Waspadai Terjadinya Hyper Parenting dari Orangtua pada Anak yang Bisa Berdampak pada Tumbuh Kembangnya

Orangtua memiliki pengaruh yang signifikan terhadap perkembangan anak. Ketahui tanda-tanda orangtua yang menerapkan pola asuh hyper parenting di sini!

Annisa Salma Putri
Oleh Annisa Salma Putri - Reporter
Waspadai Terjadinya Hyper Parenting dari Orangtua pada Anak yang Bisa Berdampak pada Tumbuh Kembangnya
Ilustrasi foto keluarga/Copyright Freepik/our_team (© 2025 Fimela.com)

Hyper Parenting adalah suatu bentuk pola asuh yang muncul dari obsesi orangtua untuk memastikan anak mereka mencapai kesuksesan dan kesejahteraan di masa depan. Keinginan orangtua agar anaknya berhasil di kemudian hari adalah hal yang wajar. Namun, jika obsesi tersebut berlebihan, dapat menimbulkan efek negatif bagi perkembangan anak.

Istilah hyper parenting sering kali disamakan dengan helikopter parenting, yang menggambarkan kondisi di mana orangtua melakukan kontrol, perlindungan, dan penyempurnaan terhadap anak secara berlebihan. Banyak orangtua yang tidak menyadari tindakan mereka ini, karena mereka melakukannya dengan dasar kasih sayang. Berikut ini adalah beberapa karakteristik yang dapat dikenali dari orangtua yang menerapkan pola asuh hyper parenting.

Meskipun terdengar tidak familiar, pola asuh yang dikenal sebagai hyper parenting banyak diterapkan oleh sejumlah orangtua. Kekhawatiran mereka terhadap masa depan anak yang sukses sering kali membuat anak merasa tertekan. Berikut ini adalah beberapa ciri dari pola asuh hyper parenting yang perlu Anda ketahui!

Mengatur Segala Hal Terkait Anak

Ciri pertama dari orangtua yang menerapkan hyper parenting adalah kecenderungan untuk mengatur semua aspek kehidupan anak. Ini mencakup segala hal mulai dari pilihan pakaian, kegiatan ekstrakurikuler yang diikuti, tempat les, hingga berbagai aktivitas yang berhubungan dengan perkembangan anak. Akibatnya, anak yang dibesarkan dalam pola asuh ini akan memiliki ruang gerak yang sangat terbatas dan cenderung tidak dapat mengekspresikan diri mereka secara bebas.

Selalu Mengkritik Anak

Mengoreksi kesalahan anak adalah tanggung jawab setiap orangtua. Namun, memberikan kritik terhadap pencapaian yang telah diraih anak adalah hal yang berbeda. Salah satu obsesi orangtua yang menerapkan pola asuh hyper parenting adalah fokus pada prestasi akademik anak. Tidak jarang, mereka akan langsung marah ketika anak mengalami kegagalan dalam bidang akademis. Terlalu banyak kritik dibandingkan dengan memberikan semangat untuk bangkit adalah salah satu ciri khas dari pola asuh hyper parenting.

Terlalu Mengkhawatirkan Anak

Kekhawatiran yang dimiliki orangtua adalah hal yang wajar. Namun, jika kekhawatiran itu berlebihan hingga melarang anak untuk mencoba berbagai hal, maka itu menunjukkan kurangnya kepercayaan pada anak. Pembatasan yang terlalu ketat terhadap hal-hal yang ingin dicoba anak dapat membuat mereka merasa tertekan. Jika anak merasa tertekan, mereka berpotensi untuk memberontak karena rasa ingin tahunya tidak terpenuhi.

Memaksakan Kehendak

Orangtua dengan tipe hyper parenting biasanya akan memaksakan kehendak mereka kepada anak. Obsesi terhadap kesuksesan masa depan anak membuat mereka sibuk menjadwalkan berbagai kegiatan, seperti les tambahan dan ekstrakurikuler di sekolah. Sering kali, orangtua terlalu terfokus pada ambisi mereka sehingga mengabaikan kondisi fisik dan mental anak.

Upaya untuk memastikan kesuksesan anak sejak usia dini adalah hal yang wajar. Namun, jika perhatian itu berubah menjadi obsesi, maka itu menjadi masalah tersendiri. Selain fokus pada prestasi, kesehatan mental dan fisik anak juga harus diperhatikan. Tidak perlu merasa cemas berlebihan; biarkan anak belajar dan bereksplorasi dengan bebas demi masa depan yang lebih cerah!

Rekomendasi