Benarkah Nasi Uduk Bisa Meningkatkan Kadar Kolesterol? Ketahui Fakta Sebenarnya

Cara dari dokter jantung dan ahli gizi mengenai santan, pilihan lauk, serta tips sehat untuk menikmati nasi uduk tanpa khawatir akan risiko kolesterol tinggi.

Aditya Eka Prawira
Oleh Aditya Eka Prawira - Reporter
Benarkah Nasi Uduk Bisa Meningkatkan Kadar Kolesterol? Ketahui Fakta Sebenarnya
Apakah nasi uduk dapat meningkatkan kolesterol? Temukan fakta menarik dari dokter dan ahli gizi, termasuk tips memilih santan, lauk pendamping, dan cara sehat menikmati nasi uduk tanpa risiko (© 2025 Liputan6.com)

Nasi uduk merupakan salah satu pilihan sarapan yang sangat populer di Indonesia. Hidangan ini dikenal dengan cita rasa gurih yang berasal dari santan, dan biasanya disajikan dengan berbagai lauk yang menggugah selera. Meskipun demikian, banyak orang lebih memilih lauk seperti gorengan ketimbang opsi yang lebih sehat seperti semur telur, tahu, atau tempe. Hal ini menimbulkan pertanyaan mengenai apakah nasi uduk dapat meningkatkan kolesterol, serta apakah aman bagi mereka yang memiliki masalah kolesterol untuk mengonsumsinya.

Menurut Muhammad Rizal SGZ MS, seorang ahli gizi dan nutritionist dari Cornell University, nasi uduk pada umumnya tidak mengandung kolesterol. "Santan yang digunakan dalam nasi uduk merupakan produk nabati, sehingga mengandung fitosterol, bukan kolesterol," jelas Rizal saat dihubungi oleh Health Liputan6.com. Namun, ia juga mengingatkan bahwa nasi uduk tidak dapat dikategorikan sebagai makanan yang 'anti kolesterol' karena kandungan lemak jenuh yang tinggi dalam santan. "Semakin kental santan yang digunakan, semakin tinggi pula kandungan lemak jenuhnya, yang dikaitkan dengan peningkatan LDL," tambahnya.

Untuk mengatasi hal ini, Rizal merekomendasikan agar menggunakan santan encer atau santan instan yang rendah lemak, serta mengurangi jumlah santan yang digunakan. Ia juga menyarankan untuk menambahkan sayuran seperti lalapan, timun, atau tomat. Pendapat serupa juga disampaikan oleh Desty Muzarofatus Sholikhah, S.K.M., M.Kes., seorang dosen di Universitas Negeri Surabaya. Ia menyatakan bahwa nasi uduk memang tidak mengandung kolesterol karena adanya fitosterol dari santan. Namun, Desty menekankan bahwa lauk yang biasanya menyertai nasi uduk cenderung digoreng, seperti ayam goreng, orek tempe, dan telur dadar, sementara sayurannya seringkali minim. "Untuk menjadikan nasi uduk sebagai sarapan yang sehat, tambahkan sayuran, perhatikan porsi, minum air putih, dan pilih lauk yang tidak banyak digoreng," kata Desty.

Ketahui Cara Memasak dan Mengolahnya dengan Baik

Apakah Nasi Uduk Bisa Meningkatkan Kolesterol? Fakta Mengejutkan dari Dokter Jantung dan Ahli Gizi
Apakah nasi uduk dapat meningkatkan kolesterol? Temukan fakta menarik dari dokter dan ahli gizi, termasuk tips memilih santan, lauk pendamping, dan cara sehat menikmati nasi uduk tanpa risiko © 2025 Liputan6.com

Lebih jauh, Dr. dr. Vito Anggarino Damay, SpJP (K), M.Kes, AIFO-K, seorang Dokter Spesialis Jantung dan Pembuluh Darah, menekankan pentingnya cara memasak dan pengolahan makanan. Ia menjelaskan, "Kolesterol dibutuhkan tubuh, tapi jika kadar LDL darah berlebihan, risiko serangan jantung meningkat," melalui video yang diunggah di akun Instagram pribadinya, @doktervito. Selain itu, dia juga mengingatkan agar kita menghindari konsumsi gorengan, terutama yang diolah menggunakan minyak bekas. "Minyak bekas mengandung radikal bebas yang memicu inflamasi dan mempercepat penumpukan plak kolesterol," ungkapnya. Dengan demikian, penting bagi kita untuk memperhatikan cara memasak agar kesehatan jantung tetap terjaga.

Dampak Negatif Penggunaan Minyak Berulang Kali

Apakah Nasi Uduk Bisa Meningkatkan Kolesterol? Fakta Mengejutkan dari Dokter Jantung dan Ahli Gizi
Apakah nasi uduk dapat meningkatkan kolesterol? Temukan fakta menarik dari dokter dan ahli gizi, termasuk tips memilih santan, lauk pendamping, dan cara sehat menikmati nasi uduk tanpa risiko © 2025 Liputan6.com

Vito menjelaskan bahwa kadar kolesterol yang tinggi dapat mengakibatkan penyempitan pembuluh darah, yang pada gilirannya meningkatkan kemungkinan terjadinya serangan jantung. "Kolesterol yang berlebihan itu bikin telak, bikin tembul darah menyempit, dan bikin risiko serangan jantung meningkat. Itu sudah jelas, banyak studinya," ungkapnya. Ia juga menekankan pentingnya menghindari kebiasaan buruk seperti mengonsumsi makanan yang digoreng, terutama jika minyak yang digunakan telah dipakai berkali-kali. Penggunaan minyak goreng bekas dapat memberikan dampak negatif bagi kesehatan.

1. Memicu Inflamasi di Tubuh

Minyak goreng bekas diketahui mengandung zat radikal bebas yang dapat menyebabkan peradangan pada jaringan tubuh, termasuk pada pembuluh darah. Peradangan ini merupakan faktor awal yang dapat memicu berbagai masalah kesehatan yang lebih serius. Dengan demikian, sangat penting untuk memperhatikan kualitas minyak yang digunakan dalam proses memasak agar kesehatan tetap terjaga.

2.Munculkan Lemak Teroksidasi

Penggunaan minyak bekas untuk menggoreng dapat menghasilkan lemak teroksidasi, yang berpotensi merusak sel-sel tubuh dan pembuluh darah. Akibatnya, risiko berbagai masalah kesehatan dapat meningkat secara signifikan.

3.Timbulkan Kerusakan pada Dinding Pembuluh Darah

Senyawa berbahaya yang terbentuk dari minyak bekas mampu memicu inflamasi serta kerusakan pada lapisan pembuluh darah. Hal ini meningkatkan kemungkinan terjadinya gangguan kardiovaskular, sehingga kesehatan jantung dan pembuluh darah dapat terancam.

4.Meningkatkan Akumulasi Plek Kolesterol

Kerusakan pada pembuluh darah yang disebabkan oleh inflamasi dan oksidasi memungkinkan kolesterol jahat (LDL) untuk menempel pada dinding pembuluh. Proses ini kemudian memicu terbentuknya plak yang dapat menghalangi aliran darah, sehingga mengganggu sirkulasi yang sehat.

5.Tingkatkan Risiko Serangan Jantung

Kombinasi antara peradangan, kerusakan pada pembuluh darah, dan penumpukan plak dapat secara signifikan meningkatkan kemungkinan terjadinya serangan jantung. Oleh karena itu, penting untuk menjaga pola makan yang sehat dan menghindari makanan yang dapat meningkatkan risiko tersebut.

"Sedapat mungkin hindari dampak dari makan makanan yang digoreng apalagi hingga minyak menghitam karena dipakai ulang," ujarnya. Dengan memperhatikan asupan makanan, kita dapat mengurangi risiko terkena serangan jantung dan menjaga kesehatan jantung kita.

Rekomendasi