Kisah Sang 'Suster Apung' yang Tetap Mengabdi Meski Sudah Pensiun, 40 Tahun Lebih Naik Kapal Kecil Keliling Pulau Terpencil Demi Obati Orang

Andi Rabiah atau yang dikenal dengan sebutan Suster Apung setia naik kapal kecil keliling pulau terpencil demi obati orang.

Rizka Nur Laily M
Oleh Rizka Nur Laily M - Reporter
Kisah Sang 'Suster Apung' yang Tetap Mengabdi Meski Sudah Pensiun, 40 Tahun Lebih Naik Kapal Kecil Keliling Pulau Terpencil Demi Obati Orang
Kisah Sang 'Suster Apung' yang Tetap Mengabdi Meski Sudah Pensiun, 40 Tahun Lebih Naik Kapal Kecil Keliling Pulau Terpencil Demi Obati Orang (Merdeka.com)

Kisah Sang 'Suster Apung' yang Tetap Mengabdi Meski Sudah Pensiun, 40 Tahun Lebih Naik Kapal Kecil Keliling Pulau Terpencil Demi Obati Orang

Andi Rabiah dikenal dengan sebutan Suster Apung karena saking seringnya berlayar di laut.

Dok. Istimewa
Dok. Istimewa

Menjalani tugas sebagai nakes di pulau-pulau terpencil Indonesia selama 35 tahun tak membuat Andi Rabiah  puas. Setelah pensiun, ia tetap mengabdi menjadi perawat, bidan, bahkan dokter bagi masyarakat di kepulauan terpencil.  Terhitung, kini  sudah 40 tahun lebih ia menyusuri pulau terpencil untuk mengobati orang.

(Foto: IG @twoislandsdigital)

Sang Suster Apung

Hampir setiap hari Rabiah menerjang ombak dengan perahu kecil dari pulau ke pulau untuk memberikan pelayanan kesehatan.

Aktivitas Rabiah ini membuatnya dapat julukan Suster Apung. Ia kerap tidak memedulikan waktu apakah ombak sedang pasang atau surut demi menolong masyarakat yang sakit. 

Rabiah bekerja sebagai tenaga medis di sepuluh pulau kecil di antara 25 pulau yang tersebar di Perairan Flores sejak 10 Agustus 1978. Sehari-hari ia berkantor di Puskesmas Liukang Tangaya di Pulau Sapuka, Kabupaten Pangkep, Sulawesi Selatan.

Mengutip dari laman tokoh.id, rendahnya kualitas pelayanan kesehatan di pulau-pulau terpencil itu membuat Rabiah harus berperan ganda sebagai perawat, bidan, bahkan dokter. 

Tantangan awal yang dihadapi Rabiah sebagai tenaga medis adalah rendahnya kepercayaan masyarakat terhadap profesinya. Masyarakat kepulauan saat itu lebih banyak percaya dukun, termasuk untuk menangani persalinan.

Cita-cita Sejak Kecil

Perempuan kelahiran Kabupaten Pangkep pada 29 Juni 1957 ini mengenal dunia medis dari sang nenek.

Sejak kecil ia punya cita-citanya menjadi seorang tenaga medis. Demi menggapai cita-citanya, setelah lulus SMP pada tahun 1975, Rabiah melanjutkan pendidikan Penjenang Kesehatan (PK), sekolah kesehatan setingkat SMU.

Pada tahun 1977, setelah dua tahun menimba ilmu di PK, Rabiah diangkat menjadi pegawai negeri sipil di Puskesmas Liukang Tangaya, Pulau Saputan, Kecamatan Liukang Tangaya, Kabupaten Pangkep.

Dok. Istimewa
Dok. Istimewa

Mengutip dari akun Instagram @arfansabran, sutradara Film Suster Apung (2006), pengabdian Rabiah selama  35 tahun sebagai tenaga medis tak  membuat dirinya puas.  Pasalnya, ia merasa masih banyak masalah kesehatan yang dihadapi warga pulau terpencil.

(Foto: Instagram @twoislandsdigital)

Dok. Istimewa
Dok. Istimewa

Kini, usia Rabiah sudah tidak muda lagi, 66 tahun.  Lebih dari separuh usianya telah diabdikan untuk masyarakat pulau terpencil.

Dari masa tugas hingga kini sudah pensiun, terhitung 40 tahun lebih ia berlayar dari pulau satu ke pulau lain untuk memberikan pelayanan kesehatan. 

(Foto: Instagram @arfansabran)

Penghargaan

Penghargaan
Dok. Istimewa

Pengabdian Andi Rabiah diganjar penghargaan Liputan 6 Awards 2023 kategori kesehatan. Pada kesempatan yang sama, Menteri Perdagangan Zulkifli Hasan juga memberikan bantuan uang senilai Rp30 juta.

Dok. Istimewa
Dok. Istimewa

Sebelumnya, Rabiah juga pernah mendapatkan bantuan kapal motor dari Mantan Wakil Presiden Jusuf Kalla. Saat itu, Jusuf Kalla tersentuh melihat perjuangan Rabiah usai menonton sebuah tayangan di televisi. Kini, kapal motor pemberian JK itu jadi andalan Rabiah mengabdikan diri keliling pulau. 

(Foto: Liputan6)

Rabiah berjuang memberikan pelayanan kesehatan kepada masyarakat kepulauan terpencil dengan tulus ikhlas dan tanpa pamrih.

Rekomendasi