Sering Sakit Kepala Tiba-Tiba? Jangan Diremehkan Bisa Jadi Gejala Stroke Ringan

Jangan sepelekan sakit kepala yang tiba-tiba muncul! Hal ini bisa menjadi indikasi adanya stroke ringan.

Pramita Tristiawati
Oleh Pramita Tristiawati - Reporter
Sering Sakit Kepala Tiba-Tiba? Jangan Diremehkan Bisa Jadi Gejala Stroke Ringan
Penderita stroke ringan bila ditangani dengan cepat dan tepat, ternyata bisa memungkinkan sembuh, tanpa harus khawatir akan kambuh menjadi stroke berat. (© 2025 Liputan6.com)

Penderita stroke ringan memiliki kesempatan untuk sembuh dengan baik jika mendapatkan penanganan yang cepat dan tepat, sehingga tidak perlu khawatir kondisi mereka akan memburuk menjadi stroke berat. Dr. Harsan, Sp. BS, K, yang merupakan Dokter Spesialis Bedah Saraf Sub Spesialis Bedah Saraf Neurovaskular di Siloam Hospitals Lippo Village, memberikan penjelasan mengenai langkah-langkah yang harus diambil ketika ada anggota keluarga yang mengalami penyakit penyumbatan pembuluh darah di otak.

Menurut Dr. Harsan, gejala sekecil apapun yang bisa mengarah pada stroke sebaiknya segera diperiksakan ke rumah sakit terdekat. Contohnya, jika seseorang mengalami sakit kepala yang mendadak dan sangat hebat, seperti sensasi dipukul, maka sebaiknya segera berkonsultasi dengan dokter. "Jangan anggap remeh gejala yang ditunjukkan tubuh. Sekecil apapun, segera lakukan pemeriksaan, terutama jika memiliki faktor risiko seperti hipertensi, diabetes, kolesterol tinggi, obesitas, atau merokok," tegas Dr. Harsan.

Apabila terjadi kerusakan pada pembuluh darah utama, dampak pada otak bisa jauh lebih luas. Gejala yang muncul juga bervariasi, seperti kesulitan berbicara yang mendadak tidak jelas, tangan yang tiba-tiba lemas, atau kesulitan dalam bergerak. Oleh karena itu, penting untuk tidak menunda tindakan medis saat menemukan tanda-tanda tersebut.

Gejala stroke ringan dapat muncul secara tiba-tiba, seperti kesulitan berbicara yang mungkin akan kembali normal setelah pasien beristirahat. Penentuan apakah seseorang mengalami stroke ringan atau berat tidak ditentukan oleh pasien atau keluarganya, melainkan oleh tenaga medis yang berkompeten.

Ketika pasien tiba di rumah sakit dengan gejala stroke, dokter akan melakukan pemeriksaan menggunakan CT-Scan atau MRI untuk mendeteksi adanya sumbatan pada pembuluh darah di otak. Apabila ada indikasi penyumbatan, Siloam Hospitals akan melanjutkan dengan pemeriksaan Digital Subtraction Angiography (DSA) untuk mendapatkan gambaran lebih jelas mengenai kondisi pembuluh darah.

Teknik DSA memungkinkan visualisasi pembuluh darah otak secara detail dengan cara menghilangkan bayangan dari tulang dan jaringan sekitarnya. "Dengan DSA, terlihat pembuluh darah yang tersumbat di mana, sebesar apa, dan berapa persen, sehingga kami bisa menentukan langkah pengobatan selanjutnya," jelas Dr. Harsan.

Prosedur DSA dilakukan dengan menyuntikkan zat kontras ke dalam pembuluh darah melalui kateter kecil. Zat kontras ini sangat membantu dalam memperlihatkan bentuk pembuluh darah dengan jelas, tanpa terhalang oleh tulang atau organ lainnya, bahkan dapat dilihat dalam tampilan tiga dimensi.

Hasil dari pemeriksaan ini memungkinkan dokter untuk mengidentifikasi adanya penyempitan atau penyumbatan pada pembuluh darah, serta mendeteksi pelebaran pembuluh darah yang dikenal sebagai aneurisma yang berisiko pecah. Selain itu, pemeriksaan ini juga dapat mengungkap kelainan pembuluh darah seperti arteriovenous malformation (AVM). "Pemeriksaan DSA memberikan informasi sangat detail terkait kondisi pembuluh darah otak. Hal ini membantu kami merencanakan terapi terbaik, baik untuk pencegahan maupun penanganan kasus vaskular kompleks," ungkap Dr. Harsan.

Pemeriksaan DSA sangat dianjurkan bagi pasien yang mengalami gejala seperti sakit kepala hebat yang muncul tiba-tiba, pusing yang berulang, serta memiliki riwayat stroke atau stroke ringan. Gejala lain yang juga menjadi pertimbangan adalah gangguan bicara atau kelemahan pada salah satu sisi tubuh. Jika hasil CT Scan atau MRI menunjukkan adanya kelainan pada pembuluh darah, atau terdapat riwayat keluarga yang memiliki aneurisma, maka pemeriksaan DSA pun disarankan.

Semakin cepat pasien menerima perawatan medis, semakin besar kemungkinan untuk sembuh dari stroke. Periode kritis untuk penanganan adalah 6 jam sejak gejala pertama kali muncul.

Di Kementerian Kesehatan, periode ini dikenal dengan akronim SEGERA, yang mencakup senyum tidak simetris, gerakan separuh tubuh yang melemah secara tiba-tiba, bicara pelo, dan gejala tambahan seperti pandangan kabur, kebas di satu sisi tubuh, atau sakit kepala hebat yang mendadak. "Saat pasien tiba di UGD, tim medis akan menanyakan waktu kemunculan gejala. Hal ini sangat penting, karena dapat menentukan langkah penanganan yang tepat," jelas Dr. Harsan.

Rekomendasi