Jarang Cuti Berdampak Terhadap Kesehatan Fisik dan Mental Pekerja, Begini Penjelasannya

Bekerja tanpa henti tanpa mengambil waktu istirahat dapat menyebabkan akumulasi stres secara bertahap.

Titin Sahra Melani
Oleh Titin Sahra Melani - Reporter
Jarang Cuti Berdampak Terhadap Kesehatan Fisik dan Mental Pekerja, Begini Penjelasannya
Sahabat Fimela, pernahkah kamu merasa nggak nyaman di kantor dan bingung bagaimana cara menyampaikannya dengan rekan kerjamu? Berikut ini 5 tips cara yang dapat kamu ikuti. [Dok/freepik.com] (© 2026 Liputan6.com)

Mengambil cuti dari pekerjaan adalah hal yang sangat penting, namun seringkali banyak pekerja yang membiarkan hak cuti mereka terabaikan. Baik itu dalam bentuk liburan, staycation, atau sekadar jeda singkat, waktu istirahat memiliki peranan yang krusial untuk membantu tubuh dan pikiran melepaskan diri dari tekanan rutinitas kerja sehari-hari.

Mengambil cuti tidak berarti menghindari tanggung jawab; sebaliknya, waktu istirahat justru membantu pekerja untuk menjaga stamina agar tetap bisa berkinerja optimal. Tanpa cukup istirahat, stres dapat menumpuk dan memengaruhi cara tubuh serta pikiran menghadapi tekanan sehari-hari, seperti yang dilaporkan oleh Verywell Mind pada Senin, 5 Januari 2026.

Manusia secara alami dirancang untuk menghadapi stres dalam jangka waktu yang singkat. Namun, masalah akan muncul ketika stres berlangsung terus-menerus dan respons terhadap stres aktif secara berulang, yang sering terjadi pada pekerjaan yang menuntut atau penuh tekanan.

Stres kronis dapat meningkatkan risiko berbagai masalah kesehatan, mulai dari sakit kepala yang berulang, gangguan pencernaan, hingga tekanan darah tinggi yang berhubungan dengan penyakit jantung dan stroke. Ketika tingkat stres menumpuk atau allostatic load meningkat, tubuh akan berada dalam kondisi siaga yang berkepanjangan.

Dalam keadaan ini, bahkan hal-hal positif sekalipun bisa terasa melelahkan karena memerlukan energi. Seseorang tidak lagi merespons dengan tenang dan jernih, melainkan dengan kecemasan atau bekerja secara otomatis tanpa kesadaran penuh. Jika kondisi ini dibiarkan, dapat berujung pada burnout, yang ditandai dengan kelelahan, penurunan produktivitas, dan perasaan tertekan.

Tidak semua orang menyadari bahwa mereka mungkin sudah berada dalam kondisi kelelahan. Stres sering kali datang secara perlahan dan sulit untuk dikenali. Setiap individu memiliki cara berbeda dalam merespons stres, namun terdapat beberapa gejala umum yang sering terlihat, seperti:

  1. Perubahan dalam pola makan,
  2. Munculnya sikap sinis terhadap pekerjaan,
  3. Sulit untuk berkonsentrasi,
  4. Sering mengalami sakit,
  5. Kehilangan energi dan motivasi,
  6. Suasana hati yang menurun dan mudah frustrasi,
  7. Merasa tidak fokus atau merasa kepala penuh,
  8. Keluhan fisik seperti sakit kepala atau nyeri perut,
  9. Penurunan performa kerja,
  10. Gangguan tidur,
  11. Penggunaan alkohol atau obat-obatan sebagai cara untuk menghadapi stres, dan
  12. Menarik diri dari interaksi sosial.

Tanda-tanda tersebut biasanya muncul pada pekerja yang terus-menerus bekerja tanpa memberikan waktu istirahat yang memadai. Oleh karena itu, penting untuk mengenali gejala-gejala ini agar dapat mengambil langkah yang tepat sebelum stres semakin parah.

Jarang Ambil Cuti? Ini Dampaknya bagi Tubuh dan Pikiran Pekerja
Sahabat Fimela, pernahkah kamu merasa nggak nyaman di kantor dan bingung bagaimana cara menyampaikannya dengan rekan kerjamu? Berikut ini 5 tips cara yang dapat kamu ikuti. [Dok/freepik.com] © 2026 Liputan6.com

Pengambilan cuti sebaiknya tidak ditunda hingga tubuh mengalami kelelahan yang parah. Ketika seseorang merasa kurang berenergi, tidak termotivasi, tidak kreatif, dan tidak sepenuhnya terlibat dalam pekerjaan atau hubungan sosial, maka mengambil waktu untuk beristirahat dapat menjadi solusi yang efektif untuk mengelola stres sejak dini. Rachel Goldman, PhD, FTOS, seorang psikolog yang mengkhususkan diri dalam kesehatan dan kesejahteraan, mengemukakan bahwa istirahat merupakan bentuk perawatan pencegahan. Ia menekankan pentingnya melakukan jeda secara teratur agar stres tetap terkelola dengan baik dan risiko burnout dapat diminimalkan.

Mengambil cuti atau jeda singkat memberikan kesempatan untuk menjauh secara fisik dan mental dari tuntutan pekerjaan. Terdapat beberapa keuntungan yang dapat dirasakan, di antaranya: 1. Mengurangi stres. Jauh dari lingkungan yang penuh tekanan dapat membantu menghentikan siklus stres yang berlangsung terus-menerus. Jeda ini memberi peluang bagi tubuh untuk keluar dari kondisi siaga dan menurunkan ketegangan yang telah terakumulasi.

2. Memberi waktu pemulihan. Stres yang berkepanjangan dapat menguras energi baik fisik maupun mental. Dengan mengambil waktu untuk beristirahat, tubuh dan pikiran memiliki kesempatan untuk kembali ke keadaan yang lebih seimbang dan sehat.

3. Membantu berpikir lebih jernih. Respons stres yang terus-menerus aktif dapat mengganggu daya ingat serta kreativitas. Ketika tekanan berhenti sejenak, pikiran menjadi lebih segar, sehingga lebih mudah untuk fokus dan menemukan ide-ide baru.

4. Mendukung produktivitas setelah kembali bekerja. Dengan stres yang lebih terkelola, energi dan fokus seseorang akan meningkat. Hal ini membuat individu lebih efektif dalam bekerja, lebih hadir dalam interaksi sosial, dan lebih mampu menikmati aktivitas sehari-hari.

Rekomendasi