Kain Tenun Sengkang adalah Wastra Asal Sulawesi Selatan, Ini Maknanya
Merdeka.com - Keberagaman budaya di Indonesia menyediakan keunikan adat istiadat mulai dari kain adat, upacara adat, bahkan hingga rumah adat dan masih banyak lainnya. Sulawesi Selatan dengan masyarakat Bugisnya merupakan salah satu masyarakat memiliki budaya menenun kain sutra sejak tahun 1400-an.
Sutra dalam bahasa lokal (Bugis) disebut “sabbe” merupakan hasil kerajinan tenun yang menjadi kebanggaan suku Bugis, sehingga anggota masyarakat masih menggunakannya sebagai pakaian adat. Salah satu motif kain sutra Bugis yang terkenal yaitu kain tenun Sengkang.
Kain Sengkang juga pernah diulas dalam siaran program Belajar dari Rumah di TVRI. Jadi sebenarnya apa makna dan filosofi di balik kain tenun Sengkang yang kini populer? Berikut merdeka.com merangkum ulasan mengenal perihal kain tenun Sengkang:
Kain Sengkang di Kota Sengkang

©2021 Merdeka.com/ instagram/tenun_sengkang
Kain tenun Sengkang adalah kain sutra motif warisan nusantara Sulawesi Selatan. Sengkang merupakan ibukota dari Kabupaten Wajo di Sulawesi Selatan. Berjarak kurang lebih 250 km dari Makassar, Sengkang dikenal sebagai kota penghasil sutra terbesar di Sulawesi Selatan.
Motif khas Sutra di Sengkang di antaranya yaitu seperti Sirsak Coppobola, Ballo Makalu, Ballo Renni, Cabosi dan Lagosi serta motif nusantara lainnya. Dari hulu ke hilir, hampir seluruh wilayah di Kabupaten Wajo ini dipenuhi oleh petani ulet sutera hingga peranjin tenun sutera. Di salah satu desa yang disebut Desa Pakanna bahkan dijuluki sebagai kampung penenun.
Proses pembuatan benang sutera menjadi kain kain sutera masyarakat umumnya masih menggunakan peralatan tenun tradisional yaitu alat tenun gedongan dengan berbagai macam corak yang diproduksi seperti corak “Balo Tettong”(bergaris atau tegak), corak “Makkulu” (melingkar), corak “Mallo’bang” (berkotak kosong), corak “Balo Renni” (berkotak kecil).
Selain itu ada juga diproduksi dengan mengkombinasikan atau menyisipkan “Wennang Sau” (lusi) timbul serta corak “Bali Are” dengan sisipan benang tambahan yang mirip dengan kain Damas.
Nilai Tradisi dan Makna Kain Tenun Sengkang
Bagi masyarakat Bugis kain tenun memiliki nilai tradisi dan budaya dari nenek moyang mereka beratus tahun lalu, Kain tenun menjadi pakaian keseharian dan sebagai alat untuk menutup tubuh dalam dalam menahan pengaruh dari alam sekitar.
Kain tenun Sengkang juga digunakan sebagai hadiah dan sebagai symbol status dan gengsi yang dianggap suci. Tak hanya itu kain tenun juga merupakan pakaian dan benda yang digunakan dalam upacara adat.
Setiap motif kain tenun Sengkang memiliki makna simbolisnya masing-masing. MIsalnya saja motif Mappagiling. Motif tersebut dibuat oleh seorang wanita yang ditinggalkan oleh suaminya namun akhirnya suaminya kembali pulang karena melihat motif tersebut yang dibelinya dari seorang pedagang sutera yang menjual kain motif hasil tenunan istrinya.
Setiap warna juga dipertimbangkan, sebab bagi masyarakat Bugis, setiap warna memiliki makna tertentu seperti warna merah yaitu berani karena benar, putih yang berarti kesucian, hijau yang berarti subur dan makmur, dan kuning yang berarti indah serta mulia. Dalam penggunaan warna sering juga dihubungkan dengan sifat kejiwaan seseorang, seperti warna hitam dihubungkan dengan kedukaan, merah dihubungkan dengan perasaan gembira, dan putih dihubungkan dengan kesucian.
(mdk/amd)Cobain For You Page (FYP) Yang kamu suka ada di sini,
lihat isinya