Dokter spesialis anak, Devie Kristiani dari RS Bethesda Yogyakarta, menjelaskan bahwa gejala anemia defisiensi besi sering kali tidak disadari pada awalnya.
"Anak mungkin tampak pucat, mudah lelah, lesu, atau kurang aktif. Gejala lain yang perlu diwaspadai meliputi berat badan sulit naik, pertumbuhan terlambat, penurunan nafsu makan, hingga kebiasaan pica (memakan benda bukan makanan seperti tanah atau es batu)," kata Devie dalam keterangan persnya pada Kamis (27/11).
Anemia defisiensi besi merupakan salah satu masalah gizi yang sering terjadi tanpa disadari, dikenal sebagai silent disease, dan dapat berdampak signifikan terhadap kualitas hidup anak.
Kondisi ini masih menjadi tantangan serius bagi Indonesia, terutama karena anemia berkontribusi terhadap tingginya angka stunting. Survei Kesehatan Indonesia (SKI) 2023 menunjukkan bahwa 1 dari 4 anak Indonesia mengalami anemia, yang menjadi salah satu penyebab keterlambatan pertumbuhan dan perkembangan otak anak.
Anemia defisiensi besi terjadi ketika tubuh kekurangan zat besi yang diperlukan untuk membentuk hemoglobin, protein yang sangat penting dalam sel darah merah yang berfungsi mengangkut oksigen ke seluruh tubuh. Jika dibiarkan, kondisi ini dapat menghambat tumbuh kembang anak, menurunkan daya tahan tubuh, dan memengaruhi kecerdasan serta prestasi belajar.
Devie menekankan bahwa anemia defisiensi besi bukan hanya masalah kurang darah. Kondisi ini memiliki dampak langsung pada perkembangan saraf dan otak.
Penelitian menunjukkan bahwa anak-anak dengan anemia defisiensi besi memiliki skor kognitif, kemampuan psikomotor, serta konsentrasi yang lebih rendah dibandingkan anak-anak dengan kadar zat besi yang memadai. Hal ini berpengaruh pada kesiapan mereka untuk belajar di sekolah dan performa akademik dalam jangka panjang.
"Oleh sebab itu, penting bagi orang tua untuk memastikan anak mendapatkan kecukupan zat besi dimulai dari periode air susu ibu (ASI) eksklusif untuk memenuhi kebutuhan zat besi pada tahap awal kehidupannya," tutup Devie.
Advertisement
Faktor Penyebab Anak Kekurangan Zat Besi
Kekurangan zat besi pada anak biasanya disebabkan oleh asupan makanan yang minim zat besi, penyerapan zat besi yang kurang efektif, atau kehilangan darah akibat infeksi kronis. Beberapa kelompok anak memiliki risiko yang lebih tinggi terhadap kondisi ini, seperti bayi prematur, anak-anak yang lahir dari ibu yang mengalami anemia selama kehamilan, serta anak yang mengonsumsi Makanan Pendukung ASI (MPASI) yang rendah zat besi.
Faktor gaya hidup juga berperan dalam masalah ini. Misalnya, konsumsi teh, kopi, atau coklat dapat menghambat penyerapan zat besi di dalam usus. Sebaliknya, penyerapan zat besi bisa ditingkatkan dengan mengonsumsi vitamin C dan susu pertumbuhan yang diperkaya dengan zat besi.
"Dalam pencegahan anemia defisiensi besi, dibutuhkan tindakan preventif dimulai dari rutin melakukan pengecekan status kecukupan zat besi dengan skrining atau deteksi dini dan mencukupi kebutuhan nutrisi yang kaya akan zat besi," kata Devie.
"Selain itu, konsumsi vitamin C membantu meningkatkan penyerapan zat besi hingga dua kali lipat. Di sisi lain, susu pertumbuhan yang difortifikasi dapat menjadi pilihan pelengkap nutrisi harian mendukung kecukupan zat besi anak," tambah Devie.
Advertisement
Cara Pencegahan
Devie menjelaskan bahwa anemia defisiensi besi sebenarnya dapat dicegah dan diatasi dengan langkah-langkah yang cukup sederhana. Beberapa langkah tersebut meliputi:
- Mengombinasikan makanan yang kaya zat besi dengan sumber vitamin C seperti jeruk, stroberi, dan tomat untuk meningkatkan penyerapan zat besi.
- Memberikan suplemen zat besi sesuai dengan rekomendasi tenaga kesehatan, terutama bagi anak-anak yang lahir prematur atau yang berada dalam kategori berisiko tinggi.
- Mengurangi konsumsi teh, kopi, atau coklat bersamaan dengan waktu makan untuk memaksimalkan penyerapan zat besi.
- Memastikan kecukupan nutrisi harian, dan jika diperlukan, mendukungnya dengan susu pertumbuhan yang telah difortifikasi dengan zat besi.
- Melakukan konsultasi rutin dengan dokter untuk memantau kecukupan nutrisi anak secara keseluruhan.
Advertisement
Konsumsi Makanan Vitamin C
Direktur Medical & Scientific Affairs Sarihusada, Ray Wagiu Basrowi mengungkapkan bahwa ia telah melakukan penelitian ilmiah mengenai penyerapan zat besi dan hubungan eratnya dengan vitamin C.
"Inovasi ini kami kembangkan berdasarkan penelitian ilmiah yang kami lakukan secara konsisten dalam dua dekade terakhir, termasuk riset terkait penyerapan zat besi yang meningkat signifikan ketika dikombinasikan dengan vitamin C," jelas Ray.
Kombinasi ini dapat mendukung penyerapan zat besi hingga dua kali lipat. Inovasi tersebut diwujudkan melalui produk susu SGM Eksplor dengan IronC.
Penelitian menunjukkan bahwa anak-anak Indonesia berusia 1-3 tahun yang secara teratur mengonsumsi dua gelas susu pertumbuhan ini setiap hari, ditambah dengan makanan bergizi seimbang, terbukti memenuhi kecukupan asupan zat besi harian sesuai dengan angka kecukupan gizi (AKG).
Ray juga menekankan komitmen Sarihusada terhadap penelitian berkelanjutan yang berfokus pada peningkatan status gizi anak-anak Indonesia, termasuk publikasi ilmiah mengenai pemenuhan zat besi dan dampaknya terhadap tumbuh kembang.
"Sarihusada berkomitmen pada penelitian berkelanjutan yang berfokus pada peningkatan status gizi anak Indonesia, termasuk publikasi ilmiah mengenai pemenuhan zat besi dan dampaknya terhadap tumbuh kembang," ujar Ray.
Selain inovasi produk dan komitmen pada penelitian berkelanjutan, Ray juga mengembangkan alat bantu digital bernama 'Kalkulator Zat Besi' yang dapat diakses di laman generasimaju.co.id. Alat ini dirancang untuk membantu orang tua menghitung kebutuhan zat besi harian anak dan melakukan deteksi awal terhadap risiko anemia defisiensi besi.
Ray menegaskan pentingnya deteksi dan intervensi dini dalam mencegah anemia defisiensi besi.
"Deteksi dan intervensi dini menjadi kunci dalam mencegah anemia defisiensi besi. Dengan asupan nutrisi yang tepat, pemantauan rutin, dan edukasi berkelanjutan, kita bisa membantu anak-anak Indonesia tumbuh sehat dan mencapai potensi maksimal mereka," tutup Ray.