Kemampuan berbicara merupakan salah satu tonggak perkembangan penting dalam kehidupan anak. Namun, tidak semua anak dapat berbicara sesuai dengan usia yang diharapkan. Keterlambatan bicara, atau yang sering disebut sebagai speech delay, dapat mengindikasikan adanya masalah yang lebih serius, salah satunya adalah gangguan pendengaran.
Dilansir dari Antara, menurut Ketua Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI) DKI Jakarta, Prof. Dr. dr. Rismala Dewi, SpA(K), anak yang terlambat bicara pada usia di atas satu tahun berpotensi mengalami gangguan pendengaran.Gangguan pendengaran sering kali tidak terdeteksi sejak dini. Prof. Rismala menjelaskan bahwa orang tua sering kali tidak menyadari gejala yang ada. "Memang kalau anak kan agak sulit. Biasanya dia itu tergantung dari orang tuanya, kadang-kadang orang tua itu kalau telinga secara pendengaran tidak terdeteksi, luput, karena mungkin yang dipentingkan adalah pertumbuhan-perkembangan," ujarnya dalam acara Pekan Bakti Sosial di RSUD Pasar Rebo, Jakarta.
Faktor penyebab keterlambatan bicara pada anak sangat beragam, dan gangguan pendengaran menjadi salah satu yang perlu diperhatikan. Menurut Prof. Rismala, kondisi kesehatan bayi setelah dilahirkan berpengaruh pada risiko gangguan pendengaran. Bayi-bayi dengan risiko kesehatan tinggi, seperti bayi prematur atau yang lama dirawat di rumah sakit, memiliki peluang lebih besar untuk mengalami masalah ini.
Advertisement
Deteksi dini gangguan pendengaran sangat penting untuk memaksimalkan perkembangan bicara anak. Prof. Rismala menekankan bahwa ibu yang hamil dengan infeksi berisiko tinggi melahirkan anak dengan gangguan pendengaran. "Ibu-ibu yang hamil dengan infeksi kemungkinan anak-anaknya salah satunya selain gangguan perkembangan mungkin pendengaran juga terganggu," jelasnya.
Orang tua perlu memahami pentingnya pemeriksaan pendengaran pada bayi. Ketua Perhimpunan Dokter Spesialis Telinga, Hidung, dan Tenggorok - Bedah Kepala dan Leher (PERHATI-KL) Cabang DKI Jakarta, Dr. dr. Tri Juda Airlangga, SpTHT-BKL, Subsp.K(K), merekomendasikan agar bayi diperiksakan ke dokter spesialis sebelum berusia satu bulan.
"Sebelum satu bulan sebaiknya sudah ter-skrining, tiga bulan sudah harus terdeteksi, enam bulan harus sudah tertata-laksana," ujarnya. Dengan penerapan program 1-3-6, penanganan gangguan pendengaran dapat dilakukan lebih awal.
Advertisement
Selain gangguan pendengaran, ada banyak faktor lain yang dapat menyebabkan keterlambatan bicara pada anak. Faktor biologis dan medis, seperti kelainan struktur rongga mulut atau gangguan perkembangan saraf, juga dapat berkontribusi. Selain itu, faktor lingkungan seperti kurangnya stimulasi bahasa, penggunaan 'bahasa bayi', dan terlalu banyak paparan layar juga berperan penting dalam perkembangan bicara anak.
Orang tua yang malas mengajak anak berbicara atau yang tidak sering membacakan buku cerita juga dapat menyebabkan keterlambatan dalam kemampuan berbicara. Prof. Rismala menekankan pentingnya penyuluhan untuk meningkatkan pengetahuan masyarakat mengenai gangguan pendengaran dan pentingnya deteksi dini. "Peran dari penyuluhan, peran media, itu penting juga untuk membantu kita untuk melakukan pemeriksaan pendengaran pada anak-anak," tambahnya.
Advertisement
Kesadaran orang tua mengenai tanda-tanda keterlambatan bicara sangat penting. Orang tua perlu memperhatikan kapan anak mulai mengucapkan kata pertama, seberapa banyak kosakata yang mereka miliki, dan bagaimana mereka menyusun kalimat. Jika anak menunjukkan tanda-tanda keterlambatan bicara yang signifikan, segera konsultasikan dengan dokter spesialis anak.
Keterlambatan bicara pada anak dapat disebabkan oleh berbagai faktor, dan gangguan pendengaran adalah salah satunya. Deteksi dini dan penanganan yang tepat sangat penting untuk mendukung perkembangan bicara anak. Dengan perhatian dan tindakan yang tepat dari orang tua, diharapkan anak dapat mengatasi keterlambatan bicara dan berkembang dengan baik.