Jantung adalah organ vital yang menjadi pusat kehidupan bagi manusia. Tugas utamanya adalah memompa darah yang mengandung oksigen dan nutrisi ke seluruh bagian tubuh.
Namun, jantung tidak berfungsi secara mandiri. Organ ini memiliki 'mitra' penting seperti ginjal, otak, dan paru-paru yang bekerja sama untuk menjaga keseimbangan fungsi tubuh. Jika terjadi gangguan pada jantung, dampaknya dapat berlanjut dan memengaruhi organ-organ lainnya.
Dalam rangka memperingati Hari Jantung Sedunia setiap 29 September, sangat penting untuk menyadari bahwa menjaga kesehatan jantung juga berarti melindungi organ-organ vital lainnya.
Gangguan pada jantung dapat langsung memengaruhi kinerja otak. Salah satu contohnya adalah kondisi aritmia atau gangguan irama jantung.
Seperti yang dikutip dari Antara, "Aritmia, khususnya atrial fibrillation (AF), sering kali tidak disadari pasien karena gejalanya ringan. Namun, gangguan ritme ini bisa memicu pembekuan darah di jantung yang berisiko menyumbat pembuluh darah di otak dan menyebabkan stroke," ungkap Prof. Dr. dr. Yoga Yuniadi, SpJP (K), FIHA, yang menjabat sebagai Dokter Spesialis Jantung dan Pembuluh Darah serta Kepala Staf Medis Fungsional Bidang Kardiologi di Siloam Hospitals TB Simatupang.
Advertisement
Perkembangan dalam penanganan aritmia semakin menunjukkan kemajuan yang signifikan. Inovasi teknologi seperti pulse field ablation (PFA) memungkinkan pengobatan gangguan ritme jantung dengan tingkat akurasi yang tinggi, tanpa merusak jaringan di sekitarnya.
Di samping itu, prosedur left atrial appendage closure juga telah menjadi alternatif untuk mencegah terjadinya stroke pada pasien dengan atrial fibrillation (AF) tanpa memerlukan operasi terbuka.
"Kami juga telah melakukan tindakan cardio neuro ablation (CNA) untuk pasien yang mengalami pingsan akibat aktivitas saraf vagus yang berlebihan. Ini menjadi yang pertama di Indonesia," ungkap Prof. Yoga.
Advertisement
Jantung dan ginjal memiliki hubungan yang saling memengaruhi dengan sangat kuat. Ketika fungsi jantung menurun, aliran darah yang menuju ginjal juga berkurang, menyebabkan organ tersebut kekurangan oksigen dan tidak dapat melakukan penyaringan limbah tubuh secara efisien. Sebaliknya, jika ginjal mengalami masalah, hal ini dapat menyebabkan peningkatan tekanan darah yang akan membebani kerja jantung.
"Kesehatan jantung dan ginjal saling memengaruhi. Pasien dengan penyakit ginjal kronis memiliki risiko tinggi mengalami gangguan jantung," ungkap Prof. Yoga.
Dia juga menambahkan bahwa dalam waktu dekat, layanan renal denervation akan diperkenalkan bagi pasien hipertensi yang sulit diatur meskipun telah mengonsumsi berbagai jenis obat.
Prosedur ini dirancang untuk menonaktifkan saraf tertentu di ginjal, sehingga dapat menurunkan tekanan darah tinggi secara berkelanjutan. Dengan adanya inovasi ini, diharapkan pasien dapat mengelola tekanan darah mereka dengan lebih baik dan mengurangi risiko komplikasi yang berkaitan dengan kesehatan jantung dan ginjal.
Advertisement
Hubungan antara jantung dan paru-paru memiliki peranan yang sangat krusial dalam sistem tubuh manusia. Paru-paru bertugas untuk menyediakan oksigen yang akan dialirkan oleh jantung ke seluruh bagian tubuh.
Apabila terjadi gangguan pada paru-paru, pasokan oksigen akan berkurang, dan jantung pun harus berusaha lebih keras untuk memenuhi kebutuhan tersebut. Situasi ini bisa menyebabkan masalah serius seperti hipertensi pulmonal, gagal jantung kanan, serta gangguan dalam sirkulasi oksigen.
Oleh karena itu, edukasi masyarakat mengenai hubungan antarorgan ini sangat penting untuk mencegah berbagai masalah kesehatan. Masyarakat perlu meningkatkan kesadaran akan pentingnya deteksi dini dan memahami faktor risiko seperti hipertensi, diabetes, obesitas, dan kebiasaan merokok yang dapat memengaruhi kesehatan jantung.
Prof. Yoga menekankan bahwa pendekatan yang multidisiplin sangat diperlukan dalam penanganan pasien yang mengalami masalah jantung.
"Penanganan penyakit jantung tidak bisa berdiri sendiri. Kolaborasi antara bidang kardiologi, neurologi, renal, dan endokrin diperlukan agar pasien mendapat terapi yang komprehensif," ujarnya.
Hal ini menunjukkan bahwa bukan hanya tenaga medis yang perlu mendapatkan edukasi, tetapi juga masyarakat luas harus dilibatkan dalam pemahaman ini. Informasi mengenai keterkaitan jantung dan organ lainnya dapat disebarkan melalui berbagai media, termasuk podcast dan platform digital, untuk menjangkau lebih banyak orang.