Bahaya Putus Obat TBC: Risiko Tuberkulosis Resisten Obat dan Proses Pengobatannya yang Panjang

Pengobatan TBC yang terputus bisa menyebabkan kuman menjadi kebal obat. Kenali bahaya TB resisten obat dan pentingnya menjalani terapi hingga sembuh total.

adinda nur shyavira
Oleh adinda nur shyavira - Reporter
Bahaya Putus Obat TBC: Risiko Tuberkulosis Resisten Obat dan Proses Pengobatannya yang Panjang
Bahaya Putus Obat TBC: Risiko Tuberkulosis Resisten Obat dan Proses Pengobatannya yang Panjang (Merdeka.com)

Di tengah upaya global untuk memberantas tuberkulosis (TBC), masih banyak tantangan yang dihadapi, terutama dalam hal kepatuhan pasien terhadap pengobatan. Salah satu masalah paling serius adalah putusnya pengobatan TBC sebelum waktunya. Hal ini tidak hanya memperburuk kondisi pasien, tetapi juga membuka peluang munculnya jenis tuberkulosis yang jauh lebih sulit ditangani: tuberkulosis resisten obat (TB RO).

Ketua Unit Kerja Koordinasi Respirologi Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI), Dr. dr. Nastiti Kaswandani, Sp.A, Subsp.Resp (K), menegaskan pentingnya minum obat secara teratur dan tuntas. Ia memperingatkan bahwa jika pengobatan TBC terputus, bukan hanya menyulitkan proses penyembuhan, tetapi juga memungkinkan kuman menjadi kebal terhadap obat yang sebelumnya efektif.

Dilansir dari ANTARA, dr. Nastiti mengungkapkap, “itu ada bahayanya, bukan hanya tidak sembuh, tetapi si kuman yang sedang diobati itu menjadi kebal obat.".

Tuberkulosis Resisten Obat (TB RO) terjadi ketika bakteri penyebab TBC, Mycobacterium tuberculosis, tidak lagi mempan terhadap obat anti-tuberkulosis (OAT) lini pertama. Ini adalah kondisi yang serius dan memerlukan penanganan lebih rumit. Pasien TB RO harus menjalani pengobatan selama 9 hingga 24 bulan, dengan konsumsi obat yang lebih banyak dan pemantauan medis yang lebih ketat.

Menurut dr. Nastiti, pasien yang mengalami TB RO tidak hanya menghadapi tantangan pengobatan yang lebih panjang dan berat, tetapi juga berisiko menularkan kuman kebal obat kepada orang lain. Hal ini tentu menyulitkan upaya penanggulangan TBC secara luas di masyarakat.

“Pasien TB RO bisa menularkan kuman yang sudah kebal terhadap obat kepada orang lain dan kondisi ini menyulitkan upaya penanggulangan tuberkulosis,” ujar dr. Nastiti. Karena itu, pengobatan TBC harus dijalani secara konsisten sampai tuntas, sesuai dengan standar dan rekomendasi medis.

Putus obat pada pasien TBC bisa terjadi karena berbagai alasan, seperti lupa minum obat selama beberapa hari berturut-turut, efek samping yang dirasakan, atau bahkan ketidaktahuan tentang pentingnya menyelesaikan pengobatan. Ada pula kasus pasien yang sering memuntahkan obat yang telah diminum, sehingga efektivitas pengobatan berkurang.

Menurut dr. Nastiti, pasien yang putus obat perlu menjalani pemeriksaan ulang untuk menilai kemungkinan resistensi obat. Jika terbukti mengalami TB RO, pengobatan harus diulang dengan protokol yang berbeda, lebih intensif, dan lebih lama.

Namun, bukan berarti satu kali lupa minum obat artinya harus memulai dari awal. Dokter akan mengevaluasi berdasarkan persentase kepatuhan pasien terhadap pengobatan. “Bukan juga berarti sudah minum obat empat bulan teratur, kemudian satu hari lupa atau ketinggalan ketika pergi keluar kota, itu bukan berarti mulai lagi dari awal,” kata dr. Nastiti.

“Dokter akan memperhitungkan berapa persentase obat yang sudah berhasil diminum, berapa yang miss (terlewat), kalau miss-nya sedikit, obat bisa tetap dilanjutkan,” lanjutnya.

Pengobatan TBC, terutama dengan obat-obat kuat seperti OAT, memang bisa menimbulkan efek samping, salah satunya adalah gangguan pada hati. Dalam beberapa kasus, pasien mengalami gejala seperti kulit atau mata yang menguning, yang disebabkan oleh lever yang sedang beradaptasi terhadap obat.

Jika ini terjadi, dokter biasanya akan menyarankan penghentian sementara konsumsi obat hingga kondisi pasien stabil. Setelah itu, pengobatan dilanjutkan kembali agar proses penyembuhan tidak terganggu total.

Pemantauan intensif sangat dibutuhkan terutama pada dua bulan pertama pengobatan, saat tubuh mulai merespons obat. Tanda-tanda keberhasilan terapi mulai terlihat dalam bentuk penurunan frekuensi demam, peningkatan berat badan, dan perbaikan gejala klinis lainnya.

Meski pengobatan TBC menantang, harapan untuk sembuh sepenuhnya tetap terbuka lebar. Dr. Nastiti menekankan bahwa jika pasien, terutama anak-anak, menyelesaikan pengobatan dengan baik, maka tidak akan ada efek jangka panjang yang membahayakan.

“Pada anak, ketika sudah menyelesaikan pengobatan dengan obat anti-tuberkulosis, secara full sudah sembuh, jangka panjangnya tidak akan berefek apa-apa lagi,” jelasnya.

Namun, semua ini bergantung pada satu hal krusial: kepatuhan terhadap pengobatan. Pasien harus memahami bahwa pengobatan TBC bukan sekadar rutinitas, melainkan perjuangan menyelamatkan diri dan orang-orang di sekitarnya dari bahaya kuman yang makin sulit dikendalikan.

Tuberkulosis masih menjadi ancaman serius bagi kesehatan masyarakat. Salah satu kunci utama untuk menekan penyebaran dan menurunkan angka kematian akibat penyakit ini adalah dengan memastikan bahwa pengobatan dijalani secara lengkap dan konsisten. TB RO adalah konsekuensi nyata dari kelalaian atau ketidaktahuan terhadap pentingnya kepatuhan dalam berobat.

Dengan pengawasan medis yang tepat, informasi yang jelas, dan dukungan dari keluarga maupun lingkungan sekitar, pasien TBC dapat menyelesaikan pengobatan dengan baik dan sembuh total tanpa risiko komplikasi lebih lanjut. Jangan sampai lengah. TBC bisa disembuhkan—asal tidak berhenti di tengah jalan.

Rekomendasi