Tunawisma Adalah Orang yang Tidak Punya Tempat Tinggal Tetap, Ini Penyebabnya
Merdeka.com - Kota menjadi pusat banyak kegiatan bisnis dan lapangan pekerjaan yang terhampar luas. Namun berbanding terbalik dengan itu, faktanya banyak gelandangan dan tunawisma yang menjamur dan bukan hal dijumpai di kota.
Berdasarkan PP No. 31 Tahun 1980 gelandangan didefinisikan sebagai orang-orang yang hidup dalam keadaan tidak sesuai dengan norma kehidupan yang layak dalam masyarakat setempat, tidak mempunyai tempat tinggal dan pekerjaan yang tetap dan hidup mengembara di tempat umum, sedangkan pengemis adalah orang-orang yang mendapatkan penghasilan dengan meminta-minta di tempat umum dengan berbagai cara/alasan untuk mendapatkan belas kasihan dari orang lain.
Gelandang dan tunawisma kerap disebutkan secara bersamaan, namun apakah arti tunawisma tersebut? Berikut pengertian gelandangan, tunawisma, dan akar penyebab adanya gelandangan maupun tunawisma:
Pengertian Tunawisma
Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), tunawisma adalah seseorang yang tidak mempunyai tempat tinggal (rumah). Tunawisma adalah orang yang tidak mempunyai tempat tinggal tetap dan berdasarkan berbagai alasan harus tinggal di bawah kolong jembatan, taman umum, pinggir jalan, pinggir sungai, stasiun kereta api, atau berbagai fasilitas umum lain untuk tidur dan menjalankan kehidupan sehari-hari.
Sekilas tunawisma memiliki pengertian yang sama dengan gelandangan. Sebenarnya, tunawisma adalah bagian dari gelandangan. Gelandangan dibagi menjadi 4 golongan:
1. Tuna-karya dan tuna-wisma
Tuna-karya dan tuna-wisma adalah orang yang sama sekali tidak mempunyai pekerjaan dan tidak bertempat tinggal yang tetap.
2. Tuna-karya dan berwisma tak layak
Tuna-karya dan berwisma tak layak adalah orang yang sama sekali tidak mempunyai pekerjaan, tetapi mempunyai tempat tinggal tetap yang tak layak.
3. Berkarya-tak layak dan tuna-wisma
Berkarya-tak layak dan tuna-wisma adalah orang yang mempunyai pekerjaan yang tak layak dan tak bertempat tinggal tetap.
4. Berkarya-tak layak dan berwisma-tak layak
Berkarya tak layak dan berwisma tak layak adalah orang yang mempunyai pekerjaan yang tak layak, dan bertempat tinggal tetap yang tak layak (Arrasjid, 1980:3).
Akar Penyebab Tunawisma
Tunawisma atau homelesness adalah masalah global yang terus dihadapi hingga kini. Ada sekitar 3 juta tunawisma di Indonesia. Indonesia rentan terhadap letusan gunung berapi, gempa bumi, tsunami, dan bencana alam lainnya.
Ditambah dengan urbanisasi yang cepat membuat jutaan orang rentan kehilangan rumah. Pada tahun 2018, terdapat 857.500 pengungsi baru akibat bencana alam dan kekerasan. Sekitar 25 juta keluarga tinggal di daerah kumuh perkotaan, di sepanjang rel kereta api, tepi sungai, dan jalan raya menurut Homeless World Cup Foundation. Berikut akar penyebab adanya tunawisma secara umum dilansir dari human rights careers:
Gaji stagnan
Sementara biaya hidup meningkat, sayangnya tidak ada kenaikan upah. Di Amerika Serikat, upah minimum telah naik sekitar 350% sejak tahun 1970. Indeks Harga Konsumen telah meningkat lebih dari 480%. Hal ini membuat sulit untuk menutupi biaya hidup sehari-hari, apalagi menghemat uang untuk kepemilikan rumah atau keadaan darurat.
Tanpa kemampuan untuk menabung, pengeluaran tak terduga dapat menghabiskan penghasilan seseorang. Di seluruh dunia, upah rendah membuat orang terjebak dalam kemiskinan dan lebih rentan menjadi tunawisma.
Pengangguran
Sementara upah rendah berkontribusi pada tunawisma, pengangguran juga merupakan faktor penting. Alasan pengangguran bervariasi dan beberapa negara memiliki tingkat pengangguran yang lebih tinggi daripada negara lain.
Begitu seseorang menganggur selama beberapa waktu, mereka dapat dengan mudah menjadi tunawisma. Penelitian menunjukkan bahwa kebanyakan orang yang tidak memiliki rumah ingin bekerja tetapi menghadapi kendala, seperti tidak memiliki alamat tetap.
Kurangnya perumahan yang terjangkau
Biaya perumahan yang tinggi adalah masalah global. Sebuah survei global dari Lincoln Institute of Land Policy menunjukkan bahwa dari 200 kota yang disurvei, 90% dianggap tidak terjangkau.
Ini didasarkan pada harga rumah rata-rata yang lebih dari tiga kali lipat pendapatan median. Tanpa perumahan yang terjangkau, orang menemukan diri mereka dengan lebih sedikit pilihan. Menjadi lebih sulit untuk menemukan perumahan di dekat tempat kerja atau di daerah yang aman.
Kurangnya perawatan kesehatan yang terjangkau
Perawatan kesehatan sangat mahal, tetapi banyak orang tidak diasuransikan atau kurang diasuransikan. Ini berarti menghabiskan banyak uang untuk perawatan kesehatan sambil berjuang untuk membayar sewa, makanan, dan utilitas.
Ini juga bisa berarti mengabaikan pemeriksaan dan prosedur rutin, yang menyebabkan biaya medis yang lebih tinggi di masa mendatang. Satu cedera atau kecelakaan serius dapat mendorong seseorang atau keluarga menjadi tunawisma.
Kemiskinan
Dalam skala global, kemiskinan adalah salah satu akar penyebab paling signifikan dari tunawisma. Upah yang stagnan, pengangguran, dan biaya perumahan dan perawatan kesehatan yang tinggi semuanya menyebabkan kemiskinan.
Ketidakmampuan untuk membeli kebutuhan pokok seperti perumahan, makanan, pendidikan, dan lebih banyak lagi akan meningkatkan risiko seseorang atau keluarga. Untuk mengatasi tunawisma secara efektif, pemerintah dan organisasi perlu mengatasi kemiskinan.
Kurangnya layanan perawatan kesehatan mental dan kecanduan
Hubungan dua arah antara kesehatan mental, kecanduan, dan tunawisma jelas. Di AS, sekitar 30% orang "tunawisma kronis" memiliki kondisi kesehatan mental.
Pada 2017, Koalisi Nasional untuk Tunawisma menemukan bahwa 38% tunawisma bergantung pada alkohol. 26% bergantung pada zat lain.
Memiliki penyakit mental atau kecanduan membuat seseorang lebih rentan menjadi tunawisma dan membuatnya lebih sulit untuk mendapatkan tempat tinggal permanen.
Kurangnya tempat tinggal yang stabil juga memperburuk masalah kesehatan mental dan kecanduan. Tanpa layanan pengobatan, sangat sulit bagi seseorang untuk memutus siklus tersebut.
Ketimpangan ras
Di Amerika Serikat, ras minoritas mengalami tunawisma pada tingkat yang lebih tinggi daripada populasi kulit putih. Menurut penelitian dari National Alliance to End Homelessness dan US Department of Housing and Urban Development, orang kulit hitam Amerika 3 kali lebih mungkin kehilangan tempat tinggal.
Penduduk asli Hawaii, Kepulauan Pasifik, dan Penduduk Asli Amerika juga merupakan minoritas yang terpengaruh secara tidak proporsional. Alasan mengapa didasarkan pada ketidaksetaraan rasial seperti diskriminasi rasial dalam perumahan dan penahanan.
Kekerasan dalam rumah tangga
Wanita dan anak-anak sangat rentan terhadap tunawisma yang dipicu kekerasan. Untuk menghindari kekerasan dalam rumah tangga, orang akan meninggalkan rumah mereka tanpa rencana.
Jika mereka tidak punya tempat tinggal, mereka bisa berakhir di mobil, tempat penampungan, atau jalanan. Bahkan bagi mereka yang tinggal, dampak kekerasan dalam rumah tangga membuat mereka lebih rentan menjadi tunawisma di masa depan. Ini karena trauma seringkali mengarah pada masalah kesehatan mental dan penyalahgunaan zat.
Konflik keluarga
Terkait erat dengan kekerasan dalam rumah tangga, konflik keluarga juga bisa berujung pada tunawisma. Ini terutama berlaku untuk komunitas LGBTQ +.
Keluarga dapat mengusir individu atau membuat lingkungan rumah berbahaya. Menurut True Colours Fund, 1,6 juta anak muda LGBTQ + menjadi tunawisma setiap tahun. Populasi ini juga berisiko tinggi menjadi tunawisma di usia yang lebih muda.
Kegagalan sistemik
Meskipun tunawisma dapat terjadi karena keadaan individu atau keluarga, kita tidak dapat mengabaikan kegagalan sistemik. Tunawisma terjadi ketika masyarakat gagal mengidentifikasi dan mendukung orang yang berisiko tidak memiliki rumah.
Kegagalan di berbagai bidang seperti layanan pemasyarakatan, layanan kesehatan, dan kesejahteraan anak sangat umum terjadi. Kegagalan masyarakat untuk mengatasi ketidaksetaraan ras, menaikkan upah, dan menyediakan perumahan yang terjangkau juga berkontribusi pada tingkat tunawisma.
(mdk/amd)Cobain For You Page (FYP) Yang kamu suka ada di sini,
lihat isinya