Peneliti Temukan Jejak Awal Demensia Sudah Muncul di Masa Kanak-kanak

Penelitian terbaru ungkap akar demensia bisa dimulai sejak masa kanak-kanak, bukan hanya menyerang di usia lanjut.

Rahma Aisy
Oleh Rahma Aisy - Reporter
Peneliti Temukan Jejak Awal Demensia Sudah Muncul di Masa Kanak-kanak
Peneliti Temukan Jejak Awal Demensia Sudah Muncul di Masa Kanak-kanak (Merdeka.com)

Demensia selama ini dikenal sebagai penyakit yang menyerang usia lanjut, ditandai dengan penurunan fungsi kognitif yang progresif dan mengganggu aktivitas sehari-hari. Namun temuan terbaru dari para peneliti internasional mengguncang pandangan konvensional tersebut. Penelitian ini menunjukkan bahwa akar dari demensia dapat ditelusuri jauh ke masa kanak-kanak, bahkan sejak dalam kandungan. Temuan ini menjadi titik balik dalam upaya pencegahan demensia yang selama ini terlalu berfokus pada usia paruh baya.

Hingga saat ini, lebih dari 60 juta orang di seluruh dunia diperkirakan hidup dengan demensia. Penyakit ini menyebabkan lebih dari 1,5 juta kematian setiap tahun dan membebani sistem kesehatan global hingga US$1,3 triliun atau hampir Rp21 ribu triliun. Meski miliaran dolar telah diinvestasikan dalam riset ilmiah, demensia tetap menjadi penyakit tanpa obat. Maka tak heran, pendekatan preventif menjadi strategi yang kini terus digenjot oleh komunitas medis dan peneliti global.

Namun, kapan waktu yang tepat untuk mulai mencegah demensia? Selama ini, para ahli kesehatan menyarankan perubahan gaya hidup sehat dimulai sejak usia 40-an hingga 60-an tahun. Tetapi menurut hasil penelitian terbaru yang dipublikasikan oleh tim peneliti internasional dan dirangkum oleh ScienceAlert, pendekatan itu mungkin sudah terlambat. "Meskipun sebagian besar penelitian demensia fokus pada perubahan di usia lanjut, semakin banyak bukti menunjukkan bahwa banyak perbedaan dalam struktur dan fungsi otak yang terkait dengan demensia sudah ada sejak masa kanak-kanak," tulis para peneliti.

Demensia bukanlah takdir yang semata-mata ditentukan oleh usia atau genetik. Studi menunjukkan bahwa hingga 45 persen kasus demensia bisa dicegah dengan mengurangi paparan terhadap 14 faktor risiko yang dapat dimodifikasi. Faktor-faktor ini mencakup obesitas, tekanan darah tinggi, kurang olahraga, merokok, konsumsi alkohol, isolasi sosial, hingga gangguan pendengaran.

Yang mencengangkan, banyak dari faktor risiko ini muncul jauh lebih awal dari yang dibayangkan. Remaja dengan obesitas, misalnya, memiliki kemungkinan hingga 80 persen untuk tetap mengalami obesitas hingga dewasa. Hal serupa terjadi pada tekanan darah tinggi dan kurangnya aktivitas fisik. Bahkan, kebiasaan merokok dan konsumsi alkohol biasanya dimulai sejak masa remaja.

"Ini menimbulkan dua masalah besar bila kita baru mulai intervensi di usia paruh baya," tulis para peneliti. "Pertama, mengubah kebiasaan yang telah terbentuk sejak lama sangat sulit. Kedua, individu yang berisiko tinggi pada usia ini kemungkinan besar sudah terpapar efek buruk faktor-faktor risiko ini selama beberapa dekade."

Dengan kata lain, pendekatan yang benar-benar efektif bukanlah memperbaiki perilaku tidak sehat yang sudah tertanam, melainkan mencegah perilaku tersebut sejak awal. Dan “awal” yang dimaksud bisa jadi lebih awal dari yang pernah dibayangkan sebelumnya.

Peneliti menegaskan bahwa akar demensia bisa ditelusuri hingga dekade pertama kehidupan—bahkan sejak masa prenatal atau dalam kandungan. Otak manusia melalui tiga fase utama dalam hidup: masa perkembangan di awal kehidupan, masa stabil di usia dewasa, dan masa penurunan fungsi di usia tua. Sementara banyak riset terfokus pada fase penurunan, justru fase perkembangan awal inilah yang kini diyakini memainkan peran kunci dalam membentuk risiko demensia di kemudian hari.

Dalam studi jangka panjang yang melacak kemampuan kognitif seseorang sepanjang hidupnya, ditemukan bahwa salah satu prediktor paling kuat terhadap kemampuan kognitif di usia 70 tahun adalah kemampuan kognitif mereka saat berusia 11 tahun. Artinya, individu yang mengalami penurunan kognitif di usia lanjut sering kali telah menunjukkan kemampuan kognitif yang lebih rendah sejak masa kecil.

Temuan serupa juga muncul dari pencitraan otak (brain scan), di mana perubahan yang berkaitan dengan demensia ternyata lebih berkaitan dengan paparan risiko sejak usia dini dibandingkan dengan gaya hidup saat ini. Ini menegaskan bahwa pencegahan demensia seharusnya tidak lagi dipandang sebagai strategi jangka pendek untuk orang tua, melainkan sebagai proyek jangka panjang yang dimulai sejak anak-anak.

Jika akar demensia sudah tertanam sejak masa kanak-kanak, maka pencegahannya juga harus menjadi bagian dari perjalanan hidup seseorang secara menyeluruh. Namun bagaimana mewujudkannya dalam praktik nyata? Para peneliti mengakui bahwa ini bukan tantangan yang mudah. Tidak ada solusi instan atau pendekatan satu-untuk-semua yang bisa diterapkan secara universal.

Yang pasti, solusi bukanlah dengan memberikan pengobatan massal kepada anak-anak atau remaja. Sebaliknya, diperlukan pendekatan komprehensif yang melibatkan individu, komunitas, dan kebijakan publik. Dalam pernyataan konsensus yang ditandatangani oleh 34 peneliti terkemuka internasional di bidang demensia, mereka menyampaikan dua pesan utama.

Pertama, pengurangan risiko demensia secara bermakna hanya akan tercapai melalui pendekatan terkoordinasi yang mencakup lingkungan yang lebih sehat, pendidikan yang lebih baik, dan kebijakan publik yang cerdas. Kedua—dan ini yang paling penting—"Meskipun tidak pernah terlambat untuk mulai mengurangi risiko demensia, juga tidak pernah terlalu dini untuk memulainya."

Langkah-langkah seperti promosi nutrisi sehat sejak dini, program aktivitas fisik untuk anak-anak, akses terhadap pendidikan berkualitas, serta lingkungan keluarga yang mendukung kesehatan mental, semuanya memainkan peran penting. Ketika otak anak-anak tumbuh dan berkembang, fondasi bagi kesehatan otak jangka panjang sedang dibentuk. Intervensi kecil di usia dini dapat menghasilkan dampak besar di masa tua.

Temuan ini membawa pesan penting bagi masyarakat luas dan pembuat kebijakan. Selama ini, program-program pencegahan demensia terlalu berfokus pada lansia, padahal kerusakan otak bisa dimulai dari masa kecil. Strategi kesehatan masyarakat harus berani bergeser dari pendekatan reaktif menjadi proaktif, dengan menempatkan pencegahan demensia sebagai bagian dari agenda kesehatan anak dan remaja.

Ini juga memperkuat urgensi untuk menangani ketimpangan sosial dan ekonomi yang berkontribusi pada risiko demensia. Anak-anak dari latar belakang keluarga kurang mampu cenderung memiliki akses lebih rendah terhadap gizi seimbang, pendidikan, dan fasilitas kesehatan, sehingga lebih berisiko mengalami gangguan perkembangan otak sejak dini.

Dengan kata lain, perang melawan demensia tidak bisa hanya dilakukan di rumah sakit atau laboratorium. Ia harus dimulai di ruang kelas, taman bermain, dapur keluarga, dan ruang kebijakan publik.

Meningkatnya jumlah penderita demensia di seluruh dunia menuntut kita untuk berpikir ulang: apakah kita sudah cukup dini dalam melakukan pencegahan? Jawaban dari riset terkini jelas: belum. Demensia bukan hanya masalah lansia—ini adalah akumulasi dari pengalaman, gaya hidup, dan kesehatan otak sejak masa kecil.

Dengan pendekatan yang tepat, kita bisa menciptakan generasi yang lebih siap menghadapi penuaan, bukan hanya dengan harapan hidup yang panjang, tetapi juga dengan kualitas hidup yang tinggi. Karena mencegah demensia bukan hanya soal memperpanjang usia tanpa penyakit, tetapi memastikan setiap individu dapat menjalani hidup dengan penuh martabat, ingatan, dan kendali atas diri mereka sendiri—sejak awal hingga akhir.

Rekomendasi