Masyarakat di berbagai daerah di Indonesia memiliki warisan dari nenek moyang yang masih eksis hingga kini.
Tak hanya budaya dan adat istiadat, kearifan lokal warisan nenek moyang pun turut menjadi bagian dari warisan yang perlu dijaga dengan baik. (Foto: Pixabay)
Di Tapanuli Selatan tepatnya di lereng Gunung Lubuk Raya terdapat empat desa yang masih mempraktikkan kearifan lokal nenek moyang mereka yang dinamakan Bondar. Istilah ini dikenal sebagai sistem irigasi atau pengelolaan air untuk masyarakat serta lingkungan sekitar khususnya di hutan adat.
Keempat desa yang masih menggunakan prinsip Bondar ini meliputi Haunatas, Bonan Dolok, Tanjung Rompa, dan Siranap atau dikenal dengan pula dengan sebutan Hatabosi.
Advertisement
Melansir dari situs indonesia.go.id, pengelolaan air dan pembagiannya ini kebanyakan dialiri ke areal persawahan yang sudah disepakati bersama oleh seluruh warga. Selain harus memiliki sawah, syarat lainnya adalah telah disepakati ketika seorang warga melangsungkan pernikahan di Hatabosi.
Artinya, apabila seseorang telah keluar dari Hatabosi atau sudah bukan status warga di kawasan tersebut maka ia tidak berhak atas Bondar atau ikut mengelola saluran air. Namun, mereka masih mendapatkan hak Bondar meskipun bukan warga asli asalkan menikah dengan warga setempat.
Konon, sistem Bondar ini sudah berlangsung sejak awal abad ke-20 atau tepatnya pada tahun 1907 dan sampai sekarang masih terus bertahan.
Advertisement
Dengan memegang teguh prinsip nenek moyang mereka "sian harangan ni do mual ni aek ta'" atau dari hutan sumber air kita ini para Bondar atau penjaga jaringan irigasi secara berkala melakukan pengecekan di kawasan hutan.
Apabila jaringan air di kawasan ini bermasalah, seluruh masyarakat akan bertindak tegas. Hal ini bertujuan untuk menjaga lingkungan sekitar hutan adat terlindungi.
Dalam menjaga ekosistem aliran air, telah ditetapkan hukuman bagi siapa saja yang sengaja menutup saluran utama atau mengotori saluran akan dikenakan hukuman denda seekor kerbau.
Advertisement
Advertisement
Prinsip Bondar ini sangatlah bermanfaat bagi masyarakat sehingga membuat tanaman tumbuh subur dengan hasil panen melimpah.
Hebatnya, dengan sistem Bondar tidak ada air yang terbuang sia-sia karena seluruhnya dimanfaatkan dengan sangat baik.
Sisa buangan air dari rumah-rumah warga pun langsung dialirkan ke sawah lantaran setiap rumah sudah membangun sendiri sistem aliran air yang sudah terintegrasi dengan sistem Bondar. Sebagai wujud rasa syukur, masyarakat setempat juga melaksanakan pesta adat bernama Gotilon.
Di era modern seperti ini, penduduk yang semakin padat memenuhi sebuah daerah prinsip Bondar bisa dipraktikkan dengan baik. Tentu saja, kearifan lokal ini bisa menjadi cetak biru dari pengelolaan sistem air yang selama ini kurang baik di kota-kota besar.
Advertisement