Mengenal Upacara Bekarang Iwak, Tradisi Menjaga Ekosistem Lingkungan ala Masyarakat Sumatra Selatan
Tradisi masyarakat Sumatra Selatan ini tak hanya menjadi kearifan lokal, melainkan juga bermanfaat untuk menjaga ekosistem alam.
Tradisi masyarakat Sumatra Selatan ini tak hanya menjadi kearifan lokal, melainkan juga bermanfaat untuk menjaga ekosistem alam.
Mengenal Upacara Bekarang Iwak, Tradisi Menjaga Ekosistem Lingkungan ala Masyarakat Sumatra Selatan
Pulau Sumatera dikeliling oleh sungai-sungai yang mengaliri tiap daerah. Otomatis, banyak masyarakat yang hidup dan bermukim di sepanjang aliran sungai. Bahkan, beberapa daerah mempercayai bahwa nenek moyang mereka mendiami sungai tersebut.Selain keyakinan dan kepercayaan kepada leluhur, masyarakat bantaran sungai di Sumatera tentu tak lepas dari kebudayaan dan kearifan lokal yang sudah diwariskan secara turun-temurun. Salah satu budaya yang sampai sekarang masih dilaksanakan oleh masyarakat di Sumatera Selatan yang melibatkan sungai yaitu Upacara Bekarang Iwak.
Lantas, apa itu Upacara Bekarang Iwak? Simak ulasannya yang dirangkum oleh merdeka.com dari beberapa sumber berikut ini.
Tradisi Menangkap Ikan
Melansir dari jurnal 'Tinjauan Historis Bekarang: Warisan Budaya untuk Alam di Kecamatan Kikim Timur, Kabupaten Lahat', upacara Bekarang Iwak merupakan tradisi menangkap ikan menggunakan peralatan tradisional pada waktu tertentu.
Tradisi ini tak lepas dari kondisi geografis Provinsi Sumatera Selatan tepatnya di Kota Palembang yang kerap dijumpai aliran-aliran sungai. Banyak masyarakat yang memilih untuk bertempat tinggal di bantaran sungai atau tak jauh dari situ.Salah satu daerah yang masih melaksanakan tradisi ini secara rutin yaitu berada di Kecamatan Kikim Timur, tepatnya Desa Gelumbang dan Desa Gunung Kembang. Lazimnya, upacara ini dilaksanakan menjelang hari-hari besar seperti Hari Raya Idul Fitri, Idul Adha, atau pada waktu tertentu lainnya.
Dilaksanakan di Kawasan Khusus
Pelaksanaan Bekarang hanya dilakukan di sebuah kawasan yang disebut 'Lubuk Larangan'. Setiap orang yang memancing ikan tidak memperhatikan dampak lain dalam proses penangkapannya.
Cara penangkapan yang salah tentunya bisa merusak alam sekitar, bahkan populasi ikan juga akan semakin turun drastis. Lambat laun, jumlah ikan di sungai akan semakin berkurang, dan orang-orang semakin sulit untuk menangkapnya.
Sarat Nilai Kearifan Lokal
Pelaksanaan upacara Bekarang Iwak ini dilakukan oleh warga secara bersama-sama. Dengan menggunakan alat tradisional dan Lubuk Larangan, tentu ekosistem sungai akan terjaga dengan baik sekaligus menjaga populasi jumlah ikan.
Selain menjaga alam, Bekarang Iwak juga mengandung nila-nilai kearifan lokal, yang pertama munculnya rasa gotong royong sesama masyarakat. Kedua, sabar dan bekerja keras, karena Bekarang sendiri harus ekstra sabar dan kerja keras. Ketiga, saling percaya dan tanggung jawab.
Pelaksanaan Bekaran Iwak biasanya di Sungai Empayang dan Sungai Kikim. Suka cita bertumpah ruah di kedua sungai tersebut. Hasil dari Bekarang akan dibagikan ke masyarakat sekitar, ada yang dijual dan hasilnya untuk memenuhi kebutuhan desa.