidak perlu sampai diberhentikan.
Pihak sekolah kembali menawarkan Sabil untuk bekerja di sekolah selama bisa mengikuti aturan yayasan.
Sabil Enggan Kembali Mengajar di SMK Telkom Cirebon

©2023 Merdeka.com/TikTok siberasi.id
Dalam akun yang sama, terdapat video respons dari sang guru terkait klarifikasi pihak sekolah tersebut. Pak Sabil mengungkapkan rasa terima kasih kepada pihak sekolah yang membuka kembali kesempatan untuk dirinya. Namun, ia sudah merasa malu dan enggan untuk kembali lagi ke sekolah itu.
“Pada dasarnya saya ucapkan terima kasih atas penawarannya atas penarikannya kembali, dibuka selebar-lebarnya untuk kembali lagi. Tapi pada dasarnya saya sampaikan mohon maaf yang sebesar-besarnya kemungkinan sih engga untuk kembali lagi,” ungkap Pak Sabil.
“Saya sendiri sudah ngerasa malu ya, malu dalam artian atas kasus ini, lembaga malah kebawa-bawa. Padahal saya sendiri pada saat berkomentar sama sekali tidak memposisikan diri sebagai guru, melabelkan sendiri sebagai guru mana gitu ini karena efek media sosial. Tapi saya memposisikan diri sebagai netizen atau warga Jabar lah,” lanjut Pak Sabil.
“Cuman karena efek bola salju jadi berkembang gitu dan terbawa lah lembaga di mana saya dibesarkan, saya bekerja. Ya saya malu untuk kembali lagi, malu dalam hal jadi kebawa-bawa karena saya,” jelas Pak Sabil.
Klarifikasi pihak sekolah dan respons sang guru ini dapat menjadi penutup kasus ini. Harapannya tidak ada lagi spekulasi-spekulasi tidak benar yang bermunculan di media sosial.
(mdk/jen)Cobain For You Page (FYP) Yang kamu suka ada di sini,
lihat isinya