Masyarakat perlu menyadari bahwa body shaming bukanlah masalah utama lagi; obesitas kini telah dianggap sebagai penyakit. Jika tidak ditangani dengan serius, obesitas dapat meningkatkan risiko terkena penyakit kardiovaskular.
"Dulu, ada anggapan bahwa kelebihan berat badan dapat berisiko mengakibatkan penyakit. Namun, saat ini, obesitas sendiri telah diakui sebagai penyakit. Jadi, kita harus menganggap obesitas sebagai suatu penyakit," jelas Dr. dr. Vito A. Damay, Sp.JP(K), dalam acara Hari Jantung Sedunia yang diadakan oleh Perhimpunan Dokter Spesialis Kardiovaskular Indonesia (PERKI Indonesian Heart Association), Yayasan Jantung Indonesia (YJI), dan Novo Nordisk di Eastvara BSD, Kabupaten Tangerang, pada Minggu (28/9).
Lebih lanjut, Vito menerangkan bahwa obesitas dikategorikan sebagai penyakit karena dapat memicu berbagai penyakit lain yang menyertainya. Penyakit-penyakit tersebut meliputi hipertensi atau tekanan darah tinggi, hiperlipidemia yang berkaitan dengan kolesterol dan trigliserida tinggi, serta peningkatan kadar gula darah.
Ketiga kondisi metabolik ini menjadi faktor risiko bagi penyakit jantung koroner dan masalah kardiovaskular lainnya, seperti penyempitan pembuluh darah yang dapat menyebabkan serangan jantung.
"Bagi para dokter spesialis jantung, penting untuk melihat obesitas dan penyakit jantung sebagai dua kondisi kronis yang saling berhubungan. Mereka harus memastikan bahwa pasien menerima perawatan yang komprehensif dan berbasis bukti untuk mengurangi risiko," tuturnya.
Advertisement
Vito juga mengungkapkan bahwa penumpukan lemak berlebihan dalam tubuh, atau yang dikenal sebagai obesitas, dapat menimbulkan bahaya akibat faktor inflamasi. Lemak yang menumpuk ini akan melepaskan zat-zat yang menyebabkan peradangan, dan jika dibiarkan dalam jangka waktu yang lama, dapat merusak pembuluh darah.
"Nah, kalau kronis begitu, bisa menyebabkan kerusakan pembuluh darah. Kalau di jantung paling terkenal serangan jantung, ini berawal dari penyempitan pembuluh darah," jelasnya.
Seharusnya, pembuluh darah memiliki lapisan yang halus dan dapat mengalirkan darah dengan lancar tanpa adanya hambatan. Namun, jika pembuluh darah mengalami kerusakan akibat inflamasi, seperti yang disebabkan oleh hiperkolesterol, hipertensi, atau diabetes, maka kondisi ini dapat menyebabkan penyempitan. "Penyempitan ini pelan-pelan, tidak langsung 100 persen, mungkin dari 10, 20 persen, tiba-tiba serangan jantung. Makanya orang bilang mendadak, tapi dia lupa bila ada diabetes," tambahnya.
Oleh karena itu, menjaga berat badan serta ukuran lingkar pinggang yang ideal sangatlah penting. Hal ini dapat membantu menghindari risiko penyakit kardiovaskular lainnya. "Sebab, dalam data JKN pun, penyakit kardiovaskular menempati nomor satu pengeluaran terbesar. Sebenarnya ini bisa dihindari, bisa ditangani, enggak perlu alat mahal, jadi bisa dicegah dengan menghindari faktor pemicunya," tutup Vito.
Advertisement
Dalam rangka memperingati Hari Jantung, Novo Nordisk Indonesia menegaskan kembali komitmennya untuk mendukung inisiatif nasional dalam menurunkan angka penyakit kardiovaskular dengan fokus pada penanganan obesitas melalui solusi inovatif yang berbasis pada bukti ilmiah.
"Kami ingin meningkatkan kesadaran masyarakat terhadap penyakit jantung, agar orang Indonesia lebih memahami cara melindungi jantung mereka," ungkap Sreerekha Sreenivasan, GM Novo Nordisk Indonesia, pada kesempatan tersebut.
Oleh karena itu, mulai hari ini, penting bagi setiap individu untuk mengenali berat badan mereka. Jika berat badan sudah melebihi batas normal, segera konsultasikan dengan dokter untuk melakukan pemeriksaan kesehatan secara menyeluruh dan melakukan perubahan gaya hidup yang diperlukan.
"Perubahan gaya hidup tetap menjadi pilar utama dalam penanganan obesitas dan penyakit kardiovaskular. Kunjungi Novocare untuk memahami lebih jauh agar kita bisa bersama mengurangi penyakit jantung di Indonesia," tambahnya.
Pada peringatan Hari Jantung kali ini, Novo Nordisk Indonesia bekerja sama dengan PERKI dan YJI mengadakan acara publik yang dihadiri oleh lebih dari 2.000 peserta. Kegiatan tersebut meliputi jalan sehat komunitas, lari 5 dan 10 km, serta sesi edukasi kesehatan yang ditujukan untuk masyarakat mengenai obesitas dan penyakit kardiovaskular.