Tauhid adalah Keyakinan akan Keesaan Allah, Berikut Penjelasannya
Merdeka.com - Tauhid adalah keyakinan Islam yang sangat penting. Tauhid menyiratkan bahwa segala sesuatu yang ada saat ini berasal dari satu-satunya Pencipta, yang juga Pemelihara dan satu-satunya sumber petunjuk.
Keyakinan ini mengatur semua aspek dalam kehidupan manusia. Keimanan akan kebenaran mendasar ini menghasilkan pandangan bahwa sesuatu itu satu, dan menolak adanya pembagian dalam keyakinan.
Baca juga: Al Ikhlas Artinya Memurnikan Keesaan Allah
Allah SWT berfirman,
"Dan Tuhan kamu adalah Tuhan Yang Maha Esa, tidak ada tuhan selain Dia, Yang Maha Pengasih, Maha Penyayang." (QS. Al-Baqarah: 163).
Allah SWT adalah satu-satunya yang berhak untuk disembah dan ditaati oleh umat manusia. Tauhid adalah keyakinan yang memberi tahu manusia bahwa Allah SWT tidak dilahirkan, dan juga tidak ada orang yang dilahirkan dari-Nya. Oleh karena itu, secara bahasa, tauhid adalah ”Menjadikan sesuatu itu satu, atau menegaskan keesaan sesuatu.”
Syaikh Muhammad bin ‘Abdul Wahhab berkata dalam Tsalatsah Al-Ushul, “Dan perintah Allah yang paling agung adalah tauhid, yaitu: memurnikan ibadah untuk Allah semata-mata. Sedangkan larangan Allah yang paling besar adalah syirik, yaitu: menyembah selain Allah di samping menyembah-Nya.
Kemudian Allah SWT juga berfirman,
“Sembahlah Allah dan janganlah kamu mempersekutukan sesuatu apapun dengan-Nya.” (QS. An-Nisaa’: 36).
Pengertian Tauhid
Dari semua rukun iman dalam Islam, Iman kepada Allah SWT adalah yang pertama disebutkan. Mengutip dari laman learnreligions.com, tauhid dalam bahasa Arab digunakan untuk menggambarkan keyakinan akan Keesaan Tuhan yang mutlak. Tauhid adalah kata yang berasal dari bahasa Arab yang berarti "penyatuan" atau "kesatuan". Ini adalah istilah yang kompleks dengan banyak makna yang dalam di ajaran Islam.
Orang Arab mengatakan ahad dan wahid, yang semuanya memiliki arti satu. Allah adalah Wahid, artinya Dia tidak memiliki tandingan dalam hal apa pun. Jadi, tauhid adalah mengetahui bahwa Allah itu Esa, dan tidak ada yang seperti Dia.
Kemudian dalam definisi Syari'I, tauhid adalah kepercayaan bahwa hanya Allah SWT yang berhak disembah sebagai Tuhan, dan hanya Dia yang memiliki semua atribut ketuhanan dan keilahian. Keesaan Allah SWT ini tergambar dalam salah satu surat dalam Al Quran, yang artinya,
"(1) Katakanlah (Muhammad), “Dialah Allah, Yang Maha Esa. (2) Allah tempat meminta segala sesuatu. (3) (Allah) tidak beranak dan tidak pula diperanakkan. (4) Dan tidak ada sesuatu yang setara dengan Dia." (QS. Al-Ikhlas: 1-4).
Macam Tauhid
Para ulama telah membagi Tauhid menjadi tiga macam, yaitu Tauhid al-Rububiyyah, Tauhid al-Uluhiyyah, dan Tauhid al-Asma wa'l-Sifat.
Tauhid Ar-Rububiyah
Muslim percaya bahwa Allah SWT yang menjadi penyebab segala sesuatu ada. Allah adalah satu-satunya yang menciptakan dan memelihara segala sesuatu. Allah tidak membutuhkan pertolongan atau bantuan atas penciptaan-Nya. Umat muslim juga sangat menghormati nabi mereka, seperti Muhammad dan Isa, namun dengan tegas memisahkan kedudukan mereka dari Allah SWT.
Tauhid Al-Uluhiyah
Karena Allah SWT adalah satu-satunya pencipta dan pemelihara alam semesta, hanya kepada Allah sajalah umat Islam mengarahkan ibadah mereka. Islam hadir dengan mengajarkan bahwa satu-satunya yang berhak disembah adalah Allah SWT. Hanya Allah yang berhak atas doa, pujian, dan ketaatan.
Setiap kali seorang muslim berdoa, atau meminta bantuan dari selain Allah, maka mereka telah menjauhi Tauhid al-Uluhiyah. Tergelincir ke dalam syirik akan membahayakan iman seorang muslim, terlebih syirik adalah satu-satunya dosa yang tak terampuni dalam Islam.
Tauhid al-Asma' was-Sifat
Al-Qur'an dipenuhi dengan deskripsi sifat Allah, yang sering disebutkan dalam nama khusus. Yang Maha Penyayang, Yang Maha Melihat, Yang Maha Agung, dan lain sebagainya adalah semua nama yang menggambarkan sifat Allah. Allah SWT dipandang berbeda dari ciptaan-Nya. Sebagai manusia, umat Islam mungkin berusaha untuk memahami dan meniru nilai-nilai tertentu dalam sifat ini, namun hanya Allah SWT saja yang memiliki sifat-sifat ini secara sempurna dan utuh.
Pentingnya Belajar Tauhid
Mentauhidkan Allah SWT merupakan perintah utama bagi manusia, khususnya umat Islam. Tanpa adanya tauhid, ibadah yang dilakukan tidak bisa disebut ibadah.
Tauhid adalah dasar dari agama Islam. Oleh karena itu, penting untuk mempelajari dan memahami tauhid. Dikutip dari rumaysho.com, berikut beberapa alasan pentingnya mempelajari tauhid.
Allah Menciptakan Manusia untuk Mentauhidkan-Nya.
Dalam salah satu ayat Allah SWT berfirman, yang artinya,
“Dan Aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka beribadah kepada-Ku.” (QS. Adz-Dzariyat: 56).
Para ulama menjelaskan bahwa maksud beribadah adalah mentauhidkan Allah, yang berarti hanya beribadah kepada Allah semata, dan tidak boleh menyekutukan-Nya.
Sebagai Syarat Masuk Surga
Dari ‘Ubadah bin Ash-Shamit radhiyallahu ‘anhu, ia berkata bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
“Barangsiapa bersaksi bahwa tidak ada sesembahan yang berhak disembah selain Allah semata, tidak ada sekutu bagi-Nya, juga bersaksi bahwa Muhammad adalah hamba dan Rasul-Nya; begitu juga bersaksi bahwa ‘Isa adalah hamba Allah dan Rasul-Nya, serta kalimat-Nya (yaitu Allah menciptakan Isa dengan kalimat ‘kun’, -pen) yang disampaikan kepada Maryam dan ruh dari-Nya; juga bersaksi bahwa surga dan neraka benar adanya; maka Allah akan memasukkan-Nya ke dalam surga apa pun amalnya.” (HR. Bukhari dan Muslim).
Jadi Sebab Dihapuskannya Dosa
Dalam sebuah hadis qudsi yang berasal dari Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah bersabda, bahwa Allah SWT berfirman,
“Wahai anak Adam, jika engkau mendatangi-Ku dengan dosa sepenuh bumi kemudian engkau tidak berbuat syirik kepada-Ku dengan sesuatu apa pun, maka Aku akan mendatangimu dengan ampunan sepenuh bumi itu pula.” (HR. Tirmidzi. Al-Hafizh Abu Thahir mengatakan bahwa hadits ini hasan).
Tauhid Sebagai Syarat Amalan Diterima
Allah SWT berfirman dalam salah satu ayatnya,
“Barangsiapa mengharap perjumpaan dengan Rabbnya, maka hendaklah ia mengerjakan amal yang saleh dan janganlah ia mempersekutukan seorang pun dalam beribadah kepada Rabbnya.” (QS. Al-Kahfi: 110).
Ibnu Katsir rahimahullah menjelaskan isi hadis tersebut bahwa kalimat, “Maka hendaklah ia mengerjakan amal yang saleh”, dimaksudkan untuk mengikuti syariat Allah dan petunjuk Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Kemudian “janganlah ia mempersekutukan seorang pun dalam beribadah kepada Rabbnya”, maksudnya agar kita selalu mengharap pada Allah semata dan tidak berbuat syirik kepada-Nya. Inilah dua rukun diterimanya ibadah, yaitu ikhlas karena Allah dan mengikuti petunjuk Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam.” (Tafsir Al-Qur’an Al-‘Azhim).
Jadi Sebab Dilipatgandakan Pahala
Terkait hal ini, terdapat ayat tentang sedekah di mana Allah SWT berfirman,
“Perumpamaan (nafkah yang dikeluarkan oleh) orang-orang yang menafkahkan hartanya di jalan Allah adalah serupa dengan sebutir benih yang menumbuhkan tujuh bulir, pada tiap-tiap bulir seratus biji. Allah melipat gandakan (ganjaran) bagi siapa yang Dia kehendaki. Dan Allah Maha Luas (karunia-Nya) lagi Maha Mengetahui.” (QS. Al-Baqarah: 261).
(mdk/ank)Cobain For You Page (FYP) Yang kamu suka ada di sini,
lihat isinya