Dokter Anak: Minum Susu Berlebihan Berpotensi Obesitas

Konsumsi susu lebih dari 480 ml per hari pada anak di atas usia 1 tahun, tidak dianjurkan oleh Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI).

Haris Kurniawan
Oleh Haris Kurniawan - Reporter
Dokter Anak: Minum Susu Berlebihan Berpotensi Obesitas
Minum Susu (Freepik.com)

Pernyataan Kepala Badan Gizi Nasional (BGN) yang menyebut konsumsi susu dua liter per hari dapat menambah tinggi badan anak menuai sorotan. Dokter spesialis anak, dr. Ian Suryadi Suteja, M.Med Sc, Sp.A, menegaskan bahwa klaim tersebut keliru dan justru bisa berdampak negatif terhadap kesehatan anak.

Dalam wawancara, dr. Ian menjelaskan bahwa konsumsi susu yang berlebihan, terutama lebih dari 480 ml per hari pada anak di atas usia 1 tahun, tidak dianjurkan oleh Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI). “Konsumsi susu harus disesuaikan dengan usia. Jika berlebihan, justru berisiko menyebabkan obesitas dan kekurangan mikronutrien lain,” ujarnya.

Menurut dr. Ian, kebutuhan susu anak berbeda-beda tergantung usia dan berat badan. Pada bayi usia 0-6 bulan, susu mencakup 100% kebutuhan kalori. Namun, seiring bertambahnya usia, proporsi ini menurun: 70% pada usia 6-9 bulan, 50% pada usia 9-12 bulan, dan hanya 30% setelah usia 1 tahun. “Bahkan setelah anak berusia 2 tahun, susu bukan lagi kebutuhan wajib,” tambahnya.

Meski susu memang mengandung nutrisi penting seperti protein hewani, kalsium, dan vitamin D yang mendukung pertumbuhan tinggi badan, dr. Ian menekankan bahwa itu bukan satu-satunya faktor. “Asupan makanan beragam jauh lebih penting untuk memastikan terpenuhinya semua nutrisi penting,” jelas dokter yang bertugas di Tzu Chi Hospital Jakarta ini.

Kata dia juga, nutrisi dari sumber lain seperti protein hewani, magnesium, dan lysine juga berperan krusial dalam pertumbuhan.

Selain makanan, pola tidur yang baik juga berkontribusi besar. “Tidur cukup dan tepat waktu, terutama di jam 11 malam hingga 2 dini hari, sangat penting karena di saat itulah hormon pertumbuhan diproduksi secara optimal,” jelas dr. Ian.

Aktivitas fisik juga tidak kalah penting. Ia menyarankan anak untuk aktif minimal 30 menit sebanyak dua kali dalam seminggu. “Olahraga seperti berenang dan aktivitas yang melibatkan lompatan sangat baik untuk pertumbuhan tinggi anak,” paparnya.

Lebih lanjut, dr. Ian mengingatkan bahwa kelebihan konsumsi susu bisa berdampak serius, seperti kelebihan kalori yang berujung pada obesitas serta gangguan penyerapan zat besi yang bisa menyebabkan anemia. “Susu bukanlah superfood tunggal. Konsumsi harus tetap dalam batas wajar,” tegasnya.

Terkait program makan bergizi gratis pemerintah, dr. Ian menyarankan agar fokus diberikan pada kelompok rentan, yaitu ibu hamil hingga anak usia prasekolah. “Perkembangan otak dan tubuh sangat pesat pada 1.000-2.000 hari pertama kehidupan. Jika ingin mencegah stunting secara efektif, intervensi nutrisi harus dimulai sedini mungkin,” ujarnya menutup pembicaraan.

Rekomendasi