Penuhi Harapan Jokowi Kurangi Impor Bahan Baku Obat, Fitofarmaka Bisa Jadi Solusi

Fitofarmaka digadang jadi solusi atasi ketergantungan impor bahan baku obat.

Zaki
Oleh Zaki - Reporter
Penuhi Harapan Jokowi Kurangi Impor Bahan Baku Obat, Fitofarmaka Bisa Jadi Solusi
Penuhi Harapan Jokowi Kurangi Impor Bahan Baku Obat, Fitofarmaka Bisa Jadi Solusi. ©2019 Merdeka.com

Indonesia dikenal sebagai negara yang kaya akan sumber daya alam. Termasuk di bidang farmasi, apabila ditelusuri secara lebih mendalam, ada banyak sekali produk obat lokal yang berkualitas dan telah memperoleh sertifikat Fitofarmaka. Bahkan karena punya khasiat yang sudah terbukti, ada beberapa produk diabetes yang telah diekspor ke beberapa pasar di Asia Tenggara misalnya Kamboja dan Filipina.

Melihat potensi dalam negeri yang seperti itu, tak heran bila lantas Presiden Joko Widodo mengharapkan agar impor bahan baku obat dapat diminimalisir sebaik mungkin.
Penyebabnya apabila hal tersebut tak bisa dibendung, devisa negara akan mengalami kehilangan dan berimbas pada sektor ekonomi di tanah air. Sebagai contoh di tahun 2012, Kementerian Perindustrian memperkirakan nilai impor bahan baku obat mencapai Rp 11,4 triliun. Jumlah tersebut naik sebesar 8,5 persen dibandingkan tahun sebelumnya.

Sebagai catatan, impor bahan baku obat sekarang ini berasal dari negara-negara seperti Tiongkok, India, dan beberapa dari kawasan Eropa. Negeri Tirai Bambu masih menjadi pemasok terbesar, yakni mencapai Rp 6,84 triliun, yang disusul India Rp 3,42 triliun, dan Eropa Rp 1,4 triliun.


Bila ditelaah lebih lanjut, tingginya nilai impor bahan baku obat diakibatkan oleh kurang kuatnya industry kimia dasar di Indonesia. Selain itu, kurangnya daya saing dan tingginya biaya pengembangan industri kimia pun juga merupakan faktor yang tak bisa dipandang sebelah mata. Kondisinya apabila industri kimia hanya mengandalkan pasar farmasi lokal, kebutuhannya masih terhitung relatif kecil yaitu sekitar 0,3 sampai 0,4 persen dari pasar farmasi dunia.

Kondisinya termasuk menyulitkan mengingat pasar ekspor telah sangat dikuasai oleh Tiongkok, India, dan beberapa negara di Eropa. Keadaan tersebut memantik produsen farmasi untuk melontarkan solusi brilian. Hal tersebut seperti diungkapkan oleh Executive Director Dexa Laboratories Biomolecular Sciences (DLBS) PT Dexa Medica, Dr. Raymond Tjandrawinata.

“Ketergantungan terhadap bahan baku obat impor itu dapat dikurangi melalui riset farmatologi. Riset ini menggunakan tanaman dan hewan sebagai obat, dengan memanfaatkan keragaman hayati yang menjadi warisan nenek moyang kita,” kata Raymond tentang ketergantungan impor bahan baku obat.

Sebuah riset pernah dilakukan oleh ilmuwan DLBS, mengangkat tentang penemuan obat diabetes yang memanfaatkan keragaman hayati Indonesia, yakni tanaman Lagerstroemia speciosa (bungur) dan Cinnamomum burmannii (kayu manis). Dilakukan sejak 2005, ternyata dua bahan tersebut memiliki fungsi luar biasa untuk menurunkan kadar glukosa darah dan mengurangi ketergantungan bahan baku Metformin.

Guna memastikan khasiat Inlacin tersebut, Dr. Raymond melakukan penelitian multicenter, yakni riset lebih lanjut yang dilakukan oleh para dokter ahli di dua pusat wilayah, yakni area pertama di Jakarta dan Bandung, sedangkan area kedua adalah Surabaya dan Indonesia Timur.

Fokus penelitian multicenter ini adalah terapi Inlacin, Metformin, dan kombinasi keduanya untuk pasien SOPK yang mengalami resistensi insulin. Adapun SOPK sendiri merupakan kelainan endokrin dan metabolik pada wanita usia reproduksi yang menjadi salah satu penyebab terbanyak dari kasus infertilitas. Tidak kurang dari 5-10 persen wanita usia reproduksi yang menderita SOPK di Indonesia.

Menurut Prof. dr. Andon Hestiantoro, Sp.OG (K) yang memimpin penelitian di wilayah Jakarta-Bandung yakni Rumah Sakit Cipto Mangunkusumo Jakarta dan RS dr. Hasan Sadikin Bandung, Inlacin sebagai obat dengan kandungan bahan tradisional yang mendapat sertifikasi Fitofarmaka dari BPOM.

“Pada penelitian ini, kami ingin membandingkannya dengan Metformin sebagai obat standar yang diresepkan bagi pasien SOPK dengan resistensi insulin. Tujuannya adalah bagaimana keamanan Inlacin untuk terapi pasien SOPK resistensi insulin, dibandingkan Metformin. Dan bagaimana manfaat klinik serta manfaat metabolik antara Inlacin dan Metformin,” urai Prof. Andon.

Penelitian dilakukan selama enam bulan dan diukur setiap bulannya pada 124 pasien SOPK yang terbagi menjadi dua dengan jumlah 62 orang pasien. Masing-masing diberikan Inlacin 100 mg sekali sehari dan Metformin 750 mg dua kali sehari. Profil pasiennya sendiri memiliki kesamaan baik berupa umur maupun berat badan.

Dari hasil penelitian ini diperoleh jika Inlacin dan Metformin XR signifikan memberikan perbaikan resistensi insulin dalam subyek SOPK dalam terapi 3 dan 6 bulan. Selain itu, Inlacin menunjukkan efek samping lebih rendah dibandingkan Metformin.

Hasil penelitian serupa juga diperoleh untuk wilayah Surabaya dan Indonesia Timur. Perbedaannya, dalam penelitian yang dipimpin oleh Prof. dr. Soehartono DS., SpOG dari RSUD dr. Soetomo Surabaya ini juga mengombinasikan terapi Inlacin dan Metformin.

Penelitian untuk pasien SOPK di Surabaya dan wilayah Indonesia bagian timur dilakukan di RSUD dr Soetomo Surabaya, RSUD dr Saiful Anwar Malang, RSUP Sanglah Bali, RSUP dr Karyadi Semarang, RSUP Wahidin Sudirohusodo Makassar, RSUD Ulin Banjarmasin, RSUD Prof. Dr. R.D. Kandou Manado kepada 186 pasien yang terbagi dalam tiga kelompok yakni untuk pasien SOPK dengan terapi Inlacin, Metformin, dan kombinasi Inlacin serta Metformin.

Hasil penelitian untuk wilayah ini, Metformin memberikan perbaikan resistensi insulin yang kuat pada tiga bulan pertama, dibandingkan Inlacin pada pasien SOPK. Sementara untuk pengobatan SOPK pada jangka panjang atau lebih dari 3 bulan menunjukkan bahwa kombinasi antara Inlacin dan Metformin memberikan efek terapi yang lebih maksimal.

“Inlacin memberikan tingkat kejadian efek samping yang lebih rendah dibandingkan Metformin. Sehingga Inlacin dapat menjadi alternatif pengobatan SOPK bagi subyek yang tidak toleran terhadap efek Metformin,” jelas Prof. dr. Soehartono.

Prof. DR. dr. Budi Wiweko, SpOG (K), MPH yang merupakan Guru Besar Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia pada simposium “Syndrome Ovarium Policistic” mengungkapkan ada tiga alasan pemilihan DLBS 3233 sebagai insulin sensitizer pada pasien SOPK.

“Yang pertama, hasil studi membuktikan tidak kalah efek klinis dan efek samping yang lebih sedikit. Yang kedua uji klinisnya dilakukan multicenter di Indonesia oleh para pakar, ada Prof. Soehartono dan Prof. Andon. Dan yang ketiga, obat ini asli Indonesia,” kata Prof. Budi.

Penggunaan Inlacin untuk pasien diabetes maupun SOPK akan membantu pemerintah mengurangi ketergantungan impor bahan baku obat. Terlebih menurut Dr. Raymond, volume penggunaan obat herbal dengan khasiat yang terjamin akan meningkat jika obat herbal tersebut masuk dalam formularium nasional yang dapat diresepkan kepada pasien peserta BPJS. Apabila hal tersebut terjadi, maka nilai tambah didapatkan dari hulu—yaitu petani penanam tumbuhan obat, sampai ke hilir—yaitu pasien yang diresepkan obat tersebut dan daya saing obat-obatan produksi dalam negeri akan meningkat.

Halaman
Rekomendasi