Kanker Tulang Belakang, Luis Enrique dan Xana: Kisah Mengharukan di Perayaan Final Liga Champions 2025
Enam tahun lalu, pada 2019, kehidupan Luis Enrique berubah selamanya. Putri bungsunya, Xana Martínez Cullell, didiagnosis menderita osteosarkoma.
Di bawah sorot lampu Allianz Arena, Munich, pada malam 31 Mei 2025, Paris Saint-Germain (PSG) mencatat sejarah dengan memenangkan Liga Champions pertama mereka, mengalahkan Inter Milan dengan skor telak 5-0. Namun, di balik gemerlap kemenangan ini, tersimpan kisah yang jauh lebih mendalam—kisah tentang cinta, kehilangan, dan ketahanan seorang ayah, Luis Enrique, yang mendedikasikan kemenangan ini untuk putri tercintanya, Xana, yang meninggal enam tahun sebelumnya karena serangan osteosarkoma.
Perjalanan Menuju Puncak
Luis Enrique, pelatih berusia 55 tahun asal Asturias, Spanyol, telah lama dikenal sebagai salah satu taktisi terbaik di dunia sepak bola. Sebelum membawa PSG ke kejayaan, ia pernah memimpin Barcelona meraih gelar Liga Champions pada 2015. Perjalanan PSG menuju final 2025 tidaklah mudah. Mereka melewati fase grup dengan performa yang naik-turun, tetapi di babak knockout, tim ini menunjukkan mentalitas juara. PSG mengalahkan Brest di babak play-off, Liverpool di perempat final, Aston Villa di semifinal, dan akhirnya Inter Milan di final UEFA Champions League.
Pertandingan final itu sendiri adalah pameran kekuatan dan keterampilan. Gol-gol dari Achraf Hakimi, Khvicha Kvaratskhelia, Senny Mayulu, dan brace dari Desire Doue memastikan kemenangan telak PSG. Namun, di tengah sorak sorai kemenangan, momen yang paling menyentuh hati terjadi di luar lapangan.
Tragedi yang Mengubah Hidup
Enam tahun sebelumnya, pada 2019, kehidupan Luis Enrique berubah selamanya. Putri bungsunya, Xana Martínez Cullell, didiagnosis menderita osteosarkoma, kanker tulang langka yang dapat memengaruhi tulang belakang. Pada usia sembilan tahun, Xana berjuang selama lima bulan sebelum akhirnya meninggal dunia pada 29 Agustus 2019. Kehilangan ini begitu menghancurkan sehingga Luis Enrique memilih untuk mengundurkan diri dari posisinya sebagai pelatih tim nasional Spanyol untuk fokus mendampingi keluarganya selama masa sulit tersebut.
Xana dikenal sebagai anak yang ceria dan penuh semangat. Ia sering menjadi bagian dari perayaan kemenangan Barcelona saat ayahnya masih melatih klub tersebut. Salah satu momen paling ikonik adalah ketika Xana, yang saat itu berusia lima tahun, berlari ke lapangan di Berlin untuk memasang bendera Barcelona bersama ayahnya setelah kemenangan Liga Champions 2015.
Penghormatan yang Menggetarkan
Saat peluit akhir pertandingan final 2025 berbunyi, para pendukung PSG mengibarkan tifo raksasa di tribun Allianz Arena. Tifo tersebut menggambarkan Luis Enrique dan Xana, mengenang momen mereka memasang bendera di lapangan pada 2015. Luis Enrique, yang mengenakan kaos hitam bergambar putrinya, tampak terharu. “Ini sangat emosional dengan spanduk dari fans untuk keluarga saya. Tapi saya selalu memikirkan putri saya,” katanya dalam konferensi pers pasca-pertandingan seperti dilansir dari The Guardian.
Kaos yang dikenakan Luis Enrique bukanlah kaos biasa. Gambar di kaos itu menampilkan dirinya dan Xana memegang bendera PSG, sebuah penghormatan pribadi yang menyentuh hati jutaan penonton di seluruh dunia. Momen ini menjadi pengingat bahwa di balik kemenangan olahraga, ada kisah manusia yang mendalam.
Fundacion Xana: Warisan Hidup Xana
Untuk menghormati kenangan Xana, Luis Enrique dan istrinya, Elena Cullell, mendirikan Fundacion Xana pada November 2023. Yayasan ini bertujuan untuk mendukung anak-anak dan remaja yang menderita penyakit serius serta keluarga mereka, dengan pendekatan holistik yang mencakup kesejahteraan fisik, emosional, dan sosial. Salah satu proyek utama yayasan adalah Paviliun Kemenangan, sebuah inisiatif bersama Yayasan Villavecchia, di mana Luis Enrique berperan sebagai duta.
Pada 2025, Fundacion Xana menjadi mitra penerima manfaat dalam Cursa El Corte Ingles ke-45, sebuah acara lari populer di Barcelona yang diadakan pada 11 Mei 2025. “Kami sangat terhormat menjadi mitra solidaritas dari Cursa El Corte Ingles yang legendaris. Kami sangat bersemangat untuk menjalani hari yang kami yakin akan menjadi ajaib,” kata perwakilan yayasan seperti dikutip dari Marca. Kegiatan seperti ini menunjukkan bagaimana keluarga Luis Enrique mengubah kesedihan mereka menjadi tindakan positif yang membantu banyak orang.
Makna di Balik Kemenangan
Kemenangan PSG pada 2025 bukan hanya tentang trofi, tetapi juga tentang bagaimana Luis Enrique mengatasi penderitaan pribadi untuk mencapai keberhasilan profesional. “Xana selalu ada di hati saya. Dia adalah bintang yang memandu keluarga kami,” ungkapnya dalam sebuah wawancara dengan reporter ESPN. ia menambahkan, “Saya tidak perlu memenangkan pertandingan atau Liga Champions untuk memikirkan putri saya. Saya memikirkannya setiap hari”.
Luis Enrique juga berbagi pandangan positifnya tentang kehilangan Xana. Dalam sebuah dokumenter, ia berkata, “Apakah saya merasa beruntung atau tidak beruntung? Saya merasa sangat beruntung. Putri saya hidup bersama kami selama sembilan tahun yang luar biasa. Kami memiliki ribuan kenangan tentangnya, video, hal-hal luar biasa”. Sikap ini mencerminkan ketahanannya dalam menghadapi tragedi.
Dampak pada Komunitas Sepak Bola
Reaksi penggemar PSG terhadap Luis Enrique dan Xana menunjukkan solidaritas yang luar biasa. Tifo yang ditampilkan di final tidak hanya menghormati Xana, tetapi juga mengingatkan dunia akan sisi manusiawi dari olahraga.
Tifo tersebut juga mengirimkan getaran emosional di seluruh Allianz Arena dan membuat jutaan penonton di seluruh dunia terdiam sejenak. Komunitas sepak bola, baik di Eropa maupun Indonesia, merespons dengan penuh empati.
Di akhir malam itu, saat Luis Enrique mengangkat trofi Liga Champions, dia tidak hanya merayakan kemenangan olahraga, tetapi juga kemenangan atas kesedihan dan kehilangan. Xana mungkin tidak lagi ada secara fisik, tetapi rohnya hidup dalam setiap tindakan baik yang dilakukan atas namanya, dan dalam setiap pencapaian yang diraih oleh ayahnya.
“Dia adalah alasan saya terus maju. Dia mengajari saya tentang kekuatan dan keberanian, dan saya berusaha untuk menghormati ingatannya setiap hari.” ungkap Luis Enrique dengan penuh haru seperti dikutip dari Bola.net.
Kisah Luis Enrique dan Xana adalah pengingat bahwa di balik setiap trofi, ada cerita manusia yang penuh makna. Melalui Fundacion Xana, warisan Xana terus memberikan harapan bagi keluarga yang menghadapi tantangan serupa, menjadikan kemenangan ini bukan hanya milik PSG, tetapi juga milik hati yang penuh cinta dan ketahanan.