Mengenal Ritual Manganjab, Tradisi Memohon Kesuburan Tanah di Simalungun
Merdeka.com - Masyarakat Batak memiliki berbagai macam tradisi yang selalu dilaksanakan secara turun temurun. Keyakinan yang kuat terhadap leluhur menjadi faktor utama dalam setiap pelaksanaan ritual.
Salah satu tradisi yang masih dilakukan hingga saat ini yaitu ritual Manganjab. Tradisi ini masih dilakukan oleh masyarakat di Desa Sihaporas, Kecamatan Pematang Sidamanik, Kabupaten Simalungun.
Masyarakat masih melakukan ritual ini sebagai bentuk penyembahan kepada sang pencipta atas kesuburan tanah sekaligus bentuk kehormatan kepada alam.
Erat dengan Tanah Pertanian
Melansir dari indonesia.go.id, tradisi Manganjab sendiri dilakoni oleh masyarakat adat keturunan Ompu Mamontang Laut Ambarita Sihaporas. Ritual ini memang begitu erat dengan dinamika pertanian di Desa Sihaporas.
Ompu Mamontang Laut bermarga Ambarita merupakan generasi kedelapan dari silsilah Siraja Batak.
Terdapat dua desa di Sihaporas yang masih memegang teguh dalam pelaksanaan tradisi Manganjab ini, di antaranya Desa Lumban Ambarita Sihaporas dengan jumlah 33 keluarga dan Desa Sihaporas Aek Batu yang berjumlah 40 keluarga.
Penduduk dari kedua desa tersebut memang memiliki mata pencaharian sebagai seorang petani. Wajar apabila tradisi Manganjab masih awet dilakukan di kedua desa tersebut. Biasanya mereka menanam jagung, padi, jahe, dan cabai.
Ditentukan dari Kalender Batak
Ritual Manganjab dilaksanakan berdasarkan kalender Batak di hari Sihori Purasa tepatnya pada bulan Mei. Prosesi ritual Manganjab diawali dengan prosesi ke area tempat ritual yang didominasi dengan kegiatan berdoa atau disebut Martonggo (dalam bahasa Batak).
Masih dalam prosesi Manganjab, masyarakat mengurbankan seekor kambing bersama dengan persembahan lainnya. Prosesi ini dimaknai sebagai persembahan kepada Mulajadi Nabolon atau Tuhan Pencipta Langit dan Bumi, Raja Uti, dan Sisingamangaraja.
Setelah ritual selesai, masyarakat kemudian menggelar santap bersama. Mereka menyantap nasi, Sitompion, dan itak atau beras yang ditumpuk dengan campurannya. Diakhiri dengan pembagian Sitompion kepada seluruh penggarap tanah untuk dipersembahkan ke lahan pertanian.
Penuh Makna
Tradisi ini memiliki keterkaitan erat dengan kehidupan manusia dengan alam yang ada disekitarnya.
Dengan bersahabat dengan alam dan menjaga kelestariannya, tentunya manusia otomatis akan merasakan manfaatnya secara langsung. Ketika tanaman subur, hasil pertanian melimpah, maka manusia bisa menikmati hasilnya dengan baik juga.
Ritual Manganjab jika dikaitkan dengan zaman sekarang, nampaknya masih cukup relevan karena seluruh prosesi yang dilaksanakan masih berupa dengan doa. Tradisi ini juga memberikan edukasi dan semangat kepada kaum Millenial untuk mencintai tradisi dan budaya Batak yang dicetuskan oleh leluhur.
(mdk/adj)Cobain For You Page (FYP) Yang kamu suka ada di sini,
lihat isinya