Jadikan raja sebagai budak

Karena alasan ini, Abu Nawas ingin menunjukkan sengsaranya menjadi orang miskin yang tidak jauh dari praktek perbudakan.

Redaksi Merdeka
Oleh Redaksi Merdeka - Reporter
Jadikan raja sebagai budak
Ilustrasi Abu Nawas. ©2012 Merdeka.com

Bagaimana rasanya menjadi pemimpin? Sebagian dari anda pasti mengatakan sangat menyenangkan, jauh dari pekerjaan yang menguras keringat, hidup dalam kenyamanan, bahkan tidak jarang pemimpin tidak mengetahui pasti kondisi masyarakatnya. Karena alasan inilah, Abu Nawas sastrawan besar Dinasti Abasiyah, ingin menunjukkan sengsaranya menjadi orang miskin yang tidak jauh dari praktek perbudakan.Ketika suatu waktu menghadap Sultan Harun al Rasyid al Abassi, Abu Nawas bercerita bahwa di luar Istana ada benda ajaib, sesuatu yang sangat menarik yang belum pernah diketahui sultan. Begitu semangatnya Abu Nawas meyakinkan sang sultan, hingga akhirnya disepakati untuk melakukan perjalanan menuju ke tempat yang diceritakan. Namun dengan syarat, Sultan Harun tidak mengenakan pakaian kebesaran kerajaan. Sebagai gantinya sultan harus menyamar dengan menggunakan pakaian layaknya rakyat biasa. Tujuannya supaya tidak menarik perhatian, sehingga membuat orang ikut melihat benda ajaib itu.Kecerdikan Abu Nawas berbuah manis, akhirnya sang sultan menyetujui persyaratan itu. Sampai akhirnya tiba pada waktu yang ditentukan.Kedua pria beda strata ini, dengan santai melewati kerumunan orang-orang yang beraktivitas. Ada yang berdagang, bekerja sebagai buruh, dan pegawai kerajaan. Tidak ada keganjilan yang ditemui, semua penduduk terlihat menikmati hidup di bawah pemerintahan sang sultan.Setelah beberapa saat keluar dari kerumunan, Abu Nawas dan Sultan Harun tiba di suatu hutan yang masih dalam wilayah kerajaan. Di bawah pohon yang rindang, Abu Nawas meminta kepada sultan untuk menunggunya sambil berjanji membawakan benda ajaib yang diceritakan. Setelah itu Abu Nawas pergi meninggalkan sultan.Bukannya mengambil benda ajaib yang dimaksud, Abu Nawas justru bertemu dengan salah seorang keturunan Badui arab yang sehari-hari berprofesi jual beli budak. Setelah melakukan negosiasi yang cukup alot, akhirnya orang Badui itu memberikan beberapa keping emas. Ternyata Abu Nawas menjual Sultan Harun.Tidak menunggu waktu lama, sang Badui segera menghampiri sang sultan yang tidak mengetahui kalau pria itu adalah pemimpinnya karena menyamar. "Aku adalah tuanmu sekarang," kata Badui sambil menunjukkan surat kuasa tertanda Abu Nawas.Mendapat perlakuan kasar dari orang Badui, sang sultan pun marah. Namun kemarahan sultan yang menyamar itu tidak digubris. Orang Badui kemudian menyeret sultan hingga ke halaman belakang rumahnya. Sesampainya di halaman belakang, terlihat tumpukan potongan kayu yang tidak terhitung jumlahnya."Ayo kerjakan, belah kayu-kayu itu," perintah orang Badui. Namun melihat cara sultan membelah kayu membuatnya merasa aneh.Karena tidak pernah melakukan pekerjaan kasar dan berat, Sultan Harun mengayunkan parangnya dengan posisi terbalik. Alhasil kayu tidak kunjung terbelah karena menggunakan bagian yang tumpul dari parang.Bahkan ketika Sultan Harun berusaha membelah kayu dengan posisi parang yang benar, kayu juga tidak kunjung terbelah. Hal ini karena sultan tidak terbiasa dengan pekerjaan budak.Akhirnya orang Badui naik pitam dan memarahi sang sultan. Terus menerus dimarahi, membuat Sultan Harun habis kesabaran. "Hai Badui aku ini rajamu Sultan Harun Al Rasyid," kata sultan dengan wajah marah sambil menunjukkan tanda kerajaan yang disembunyikan di balik baju lusuhnya.Begitu mengetahui yang diperlakukan kasar adalah sang sultan, orang Badui langsung bersujud dan meminta beribu ampun kepada Sultan Harun. Karena tidak bersalah, akhirnya orang Badui diampuni oleh sultan.Sambil berjalan pulang menuju istana, Sultan Harun merenungi perbuatan Abu Nawas kepada dirinya. Ternyata di balik kemegahan istananya, praktik perbudakan masih terjadi di setiap sudut wilayahnya. Namun di sisi lain sebagai manusia bisa, Sultan Harun begitu marah kepada Abu Nawas.

Rekomendasi