Banyak cara digunakan masyarakat untuk memperingati hari TB sedunia yang jatuh setiap tanggal 24 Maret. Salah satu cara kreatif untuk memperingati hati TB sedunia ini berhasil ditunjukkan oleh lembaga CEPAT dan LKNU yang bekerjasama dengan Hakuhodo Lotus di Oval Plaza Epicentrum Walk Kuningan, Jakarta pada 26 Maret kemarin.
Seperti press release yang diterima merdeka.com (28/3), ketiga pihak tersebut bekerjasama membuat pertunjukan seni bertajuk 'Stop Mata Rantai' yang ditujukan ke khalayak ramai dengan tujuan menyampaikan pesan terkait kasus TB baik di Indonesia maupun dunia dengan cara unik yang lain daripada yang lain.
Dalam acara 'Stop Mata Rantai tersebut', terdapat 5.000 keping blok persegi panjang yang disusun dalam tiga bentuk grafis yang memiliki makna tertentu di atas area seluas 90 meter persegi.
Bentuk pertama adalah 'spiral' yang berarti penyebaran. Spiral ini melambangkan proses penyebaran bakteri TB yang dengan mudah dapat menjangkiti siapa pun. Proses ini pun disebut akan berlangsung secara terus-menerus.
Untuk bentuk kedua dibuat menyerupai 'paru-paru'. Cairan tubuh yang membawa bakteri TB ternyata hanya berasal dari paru-paru penderita saja. Sedangkan air liur, air mata, napas, tidak menyebabkan orang lain tertular.
Sedangkan bentuk ketiga adalah penggambaran 'batuk' yang sering menjadi salah satu gejala seseorang terjangkit TB. Batuk berkelanjutan adalah salah satu sindrom yang menunjukkan bahwa seseorang mungkin saja mengidap TB. Batuk juga merupakan metode penyebaran yang paling umum terjadi.
Dalam acara Stop Mata Rantai ini blok terkecil yang menjadi pemicu efek berantai hanya setinggi 2,5cm. Sebuah simbolisasi bahwa sebuah penyebaran besar (blok terbesar berukuran tinggi 4m) bisa saja ditimbulkan oleh hal yang kecil/sederhana. Tetapi sayangnya hal sederhana tersebut sering dianggap sebelah mata oleh pengidap sampai akhirnya ketika sadar, seringkali semua sudah terlambat.
Penyusunan karya seni tersebut sendiri memakan waktu 20 jam, dikerjakan oleh 12 tenaga sukarela yang mayoritas terdiri dari mahasiswa/i. Di bagian akhir karya seni ini balok kayu mulai bereskalasi menjadi makin besar. Uniknya, balok terbesar tidak roboh layaknya balok-balok lainnya.
Balok terakhir akan bertahan berdiri karena ditahan oleh 'masyarakat'. Ini merupakan simbolisasi dari kehendak bersama dari setiap stakeholder kesehatan masyarakat untuk menghentikan penyebaran TB. Moment ini sendiri sekaligus menjadi puncak peringatan Hari Tuberkulosis yang diselenggarakan oleh CEPAT-LKNU.