Ngompol sering kali dianggap sebagai masalah kecil yang dihadapi anak-anak. Banyak orang tua menghubungkannya dengan kebiasaan tidur, pola konsumsi cairan, atau bahkan kurangnya motivasi anak untuk bangun di malam hari.
Namun, ada informasi mengejutkan dari pihak medis yang menunjukkan bahwa ngompol yang muncul kembali setelah anak berhenti bisa menjadi tanda awal diabetes mellitus tipe 1, seperti yang diungkapkan oleh dokter spesialis anak subspesialis endokrinologi dan Kepala Program Kemitraan Global Changing Diabetes in Children (CDiC) Indonesia, Prof Aman Bhakti Pulungan.
Banyak orang tua beranggapan bahwa ngompol hanyalah fase perkembangan yang normal bagi anak. Namun, menurut Aman, kondisi ini seharusnya tidak diabaikan, terutama jika anak sebelumnya sudah mampu mengontrol buang air kecil. Kebiasaan ngompol yang telah lama hilang kemudian muncul kembali bisa menjadi gejala diabetes tipe 1.
"Yang tadinya tidak ngompol, dia ngompol lagi. Yang terpikir pertama kali harus adalah diabetes. Nah ini yang harusnya memang kita komunikasikan. Jadi bahwa memang diabetes bisa pada anak," jelasnya.
Selain itu, ia juga menjelaskan bahwa gejala klasik seperti sering buang air kecil, peningkatan nafsu makan, peningkatan rasa haus, dan penurunan berat badan yang signifikan merupakan ciri dari penyakit diabetes tipe 1.
Advertisement
Aman menekankan pentingnya kewaspadaan terhadap gejala yang terlihat sepele. Sering kali, tanda-tanda ini tidak dikenali karena tampaknya merupakan masalah kecil, sehingga anak-anak yang menderita diabetes tipe 1 sering terlambat mendapatkan perawatan yang diperlukan.
"Nah ada tipsnya apa? Ketika kita dapati anak, banyak makan, banyak minum, banyak kencing. Berat badan turun drastis, kayak pasien di Kupang itu. Terus yang tadinya tidak ngompol, ngompol lagi. Apalagi anak mulai loyo, yang pertama harus dipikirkan adalah diabetes," ujar Aman dalam acara Small Group Media Interview CDiC Diabetes Camp, pada Rabu, 10 September 2025.
Ketidakpahaman orangtua dalam mengidentifikasi tanda-tanda ini sering kali menyebabkan banyak anak datang ke rumah sakit dalam keadaan yang sudah parah. Hal ini mengakibatkan mereka baru mendapatkan diagnosis setelah mengalami komplikasi yang lebih serius.
Oleh karena itu, sangat penting bagi orangtua untuk lebih peka terhadap perubahan perilaku dan kondisi fisik anak agar bisa segera melakukan tindakan yang tepat.
Advertisement
Penyakit diabetes tipe 1 ternyata memiliki kompleksitas yang lebih besar dari yang diperkirakan. Di Indonesia, banyak anak yang mengalami kesalahan diagnosis karena gejala yang ditunjukkan mirip dengan penyakit lainnya.
"Ketidak-aware-an kita ini bukan hanya masyarakat, bahkan tenaga kesehatan telat melihat ini. Jadi datang itu bisa dianggap asma, bisa dianggap appendix atau usus buntu. Kalau sakit perut bisa dianggap pneumonia," jelasnya.
Aman juga menambahkan bahwa diabetes tipe 1 pernah disangka sebagai penyakit usus buntu, yang berujung pada tindakan operasi terhadap pasien. Hal ini tidak hanya membahayakan keselamatan pasien, tetapi juga menghambat penanganan yang seharusnya diberikan segera.
"Pernah ada kejadian di salah satu Rumah Sakit tipe A, sekarang gak kejadian lagi. Sampai dioperasi usus buntu, ternyata diabetik tipe 1," ujarnya.
Selain itu, ia mencatat bahwa sekitar 70 persen dari pasien diabetes tipe 1 yang ditanganinya terlambat terdiagnosis.
Mereka umumnya datang dalam kondisi parah yang dikenal sebagai ketoasidosis diabetik (KAD). Penanganan yang terlambat ini dapat berakibat fatal, sehingga penting untuk meningkatkan kesadaran mengenai gejala diabetes tipe 1 agar diagnosis dapat dilakukan lebih cepat dan akurat.
Advertisement
Aman menegaskan bahwa diabetes tipe 1 tidak disebabkan oleh faktor keturunan, melainkan merupakan penyakit autoimun.
"Kalau dikatakan keturunan, banyak sekali pasien kita yang 2.000 lebih itu orangtuanya tidak DM (Diabetes Mellitus) 1, jadi pola diturunkannya itu berbeda," ungkapnya.
Hal ini menunjukkan bahwa meskipun ada kasus diabetes dalam keluarga, tidak semua individu yang memiliki orangtua tanpa riwayat diabetes tipe 1 akan mengalaminya.
Lebih lanjut, Aman menjelaskan bahwa risiko genetik lebih tinggi pada diabetes tipe 2, namun pola penurunannya berbeda dibandingkan dengan diabetes tipe 1. Penyakit ini disebabkan oleh proses autoimun, di mana sistem kekebalan tubuh menyerang sel-sel penghasil insulin.
"Karena dia autoimun, proses autoimun inilah yang menyebabkan terjadinya (diabetes tipe 1). Kenapa dia bisa? Salah satu infeksi virus pada saat pandemi COVID-19, diabetes kita meningkat. Virus-virus ini juga bisa mencetuskan pada diabetes," jelas Aman.
Penjelasan ini memberikan pemahaman bahwa faktor lingkungan, seperti infeksi virus, juga berperan dalam perkembangan diabetes tipe 1.