Belajar Otodidak, Wanita Penggerak Bank Sampah di Medan Raih Banyak Penghargaan

Armawati Chaniago, penggerak bank sampah di Medan yang berhasil mengubah sampah menjadi bernilai ekonomi.

Redaksi Merdeka
Oleh Redaksi Merdeka - Reporter
Belajar Otodidak, Wanita Penggerak Bank Sampah di Medan Raih Banyak Penghargaan
ilustrasi sampah di laut. ©AFP

Semakin hari, sampah menjadi permasalahan penting yang tak kunjung bisa diselesaikan. Tak banyak masyarakat yang paham bagaimana cara mengolah sampah yang benar, bahkan pemerintah pun sering kali kuwalahan menemukan solusi untuk pengolahan sampah yang efektif.

Kondisi ini membuat seorang wanita di Kota Medan, Sumatra Utara, tergerak hatinya untuk berbuat lebih demi lingkungan. Armawati Chaniago, penggerak bank sampah yang berhasil mengubah sampah menjadi bernilai ekonomi.

Tinggal di Kota Medan, yang katanya mendapat predikat Kota Metropolitan paling kotor di Indonesia, membuat Armawati tergerak untuk mendirikan Rumah Kompos dan Bank Sampah Induk Sicanang di Belawan.

Uniknya, Ia hanya berbekal belajar otodidak dari internet bagaimana cara mengelola sampah dan mendaur ulang. Kini, Ia sudah berhasil membangun 268 bank sampah, dengan sekitar 46.000 anggota kelompok. Tak hanya itu, Armawati berhasil mendapat banyak penghargaan.

Menurutnya, persoalan sampah tak melulu salah pemerintah. Ia pun akhirnya mendedikasikan waktunya untuk merawat lingkungan dengan terus mengedukasi masyarakat pentingnya mengelola sampah. Melansir dari mongabay, berikut kisah Armawati selengkapnya.

Armawati sudah akrab dengan kecintaan alam sejak masih di bangku kuliah di Universitas Sumut, jurusan Biologi. Armawati mempelajari tentang pengelolaan sampah ini hanya secara otodidak lewat internet.

Tak ingin main-main dengan idenya untuk membuat bank sampah, Ia bahkan sudah melanglang buana ke beberapa negara untuk mendapatkan pendidikan tentang pengelolaan limbah, baik limbah rumah tangga maupun industri.

Keinginan untuk membuat bank sampah sudah Ia miliki sejak tahun 1980-an. Namun, Ia tak pernah mendapat perhatian serius dari pemerintah daerah.Ia kemudian membentuk sebuah komunitas. Bersama komunitas yang dibangun, Ia membentuk sejenis koperasi. Setiap anggota akan jadi nasabah dan mempunyai kartu tabungan sampah.Sampah di tempat pembuangan anggota komunitas akan mendapat pemahaman dan pelatihan bagaimana mengelola sampah organik maupun non organik. Setelah pemisahan jenis sampah, mereka dapat kemampuan membuat sesuatu yang bernilai ekonomi.Para anggota komunitas diberi pelatihan membuat kerajinan tangan seperti tas belanja, souvenir, perhiasan dan lain-lain. Nantinya, bisa dijual ke daerah-daerah wisata. Bahkan ada yang berhasil ekspor ke beberapa negara seperti India, Tiongkok, dan berbagai daerah di Eropa.

Di tahun 2012, Arma mulai memberikan edukasi tentang bank sampah. Saat ini, ada 214 kelompok dengan anggota sekitar 13.000 orang, yang tersebar di Aceh dan Sumatra Utara yang berminat ikut program bank sampah ini. Keuntungan dari program bank sampah ini bahkan pernah sampai Rp1,8 miliar.Pada 2018, Bank Sampah Induk Sicanang yang terletak di Sicanang, Belawan, akhirnya bisa bekerjasama dengan Pemerintah Kota Medan. Hampir semua program bank sampah menyetor ke tempat mereka. Kemudian, akan mereka teruskan ke industri daur ulang untuk pemasaran.“Misal, sampah dari kegiatan yang diselenggarakan Pekan Raya Sumatra Utara dan Medan Fair, banyak. Pengelolaan masih sangat buruk. Mereka setor langsung ke kita. Kita pisahkan dan kelola jadi barang,” katanya.

Membangun dan mengedukasi masyarakat tentang bank sampah ini bukanlah pekerjaan yang mudah. Butuh kerja keras dan kesabaran. Atas kesungguhannya ini, Armawati mendapat penghargaan baik lokal, nasional maupun internasional. Ia pernah mendapatkan Penghargaan Kartini dari Forum Jurnalis Perempuan pada 21 April 2016. Selain itu Ia juga mendapat Penghargaan Kartini Sumatra Utara Kategori Lingkungan Hidup dari Konsulat Jenderal India pada 21 April 2017.Pada 2010, Armawati mendapatkan penghargaan sebagai manajer fasilitator dan dikirim ke Kitakyusu, Jepang untuk mempelajari mekanisme dan proses pengelolaan sampah skala kota.“Setelah pulang dari Jepang, pada 2014, saya ditunjuk sebagai Direktur Bank Sampah Sicanang. Kerjasama antara Pemko Medan dan Pemko Kitakyusu, Jepang,” katanya.

Rekomendasi